
Rindiana Syafara Adhitama. Begitulah nama yang tersemat bagi seorang gadis energik yang baru saja menginjakkan kakinya di bandara S. Ini hari bahagia bagi orang terspesial. Itulah alasannya pulang kali ini. Setahun tiga kali pulang sudah dilakoni gadis ini selama tiga tahun terakhir.
Gadis berkaca mata hitam besar itupun menyibakkan rambutnya yang tergerai indah. Rambut dengan warna blond memantul lembut seirama gerakan kepala. Manja nan mempesona. Bibir bak delima merekah itupun tersenyum lembut, menampakkan isi hati pemiliknya.
Rindi memilih dress motif floral dengan warna lembut berbahan chiffon membuat dirinya terlihat lebih anggun dan feminim. Lalu di padukan dengan simple white heels.
Rindi berpenampilan cantik layaknya gadis feminim. Tentu saja, dia sampai membayar guru privat untuk merubah penampilannya. Alasannya apa? Hanya dia sendiri yang tahu. Gaya tomboy telah hilang dirinya sejak satu tahun lalu. Dimana dia telah memantapkan hati akan mengejar cinta sejati setelah menyelesaikan pendidikan.
"Aku sudah sampai. Kamu ada dimana?" Mengedarkan pandangan sambil tetap memegang erat benda pipih di telinga.
Sebuah motor sport berdecit tepat di hadapannya. Tanpa membuka helm Rindi sudah tahu siapa dia.
"Kau terlambat lima menit" komentar Rindi. Bukannya naik, justru dia berdecih kembali. Melihat ujung drês yang dia kenakan. "Apa kau bercanda?"
Pria itu terkekeh setelah membuka helm ful face miliknya. "Aku lupa jika cewek sepertimu bisa juga memakai rok."
"Wooiii...dres, Bung!"
"Terserah. Ayo naik!" Rindi jadi gengsi sendiri. Bagaimana dia bisa naik, dresnya pasti akan berkibar diterpa angin. Lalu apa kabar bagian dari tubuhnya nanti. Dan kopernya, mau taruh dimana.
"Kamu niat apa nggak sih, Za!" Omel Rindi lagi. Tentu saja dia enggan naik. Repot dong pastinya.
Koper ditaruhlah pada Tanki depan Faza. Sedikit kesusahan memang. Namun Faza tetap memaksa bisa. Dia salah ambil kendaraan. Dipikirannya hanya ingin cepat sampai agar tidak diomeli. Eh, malah kini dia repot sendiri.
"Faza. Kamu keterlaluan!" Ketus Rindi merapikan dres yang diterpa angin. Dia mulai naik.
Belum sampai Rindi duduk dengan benar, tubuhnya melayang ke udara.
"Haiii...!"
Tubuh Rindi mendarat ke dalam mobil yang bagian atapnya terbuka. Rindi mengenal bau parfum pria yang tengah memakaikan seatbelt untuknya. Wajah tampan dengan aroma permen mintz.
"Kau...!"
Brak
Pria itu menghempaskan benda yang dia rebut dari Faza. "Thank you!" Ucapnya tanpa suara yang diangguki oleh Faza.
"Mike, kau...!"
"Mike!"
__ADS_1
Flashback
Mike pergi ke bengkel Faza guna servis rutin mobil miliknya. Dan kebetulan disana ada Faza yang tengah menerima telpon.
Wajah pemuda berusia 21 tahun itupun nampak kurang bersemangat.
"Ada masalah?"
"Masalahnya, wanitamu itu selalu saja merepotkan. Mana aku ada janji sama klien penting."
"Bawa aku kepadanya!" Ucap Mike antusias.
"Dia akan lebih marah."
"Bukankah perjanjian nya hanya berlaku tiga tahun. Kurasa ini waktunya."
Faza menggidikkan bahu acuh. Namun dalam hati mengatakan Mike bukan orang yang sabaran.
"Aku serius."
"Buktikan jika memang kau pria."
Itu artinya Faza sudah tak lagi menghalangi keinginan Mike. Sejauh yang Faza rasakan bukan cinta. Namun kenyamanan sebagai seorang sahabat. Faza bukannya tidak berusaha, namun semakin bersama Rindi Faza semakin yakin akan hal itu. Terlebih dirinya telah menemukan satu sosok perempuan tambatan hatinya.
Ingat akan perjanjian tiga tahun lalu. Dimana keduanya akan sama-sama menjauh dari kehidupan Rindi. Hanya menyapa lewat sosial media tanpa bertemu secara langsung dalam arti janjian. Namun nyatanya, Rindi kadang tanpa sengaja ketemu Faza ketika datang kerumah Vino.
"Jika mau kau pasti sudah menangis darah." Faza kembali tersenyum. Dia menyambar kunci motor kesayangannya kemudian pergi. Mike setengah gelagapan mengikuti arah kemana Faza pergi.
Hingga keduanya berada di sini.
"Semoga berhasil, Bung!" Faza tersenyum. Pandangannya mengantarkan mobil yang ditumpangi dua orang tadi hingga menghilang di keramaian jalan.
"Kau...berani sekali menemuiku!" Ketus Rindi.
"Kau sangat cantik dengan gaun itu." balas Mike disertai kerlingan nakal. Rindi semakin kesal saja. Ingin hati berduaan dengan Faza tapi berakhir bersama Mike. Dan parahnya lagi, Rindi tak melihat adanya usaha Faza untuk mempertahankan dirinya.
Faza kerap kali mengalah jika Mike mencoba mendekati dirinya. Tapi saat berduaan seakan Rindi merasakan kasih sayang Faza. Bahkan Faza begitu marah jika Rindi dilecehkan oleh pria lain. Kadang juga Faza seakan perhatian penuh terhadapnya. Menguatkan Rindi saat lemah atau terpuruk. Rindi berpikir semua itu bentuk perlindungan Faza terhadapnya. Berharap cinta tersemat disela-sela perhatian yang Faza berikan.
Jika ada waktu mereka kerap kali bertemu. Dalam hati Rindi bahagia ketika momen itu terjadi. Seperti di novel romansa bercerita bahwa takdir lakon cinta telah menemui jodohnya dalam pertemuan tanpa sengaja. Tapi apa? Saat ini Rindi belum juga menemukan cinta Faza untuknya.
'Sekian lama bersama apakah sedikit saja tidak ada rasa untukku, Za. Sedikit saja. Atau aku yang terlalu baper?'
__ADS_1
"Rindi...!"
Gadis itu pura-pura tak mendengar. Dia lelah hati juga tubuhnya. Perlahan menutup mata, merasakan angin menampar wajah.
~
~
Rindi terlelap di dalam mobil Mike. Tak menyia-nyiakan kesempatan Mike menghentikan mobil di ketepian aur pantai. Hamparan laut menghantarkan sang surya tenggelam ke peraduan. Camar berlalu lalang menuju sarang digantikan oleh burung malam.
"Kita dimana?" Rindi bingung dengan suasana sekitar. Bukankah dia ingin pulang? Kenapa malah diajak ke tempat asing? Oh, dia baru sadar jika Mike tak tahu dia hendak pulang kemana. Tadikan dia ketiduran.
"Lihatlah! Senja telah menyapa."
Rindi terpukau oleh keindahan warna langit keemasan. Namun juga terkejut saat kakinya hampir saja tergelincir masuk ke tebing lautan luas untung saja Mike sigap menarik tubuhnya. Pemandangan memukau nampak dari tempatnya berdiri.
"Mike, kenapa kita kemari?"
Sepi tidak ada siapapun hanya dia dan Mike di sana.
"Melihat senja bersamamu." Mike menatapnya intens. Rindi memangkas tatapannya dengan beralih ke laut lepas. Warna keemasan bercampur jingga lebih indah dari sebelumnya.
"Mike!" Lirih Rindi. Dia ingin sekali mencoba memahami perasaan Mike. Ingin sekali melupakan Faza agar bisa menerima Mike. Tapi kepribadian Mike yang Cassanova menghalangi semua itu. Upaya Mike yang tak pernah bosan mengejar cinta darinya membuat Rindi lambat laun membuat hatinya terguncang.
"Mike, Aku...!"
"Tidak apa-apa, Rindi! Kamu pasti sulit menerima masa laluku. Aku bukan orang baik. Tradisi kita beda. Aku hidup bebas di negeri sana sedangkan kamu...! Tentu menginginkan pria baik-baik. Pria yang tak pernah bergonta-ganti pasangan. Pria yang tangannya tidak berlumuran darah seperti diriku."
"Mike!" Suara Rindi semakin lemah. Rindi hanya tak mengerti. Kenapa begitu sulit menerima cinta yang lain. Cinta yang benar-benar hanya untuknya.
"Rindi. Aku sangat mencintaimu. Seperti mentari yang tak pernah meninggalkan bumi. Aku mencintaimu tanpa henti." Mike memegang jemari Rindi kemudian menggenggamnya erat.
"Mike!"
Cinta yang begitu besar jelas terlihat dari binar mata Mike. Tapi kenapa Rindi sulit untuk membuka hatinya?
"Rindi, aku sudah tidak sanggup menahan perasaan ini lebih lama lagi. Aku akan pergi. Tenggelam bersama samudra. Seperti senja yang berpisah dengan cara yang indah. Aku takkan lagi mengejarmu."
Mike melepas genggamannya kemudian meloncat disapu oleh deburan ombak.
"Tidak Mike!"
__ADS_1
"Mike!"
Bersambung.....