Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Ke kantor


__ADS_3

Dengan perasaan dongkol ketiga orang itupun duduk kembali. Vino beberapa kali menggerakkan kaki dan juga badannya. Begitupun Arjun yang terlihat kurang bersemangat. Sedangkan anak manja yang berubah menjadi anak sholeh itu diam saja sambil memainkan ponselnya.


Acara demi acara akhirnya selesai juga. "Hai para pemuda penjaga pintu, saya permisi dulu, mau pulang," pria berjenggot itupun setengah membungkuk melewati mereka.


"Dia kira kita ini satpam apa?" sungut Vino yang tentu saja tidak akan didengar oleh pria berjenggot itu.


Setelah dirasa tamunya mulai berkurang, Vino segera bangkit dari tempat duduk untuk bisa masuk ke dalam rumah.


"Lihatlah, Sayang! saudaraku tidak ada yang sayang ataupun peduli kepadaku," sepertinya drama baru akan dimulai.


"Darimana saja, Kalian?" Raya menatap Vino dan Faza penuh selidik.


"Pengajian lah, Ma! acara aqiqah-nya anak seorang wanita paling cantik sejagat raya. Emang nama tidak tahu, Kami duduk di depan pintu berjam-jam demi untuk bisa mengantri masuk kemari agar bisa bertemu dengan saudara Kami yang paling cantik," Vanka tiba-tiba menghangat sebab mendapat julukan 'Cantik," Faza mengkode Vino untuk menimpali ucapan Faza.


"Iya, Ma. Kita bertiga tadi di depan, kok. Kita juga ikut merayakan aqiqoh ponakan Kami yang paling ganteng," Vanka seketika melotot.


"Kamu memang Tiger kurang ajar. Anakku perempuan. Kamu ingin anakku tumbuh jadi tomboy," Faza menepuk jidatnya sendiri.


"Mas, sepertinya kepintaranmu tidak berfungsi jika menyangkut urusan keluarga. Kau hanya pintar soal kantor dan bisnis saja," bisik Faza pada Vino dia jadi sebal sendiri.


"Mas Vino cuma bercanda kok, Kak. Dia masih terharu karena sudah menjadi paman," cengir Faza. "Sudahlah, Kak. Kak Vanka semakin bersinar setelah melahirkan. Aku yakin duda beranak satu yang di depan komplek itu semakin tergila-gila sama Kakak," Faza mengedipkan mata sebelah. Tapi kayaknya Vanka mendadak mendung.


"Jadi, Kau pikir aku akan tersanjung dan tersipu akan gombalanmu itu," dicubitnya pinggang Faza.


"Sakit, Kak," mengelus yang dicubit.


"Syukurin, makannya kalau doain tuh yang bener. Luh, doain gua disukai sama duda, terus suami gua bakal tidak suka gitu," sensitif banget ibu melahirkan.


"Iya!"


"Apa?"


"Disukai juga sama Mas Riki."


"Basi!"


"Sak karepmu lah, Ndut!"


"Faza ... !"


Yang lain hanya geleng-geleng kepala sebab kelakuan Faza dan Vanka. Sedangkan Vino yang sedang mencari seseorang diantara mereka belum juga menemukan.


"Eits, mau kemana?" Riki menarik tangan istrinya. "Ingat, jangan ceroboh!" Vanka memang sering melupakan jika dirinya sedang sakit.


"Apa Kau tidak merasakan jika tubuhmu kurang sehat atau apa? hah. Kau ini. Harusnya banyak istirahat bukannya malah menuruti usilnya Si Faza itu," omel Riki, bukan apa-apa, tapi Riki memang begitu mengkhawatirkan istrinya itu.


"Iya, Vanka, Kau harus bisa jaga dirimu baik-baik. Apalagi, Kamu dalam masa pemulihan."

__ADS_1


"Iya, papa setuju dengan ucapan suami dan mamamu. Atau kalau perlu, kita sewa seseorang untuk mengawasi dirimu agar tidak ceroboh."


"Nggak, nggak aku akan mulai berhati-hati mulai sekarang." Ketiga orang itupun tersenyum.


"Kak, dimana Eyang?" tanya Vino setelah semua diam.


"Lha, memang Kamu tidak bertemu dengannya tadi?"


"Eyang sudah pulang lewat pintu samping!" ucap Riki memberitahu adik ipar dan juga mamanya.


"Owh, ya sudah! mama sama papa juga mau pulang dahulu. Besok-besok mama kesini lagi nengok si baby." pamit Raya dan Mareno kemudian.


"Tiger, Luh nginep sini apa mau pulang?" tegur Vanka. Membuat Vino berdecih. "Luh, baiknya pulang saja deh. Sebel gua lihat muka, Luh. Kesini pakai acara terlambat, nggak bawa kado lagi."


Ini omelan apa permintaan seh. Heran deh punya kakak perhitungan banget. batin Vino.


"Nginep saja, Par! kita begadang nanti, oke! Kamu juga Jun begadang sekalian kita nonton bola sambil Melekan bayi."


"Kok, par?"


"Iya, ipar, jadinya "par", Gitu."


Melekan bayi, adalah istilah menjaga bayi di malam hari. Para orang tua menyebutnya melekan bayi. Sebab menjaga bayi yang jika di malam hari lebih sering terbangun.


"Asal ada wiski okelah setuju gua," tentu saja Vanka melayangkan pukulannya ke kepala Vino.


"Eh, ini rumah bukan bar," ketus Vinka. Ingin sekali melahap adiknya itu kalau bisa.


"Kok saya," Arjun menunjuk ke wajah sendiri.


"Iya, maksud gua, siapa yang bayar, Luh nantinya kalau gua gegar otak."


"Dah, Sono pulang semuanya. Mau tidur gua." usir Vanka. Dasar tuan rumah nggak ada akhlak.


🌻



🌻


"Bos kusut amat mukanya," Arjun mengantar berkas yang berisi proposal dari Madam Maria.


"Gua masih kepikiran sama pemilik suara itu," Vino menghela nafasnya. Apakah dia harus bercerita kepada Arjun bahwa Vino menduga yang memiliki suara itu adalah Sana. Tapi saat Vino ingin memastikan, ternyata Sana sudah pulang bersama Eyangnya.


"Apakah perlu kita cari lewat cctv rumah nona Vinka, Bos?"


"Sudahlah tidak perlu. Kau kembali saja bekerja. Setelah makan siang, kita pergi ke kantor Papa," titah Vino kemudian.

__ADS_1


💐🌳🌹


Dikediaman Madam.


"Sana, apakah Aku sudah siap? kita akan pergi ke kantor Mareno. Di sanalah Kau akan menjalani pemotretan kali ini. Aku berharap Kau sudah menguasai materi yang diajarkan oleh Saras kemarin," Maria kini berada di kamar Sana.


Maria memperhatikan barang yang sebuah barang yang berbentuk kotak.


"Itu apa Sana?" tanya Mariam menunjuk barang yang hampir saja Sana masukkan ke dalam tas.


"Ini Al-Qur'an, kenang-kenangan dari ayah." Sana mengangkat barang itu.


"Untuk apa, Kamu bawa itu?"


"Sebagai penguat, dan juga teman," jawab Sana singkat.


"Maksudnya?"


"Ini adalah pemberian Ayah, Ayah yang selalu menguatkan dan menjaga diriku semasa hidupnya. Dengan membawa ini, aku jadi merasa bahwa Ayah selalu menyertaiku. Dan ini juga sebagai sahabat sebagaimana yang Ayah katakan bahwa ada sebuah hadits yang mengatakan:


“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya”. (HR. Muslim, No.1337)


"Subhanallah, Kamu memang gadis yang sholehah, bacaan Alquran Kamu juga bagus. Kapan-kapan Eyang diajari bacaan yang kayak gitu, ya," pinta Eyang.


"Eyang, saya belum merasa sholehah, saya masih belum betah jika berhijab. Entahlah, saya belum merasa pantas memakai hijab," Sana terlihat murung.


"Sudahlah, sama kayak Eyang meski beruban juga belum pede memakai hijab. Nanti kalau memang kita sudah mantap saja kita memakainya." Sana hanya mengangguk lemah sambil tersenyum.


"Sudah ayo berangkat. Saras sudah menunggu kita sejak tadi," Sana memaki tas punggung miliknya. Kemudian mengikuti gerak kaki Maria.


Di bawah, Saras sudah menunggu dengan sebuah map ditangan kirinya. Dan sebuah tas jinjing di tangan kanannya.


"Ayo, kita berangkat sekarang," Maria mengambil tas jinjing dari tangan Saras. Kemudian memimpin jalan.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, Maria sampai di kantor anaknya. Kantor diberi nama DS dari singkatan Dua saudara adalah kantor yang didirikan oleh Graham dan Mareno. Usaha mereka rintis sejak nol, yang memilih bekerja di bidang Advertising.


Kini Sana, Maria dan Saras telah sampai di depan gedung milik Mareno.


"Wah, besar banget kantornya, Madam!" Maria dan Saras hanya tersenyum menanggapinya. Mereka meninggalkan Sana yang masih takjub akan keindahan kantor.


"Kak Saras, tungguin dong," Sana kalang kabut sebab Saras dan Maria sudah mencapai pintu utama gedung.


Sana setengah berlari mengejar mereka berdua.


"Bughhh."


"Makannya, kalau jalan pakai mata,"

__ADS_1


**Bersambung....


Ah, siapa seh galak banget**...


__ADS_2