Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Makan


__ADS_3

"Kayaknya makan makanan yang berkuah seperti soto enak deh."


Chiiit. mobil berhenti mendadak.


"Hai ... !"


Vino dengan segera melepas seatbelt dan turun dari mobilnya. Sana belum paham kenapa Vino tiba-tiba turun.


"Kenapa Vin?" Sana heran dengan sikap Vino yang celingukan seakan-akan mencari sesuatu.


"Nggak apa-apa, aku pikir tadi ada kucing lewat. Ternyata nggak apa-apa tuh, dia ke sana," tunjuk Vino pada seekor kucing di belakang mobilnya.


"Eh, pas banget kita berada di depan rumah makan. Makan di sini saja, yuk," ajak Sana sambil menarik tangan Vino. Vino melirik tangan mereka yang bertaut.


Kenapa rasa ini begitu nyaman? Rasa ini, tidak pernah aku rasakan kepada siapapun. Bahkan Sima. Perasaan apakah ini?


"Ah, maaf, Vino." Ada rasa kecewa saat Sana segera melepas genggaman tangan mereka berdua. Biar begitu, dia tetap tersenyum menanggapi ucapan Sana.


"Tidak apa-apa, dipegang terus juga boleh." Entah belajar darimana mulutnya itu pandai sekali berkata manis saat bersama Sana.


Sana tidak menggubris ucapan Vino, sebab dia sendiri sibuk menetralkan debar jantungnya yang tiba-tiba berubah bertalu-talu.


Apakah aku sekarang memiliki penyakit jantung, ya! di sini kenapa detaknya semakin kencang saja. Batin Sana masih memegang dadanya.


"Hai, kenapa bengong saja. Mau pesan apa?" Vino menyerahkan menu makanan yang berada di depannya.


"Aku mau ikan nila sambal matah, sayur bening dan nasi putih. Juga minumannya jus jeruk." Sana antusias sekali memesan makanan. Kini pandangan pelayan itu beralih kepada Vino.


"Aku samakan saja dengan punya kamu," ucap Vino sambil mematikan ponselnya.


Beberapa menit kemudian makanan pun datang.


"Hai, makannya pelan-pelan, nggak bakal ada yang merebutnya," kata Vino sambil memperhatikan cara makan Sana yang tidak ada rasa canggungnya sama sekali. Beda sekali dengan cewek yang biasa Vino temui. Mereka akan bertingkah sok malu-malu dengan porsi yang lebih sedikit.


"Kamu nih lapar apa doyan?" celetuk Vino.


"Laper banget, tadi pagi gua cuma makan roti isi," ucap Sana yang apa adanya.


"Nggak takut gendut makan segitu banyak?" selidik Vino. Tapi sepertinya Sana sudah memiliki bentuk tubuh yang pas. Tidak terlalu kurus, juga tidak gemuk.


"Kenapa memangnya kalau gendut? Apa kau tidak tahu kata pepatah?"


"Apa?"


"Orang bahagia susah kurusnya," Vino seketika tersedak sebab tertawa. Entah darimana gadis itu mendapatkan kata ajaib seperti itu. Vino membayangkan jika kalimat itu diucapkan oleh Vinka tentu lebih pas.


"Makannya kalau makan jangan sambil ketawa." Sana menyodorkan minuman kepada Vino.

__ADS_1


"Dari mana kamu dapat kalimat seperti itu?"


"Ya, dari pemikiranku lah, kenapa? Benarkan? Biasanya orang yang gendut itu sebab tidak memiliki beban hidup yang berarti. Jadi hidupnya selalu bahagia. Dia makan enak, tidur nyenyak. Alhasil jadilah dia gendut." Sana masih meneruskan makan.


"Berarti kamu menyimpulkan bahwa orang yang kurus itu kurang bahagia?" Sana menghentikan aksi makannya.


"Mungkin!" ucap Sana asal.


"Kamu sendiri, termasuk yang mana?" Vino menatap manik mata Sana.


"Aku, emmh, nggak tahu. Tapi menurutku, aku termasuk orang yang kurus deh," ucap Sana.


"Bararti kamu termasuk yang kurang bahagia hemm! kamu tenang saja aku akan membahagiakan dirimu suatu saat nanti," ucap Vino yang diikuti oleh kedipan matanya genit.


"Kenapa mata kamu? Kelilipan?" ucap Sana berlagak sok polos.


"Hai, kamu makin lama makin ngeselin ya," ucap Vino sambil mencubit hidung Sana. Maksud hati ingin menggoda malah ditanggapi dengan pertanyaan konyol seperti itu.


"Eh ini benda keramat kenapa di tarik-tarik seh kalau pengen bilang." Vino semakin terkekeh sebab hidung Sana yang memerah karenanya menjadi kembang kempis.


"Ih cemberut, jangan cemberut nanti cantiknya hilang."


"Nanti aku cari kalau hilang."


"Emang bisa?" Vino tergelak


"jiahahaha," Entah kenapa rasanya begitu nyaman saat berada di dekat Sana. batin Vino.


Jarang sekali aku melihatmu tertawa wahai tuan Levino, ternyata jika kamu tertawa seperti ini, kau begitu tampan dan menggemaskan. Apa? Tampan? Menggemaskan? owh tidak sepertinya aku mulai gila. Batin Sana.


Dia segera membuang pikirannya yang sudah terkontaminasi dengan raut wajah Vino yang hari ini terlihat berbeda di matanya.


🌸🌸🌸


Di tempat yang lain.


Dua wanita cantik nampak asyik mengobrol sambil menikmati acara makan siang mereka juga.


"Ayolah Sima, beri aku sebuah pekerjaan di kantor papamu. Atau di manapun itu, yang terpenting aku tidak pengangguran lagi. Aku juga tidak mungkin pulang kerumah sebab permasalahan yang terjadi antara aku dan orang tuaku," ucap salah satunya memelas sambil menunjukkan wajah kusutnya.


"Bukankah dirimu sudah enak bisa bekerja di perusahaan papa Mareno?" Sima masih bergaya sok dekat dengan keluarga mantan tunangannya itu.


"Aku dikeluarkan dari sana." Sima menyemburkan jus naga yang berada di mulutnya.


"Bagaimana bisa?" Pasalnya, teman yang berada dihadapannya itu adalah tipikal orang yang pekerja keras dan rajin.


"Biasa saja kali," ucap Mita sambil melemparkan tatapan kesal.

__ADS_1


"Yah, secara kamu mengapa tiba-tiba bisa dikeluarkan? Memangnya kesalahan apa yang kamu lakukan?"


"Bukan hal yang besar seh, hanya saja tadi, aku menjambak rambut seorang perempuan. Lalu Vino datang menolong gadis itu." jawab Mita.


"Vino yang memecat kamu?" Mita mengangguk.


"Lalu, siapa gadis yang kamu jambak itu? Kenapa kamu bisa menjambak dia? memang apa yang dia lakukan terhadapmu?"


"Kalau nanya satu-satu." Kesal Mita. Mita pun menceritakan kejadian mulai awal dirinya ditabrak oleh Sana hingga kekerasan yang dia lakukan kepada gadis itu.


"Sima, bujukin Vino agar dia mau menerima aku bekerja lagi di sana." rengek Mita yang hanya mendapat tatapan dingin dari Sima. Mita belum tahu jika hubungan keduanya terputus sebab Sima yang dengan berani berselingkuh di belakang Vino.


"Maaf Mita, tapi sepertinya hal itu sekarang tidak mungkin," ucap Sima apa adanya.


"Why?"


"Kami sudah berpisah beberapa bulan lalu."


"Bagaimana bisa?" Mata Mita membola seketika. Dia hanya tahu bahwa Vino terlihat begitu mencintai Sima dan begitupula sebaliknya.


"Tunggu-tunggu apa semua ini gara-gara kehadiran perempuan itu?" Sima belum mengerti siapa yang dimaksud oleh Mita. Tapi akal licik Sima tersenyum seolah mendapatkan ide cemerlang agar nama baiknya tetap aman terjaga di mata temannya ini.


"Yah, begitulah nasib kita yang memiliki pasangan yang tajir dan tampan, banyak sekali cobaannya."


"Kamu yang sabar ya, Sima. Aku yakin kau bisa melewati ini semua." Hibur Mita sambil mengusap tangan Sima yang berada di meja.


"Terima kasih, Mit! Kau memang sahabat yang baik." Keduanya saling melemparkan senyum.


Maafkan aku Mita, seharusnya aku jujur saja kepadamu. Tapi aku belum bisa. Aku masih ingin Vino. Ya, aku masih ingin Vino kembali kepada diriku bagaimanapun caranya.


***Bersambung....


...Selamat menjalankan ibadah puasa yang terakhir. Mohon maaf lahir dan batin. Bila ada khilaf yang di sengaja author maupun tidak, baik dari segi penulisan, ataupun saat balas komen....


...Terima kasih...


...jangan lupa...


...like...


...Komen...


...Share...


...rate5...


...hadiah juga ye***...

__ADS_1


__ADS_2