Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Bayaran


__ADS_3

Angin malam mulai menusuk kulit bersama lambaian dedaunan yang kian bergerak tak beraturan. Sepertinya malam akan terasa sangat panjang. Seorang pria duduk di balkon dengan sangat gelisah.


"Kau belum juga tidur, Nak?" tepukan di bahu membuat netra coklat itu berkedip setelah terbuka sekian lama, bahkan tubuh itu berlonjak. "Apa yang tengah kau pikirkan, Nak?"


Bukannya menjawab, malah memeluk pinggang perempuan yang begitu berharga baginya, lalu menyandarkan kepalanya di perut sang ibu.


"Apakah cinta memang serumit ini, Ma!" Hanya terdengar nafas yang begitu berat. Seperti sebuah beban tengah menghimpit dada.


"Vino!" mengelus dengan lembut juga sayang, sesekali mencium puncak kepala anaknya, lalu berakhir dengan tarikan dagu, bersamaan itupun dagu keras itu terangkat. "Jangan menyerah sebelum kamu merasa benar-benar sudah berusaha."


Vino mendongakkan kepalanya, menatap wajah teduh yang menenangkan jiwanya. Senyum penuh kelembutan telah membuat semangatnya terpacu kembali.


"Yang membuat kita kuat adalah doa. Yang membuat kita dewasa adalah masalah. Yang membuat kita maju adalah usaha keras. Baru begini saja kamu sudah lemah tak bertenaga. Mana Vino Mama yang kuat, Vino yang selalu pantang menyerah dalam segala tantangan hidupnya. Hemmh."


"Vino tidak mengerti, Ma! Kenapa selalu ada masalah dalam percintaan Vino."


"Sayang, setiap hidup pasti akan dipenuhi oleh masalah, sebab itu adalah pelajaran hidup yang akan membawamu menjadi orang yang bijaksana. Menjadikan kamu semakin dewasa dan bisa menganyomi istri serta anak-anak kamu kelak."


"Tapi Vino takut kejadian itu terulang kembali Ma!"


"Mama yakin, Sima dan Sana adalah dua sosok yang bertolak belakang. Maafkan mama yang tidak jujur kepadamu, Nak!" Raya mengeratkan mengusap lembut bahu anaknya, kemudian beralih mengusap rambut, Vino menikmati setiap kasih sayang yang ibunya berikan.


"Apa yang Mama maksud?"


"Mama tidak bisa membantu apapun untukmu, meski mama adalah mertua dari calon pamanmu, tapi untuk yang satu ini mama tidak bisa ikut campur. Mama cukup memahami dan menghargai keputusan Riki, pasti dia memiliki pertimbangan yang serius sehingga tidak merestui hubunganmu dengan Sana." Vino hanya mengangguk. "Berusahalah yang lebih keras lagi, kau sangat tahu bagaimana kepribadian Riki, bukan? Dia akan selalu berhati-hati dalam memutuskan sesuatu. Apalagi hal yang sangat serius dan sensitif."


"Iya Ma, aku tahu. Aku juga menyadari, bahwa hubungan ini bisa berdampak pada keluarga besar kita."


Raya mengusap puncak rambut anaknya lalu menciuminya dengan sayang. "Kau sama seperti Papamu." Raya mengusap air matanya yang hampir terjatuh.


"Mama belum move on?" goda Vino dengan tengilnya. Mendapat cubitan dari sang Mama.


"Hai, jangan katakan seperti itu. Aku sudah mendapatkan pengganti tahu." pura-pura cemberut.

__ADS_1


"Iya, lebih muda dan lebih tampan lagi."


"Ishh kau ini, jadi anak nggak ada sopan-sopannya." melotot tapi bibirnya tersenyum.


"Tapi benarkan?" Raya hanya tersipu malu. Keduanya pun terdiam dalam beberapa lama. Hingga beberapa menit berlalu, seseorang menghubungi ponsel Vino dan mengatakan sesuatu.


"Ma, sepertinya aku harus pergi. Ada masalah yang secepat mungkin harus aku selesaikan."


"Apakah ini mengenai Sana?" Vino hanya mengangguk, tanpa menjelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya.


"Pergilah, selesaikan apa yang seharusnya sudah selesai. Jika cinta memang berpihak kepadamu, maka Tuhan pun akan merestuinya." Vino memandang wajah Raya dengan begitu lekat. Belaian halus seorang ibu mengalir ke darahnya seakan menjadi senjata dengan kekuatan tanpa tanding.


"Terimakasih Mama." Mencium tangan dengan penuh hormat, lalu beralih di kedua pipi dengan sayang. Vino akhirnya pergi.


"Semoga kau bisa menyelesaikan semuanya, Nak!"


Vino setengah berlari menuruni tangga, saat seorang lelaki yang lebih muda darinya baru saja hendak melangkahkan kaki keluar pintu. "Keputusan yang tepat." Senyum lebar terlukis dari sudut bibir.


✓✓✓


"Anda sudah bangun Nona?" sebuah suara membuat Sana berjengit kaget.


"Si_siapa kamu?" Setidaknya Sana masih bersyukur, sebab dia masih mengenakan baju yang sama dengan utuh, juga yang datang adalah seorang wanita. Tapi sepertinya Sana lupa memperhatikan bahwa wanita itu mengenakan seragam asisten rumah tangga.


"Perkenalkan nama saya Lala, saya yang akan memenuhi semua kebutuhan Nona selama berada di tempat ini." ujar gadis bernama Lala itu dengan senyum yang mengembang.


"Dimana Rindi?"


"Silahkan bersantap malam Nona, Anda bisa menemui Nona Rindi besok pagi." Setelah mengucapkan hal itu, Lala keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun.


Sana yang penasaran akan tempat yang baru saja dipijaknya menapakkan kaki ke lantai. "Sedikit dingin" begitulah pikirnya. Pertama kali yang dia tuju adalah pintu, dia memutar gagangnya dan ternyata dikunci. Sial! Kini Sana bagaikan tawanan. Atau gadis yang tengah diculik? Owh tidak! Sana melirik makanan yang tertata rapi di atas nampan. Lupa sudah jika kamar yang dia tempati memiliki fasilitas mewah dan luas.


"Sepertinya enak!" menjilat bibirnya sendiri bersamaan dengan perutnya yang berdemo untuk minta segera diisi.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau ada racunnya?" mulai gamang dan meletakkan kembali sendok yang mulai dia angkat. Namun hatinya goyah akan daya tarik sajian lezat yang tertata rapi di hadapannya.


"Enak juga!" Lupa jika tadi berpikir buruk tentang makanan yang dia curigai.


"Setelah ini sholat ah! Setidaknya kalau aku keracunan dan mati, masih dalam keadaan bertaubat." gumam Sana sambil tersenyum bangga. Hadehhhh. Dasar Sana.


"Aku tidak menyangka, ternyata tawanan sepertiku mendapat jatah makanan selezat ini!" Masih dengan mulut mengunyah, kini tinggal suapan terakhir. "Aku seperti tidak asing dengan cita rasa makanan ini." Sana meletakkan nampan pada meja di depan sofa tempatnya duduk.


"Masih dikunci!" Sana cemberut karena kesal. "Apakah aku benar-benar diculik?" mulai memikirkan nasib yang kini tengah dia alami.


"Sebaiknya aku sholat dahulu!" Sana berkeliling dan baru sadar akan keindahan kamar yang dia tempati. Pandangannya tertuju pada tirai balkon yang berkibar tertiup angin. Lupakan kalau mau sholat.


"Indahnya!" tanpa sadar Sana menyukai kamar barunya. Dia melihat ke bawah, hanya ada deretan pohon yang terjajar rapi dalam lampu malam yang bersinar bagaikan taburan bintang di langit. Sudah puas, akhirnya dia kembali dan ingat akan tugas utamanya. Sana mulai mencari apa yang dia butuhkan, dan ternyata semuanya sudah berada di kamar itu.


"Tadi tidak ada barang-barang ini di sini?" Sudahlah, tidak perlu ambil pusing Sana, sebaiknya kau lakukan tugasmu. Pikirnya.


✓✓✓


Di ruang sebelah, dua sosok manusia berbeda genre tengah duduk berdua dengan mesranya, bahkan kedatangan seorang gadis yang terlihat kesal pun tidak mereka hiraukan.


"Kenapa kalian tega menusukku dari belakang hah! Bukankah kita sudah membuat kesepakatan sebelumnya. Tapi kalian telah menghancurkan semuanya." Duduk dihadapan kedua orang itu dengan cemberut. Dan kedua orang itu hanya saling melemparkan senyum.


"Terima kasih atas bantuannya, Sayang!" ucap salah satu dari mereka yang berprofesi sebagai ibu.


"Telat! Aku mau bayaran!"


"Katakan berapa?"


Gadis itu tersenyum penuh arti.


"Seharga masa kuliah di Canada selama tiga tahun."


**Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih untuk semuanya. Untuk dukungan dan support nya. Maafkan Author yang jarang up sebab tugas pribadi yang tidak bisa ditinggalkan.


Jangan lupa sajennya ya**..


__ADS_2