
"Kau tidak menanyakan kabar Indra?" Kevin langsung mendapat tampolan dari Random juga pelototan tajam dari Arjun. Vino hanya berdecih sebal. Diantara semua penerus Bravo, Indra lah yang secara tidak langsung, sering membuat masalah dengan Vino.
"Kenapa dengan kalian?" jawab Vino santai. Mereka semua melongo dan saling sikut.
Arjun yang sepertinya sudah bisa menebak arti ucapan Vino pun hanya tersenyum tipis, yang lainnya semakin penasaran, terlebih Vino biasanya sensitif sekali bila ada yang menyebut nama Indra. Semua orang tentu tahu, kesalahan Indra begitu fatal.
"Vino, kau baik-baik saja?" dengan bodohnya Kevin bertanya.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sakit?" Semua saling memandang satu dan lainnya kecuali Arjun dan Vino. Tapi kemudian semua orang bernafas lega.
"Kau sudah melupakan masalah itu, Vino." ucap Renald.
"Belum!" Renald menatap para sahabat dan juga saudara jauhnya itu saling melempar tatapan. Ada rasa penasaran yang tinggi dari sorot mata mereka.
"Lalu, kau tidak marah saat kami menyebut nama Indra, aku pikir kau sudah melupakan kejadian itu," ucap Renald sekali lagi.
"Aku tidak lupa, tapi aku sudah tidak peduli."
Ronald yang berada paling dekat, menepuk pundak Vino.
"Vino, baguslah jika kau mengerti, mungkin cara Indra menunjukkan kepadamu jika Sima bukanlah orang yang pantas untukmu itu keliru. Tapi kau harus tahu, dibalik sifat badboy nya, dia begitu peduli padamu." Vino tersenyum menanggapi
"Apakah sebab model baru itu?" Random sampai mencondongkan tubuhnya. Adakah berita baru yang dia lewatkan? Itulah yang dia tangkap dari cara Vino bicara.
Vino tersenyum penuh arti dia mengingat wajah Sana yang cantik tanpa poles, menatap para pria yang tengah menatap heran akan perubahan wajah Vino yang mengandung sesuatu.
"Vino, apakah kau jatuh cinta kepada gadis itu? Siapa namanya? Sana, ah iya!"
"Apa kalian juga mengenalnya?"
Vino bodoh atau apa sih? Bukankah Sana menjadi brand ambassador parfum milik Madam?
"Sana ...! Sana siapa?" Mereka menoleh serempak. Nampak Mike masuk dengan gaya coolnya. Mereka menghampiri para teman-teman dan saling merangkul.
"Kau sudah datang Mike? Bagaimana perjalananmu?" Sapa Kevin ramah, yang sudah merasa terwakili.
"Si Cassanova kita sudah datang we ... !" Renald terkekeh.
"Hai Vino bagaimana kabarmu?" Memeluk Vino sejenak.
"Yah, seperti yang kau lihat!"
__ADS_1
"Dia punya jabatan baru sekarang," celetuk Random. Vino hanya mendesah pelan. Mike tampak belum mengerti, menatap Kevin dengan penuh tanya.
"Vino sekarang menjadi model produk limited Madam Komisaris." Senyum ejekan muncul dari sudut bibir Mike.
"Sampai ketawa aku akan buat kau makanan herder," Vino menatap dingin semua orang.
"Oke, tapi kenapa alasannya?. Maksudku apa alasan kau mau menjadi model parfum?"
"Mungkin terperdaya cinta!"
"Kalian tidak ada pembahasan lain?" Vino mulai jengah.
"Ayolah Vino, selama ini kau tidak pernah muncul di layar selain menerima penghargaan. Tapi sepertinya kali ini kau biarkan wajahmu menjadi konsumsi publik. Ada apa sebenarnya?"
Vino menatap Arjun sekilas, yang ditatap hanya menahan nafas, merasa tidak berhak menjawab pertanyaan para jomblo penasaran itu.
"Random sudah bilangkan tadi?" Membuat semua orang saling menatap. Random seakan lupa apa yang dia ucapkan mendadak kepalanya pusing. Dan Vino memantapkan hati akan mengatakan rasa di hati untuk Sana. Tidak peduli akan janji yang dia buat kepada Riki.
"Please Vino, jangan muter-muter gini. Aku bilang apa tadi?" Memegang keningnya sejenak lalu "Terpedaya cinta," keliatan banget pura pura lupa. Dasar Random.
"Makannya nanti pas acara launching aku ingin kerja sama kalian." Vino tersenyum begitu bahagia.
"Arjun, terangkan kepada mereka."
"Sekarang, Bos? Acaranya kan masih satu bulan lagi?" goda Arjun.
"Mau mati, Luh?" Arjun hanya tersenyum menanggapi ancaman bosnya.
"Cepat katakan! Apa yang harus kami lakukan nanti," ucap Random tidak sabar. Sebab beberapa kali ponselnya bergetar sebab panggilan dari kekasihnya. Dia sudah berjanji untuk menghabiskan malam ini bersama di sebuah hotel.
"Random, jika kau ingin pergi, pergilah!" Random menanggapi serius ucapan Vino, dia langsung berdiri.
"Arjun, batalkan proyek di kota Malang!" Seketika langkah Random terhenti. Padahal tadi nafsunya begitu menggebu untuk menghabiskan malam bersama sang kekasih. Tapi pikirannya cukup waras untuk memilih berdiam di tempat dan mendengarkan perintah Vino.
"Ah, baiklah! Aku akan tinggal!" Random segera duduk.
"Cih! Bukankah kau ingin pergi?"
Tentu saja aku ingin pergi, tapi kau mengehentikan langkahku, apa kau tidak sadar itu?" Kesal Random yang hanya tersimpan rapat di dalam hati.
Malam itupun terjadi pembagian tugas untuk Bos Vino yang terhormat.
__ADS_1
✓✓✓
"Hai Sana, apa yang kau lakukan?" Saras melihat ada banyak bunga di atas meja tersusun rapi di dalam vas. Sana memotong sedikit tangkai bunga yang terlalu lalu menatanya pada salah satu vas terakhir yang terjajar rapi di depannya. Kini mereka berada di halaman belakang.
"Aku tadi melihat banyak bunga yang mekar, jadi, aku berencana menaruhnya di ruang keluarga dan meja kerja Madam." ucap Sana dengan semangat. Tapi seketika raut wajahnya berubah begitu melihat Saras berpakaian olahraga.
"Baiklah, terserah kepadamu saja. Apakah sudah selesai? Kita harus olahraga," Sana lemas seketika ketika mendengar kata olahraga.
"Hai, jangan tunjukkan wajah memelasmu itu kepadaku. Tidak akan berpengaruh sama sekali." Sana pun mengambil vas vas itu untuk hendak meletakkannya di tempat yang dia sebutkan tadi.
"Biar aku bantu membawanya masuk." Saras mengambil tiga vas yang terakhir. "HAI, KAU!" Saras kini memanggil tukang kebun yang tidak jauh dari tempat dirinya berdiri.
"Saya Nona," ucap tukang kebun itu masih setelah mendekat.
"Iya, Kamu. Tolong bersihkan sampah itu, ya!" Menunjuk daun bekas potongan bunga yang dimaksud.
"Baik Nona."
"Terima kasih!"
Saras dan Sana akhirnya pergi.
"Kak! Bolehkah aku hanya melihat saja, aku tidak bisa bergerak seperti itu." Saras begitu asyik mengikuti gerakan video yang dia putar. Sedangkan Sana malas-malasan mengikuti gerakan intrukstur yoga pada channel YouTube yang disambungkan ke layar tv.
"Sana, kau harus rajin olahraga, agar berat badan mu tetap terjaga." Bujuk Saras. Sebab dua hari terakhir ini, berat badan Sana naik dua kilo. Meski tubuhnya masih nampak ideal, tapi bagi Saras, itu sudah termasuk ancaman. Saras akan memastikan untuk lebih memperhatikan Sana. Terlebih dalam urusan berat badan.
"Masih langsing gini," Sana menekan perutnya yang sedikit lebih gendut dari pada kemarin.
"Oke, gini saja deh! Kayaknya kamu kurang suka dengan senam yoga, terus bagaimana kalau kita battle saja."
"Battle apa!" Sana masih enggan.
"Nah ini saja yang lagi hits. Yang capek duluan dan kalah harus traktir makan di luar selama satu bulan," mata Sana membulat sempurna. Saras tipe orang yang pemilih ketika makan di luar. Tentu saja Sana tidak akan menghabiskan uang hanya untuk mentraktir Saras yang uangnya tentu lebih banyak daripada Sana.
Batlle pun di mulai. Keringat bercucuran dari tubuh keduanya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan betapa seksinya tubuh Sana. Kulitnya begitu eksotis dengan keringat yang membasahi tank top hitam yang dikenakan Sana.
"Apa dia sedang menggodaku dengan pakaian seperti itu?"
**Bersambung....
Siapakah orang yang melihat aksi mereka**?"
__ADS_1