
"Sial, baru saja mau pulang malah motor pakai mogok segala," Sana mendorong motornya sambil menangis.
"Mana hari sudah hampir larut malam lagi," mengomel sendiri. "Om Riki juga keterlaluan, ngajak makan tapi nggak datang. Katanya akan selalu ada buat aku, tapi pas aku butuhkan dia tidak datang," Sana tidak sadar jika dirinya menghalangi jalan. Sambil tetap mendorong motornya, dia bertujuan untuk meminta tolong kepada Riki. Tidak sadar dia, jika seharusnya belok kanan malah dia berbelok ke kiri.
Duh, Sana kalau jalan jangan nangis dong ah biar nggak salah arah.
Tin...tin...tin
Mobil yang di belakangnya meminta hak sebagai pengguna jalan, tapi Sana tidak juga menepi.
"Hai, minggir, kamu menghalangi jalan kami," Riyan berteriak dari dalam mobil.
"Mau mati, Luh!" kali ini Vino. "Tabrak saja, Yan," mantra kutukan itu akhirnya keluar juga dari mulut Riyan.
"Nggak ah, Bos. ada banyak CCTV di sini. Nanti malah kita di tangkap polisi atas kasus tabrakan. Aku nggak mau di penjara," Riyan berpikir waras.
"Kalau begitu turun, Luh. Atasi tuh cewek," titah Vino.
"Non, Kak, Mbak," Riyan malah mengabsen panggilan. "Mbak menepi sebentar kenapa Mbak, mobilku mau lewat," ucap Riyan sopan.
"Ya lewat saja, apa hubungannya dengan aku," ketus Sana, sambil mengusap ingus di hidungnya. Kenapa dia menjadi cengeng begini ya semenjak ayahnya meninggal.
"Masalahnya, Mbak ini, menghalangi jalan saya," jelas Riyan lagi agar sesegera mungkin Sana tidak lagi di tengah jalan.
"Tapi, ini motor Mbak kenapa di dorong begini?" Riyan Riyan sudah bicara dari tadi malah baru ngeh.
"Ngambek sama saya," jawab Sana.
"Mbak, banyak salah, ya. Makannya di ngambekin," ikut becanda juga lah, lagian Sana seh mana ada motor ngambek, kan tidak punya perasaan.
"Huaaaa...Hua hiks," makin kenceng nangisnya, jadi bingung si Riyan.
"Mbak, kenapa malah semakin kencang nangisnya," susah juga ngurus cewek.
"Habisnya, bukannya nolongin malah nanya terus," Sana mengelap ingusnya dengan punggung tangan.
"Biar aku lihat dulu masalahnya apa, Mbak! tapi sebelum itu kita menepi, ya! Mbaknya menghalangi jalan," ucap Riyan sambil berjongkok memeriksa mobil.
"Woi, cepetan dong," si bos sudah kepanasan di mobil. Vino akhirnya ikut turun.
__ADS_1
"Bos, motornya mogok, kasihan Bos," Riyan masih memeriksa motor Sana.
"Maaf, Mbak! kayaknya motor Mbak aki tekor, Mbak." Riyan jadi kasihan melihat gadis di hadapannya itu.
"Lalu bagaimana caranya aku pulang, Om juga nggak bisa di hubungi. Mana hp aku di jambret orang lagi," Sana duduk di aspal dan menenggelamkan di kedua tangannya. Metutuki nasibnya. Saat menelpon Riki berulang kali tidak tersambung, malah handphone nya di ambil sama jambret.
Kasihan juga nih gadis. Dia juga baik hati sudah nolong gua tadi. batin Vino.
Tapikan dia kekasihnya Riki, eh sebentar kalau aku mengikuti saran Arjun untuk mendekati kekasih Riki dan membuatnya jatuh cinta kepadaku, pasti dia tidak lagi mengganggu hubungan Riki dan Vinka. Ide bagus Vino, buat dia jatuh cinta kepadamu.
"Riyan, kamu parkirkan motornya di sana, kita bawa dia ke apartemen." ucap Vino kemudian.
"Mbak, dengarkan, apa yang di bilang bos saya," ucap Riyan lembut. Vino sampai ingin muntah mendengarnya.
"Cepat selesaikan tugasmu," Vino tidak sabar.
"Kau gadis kalau tidak punya rumah, ikut saja denganku untuk malam ini." kata Vino.
Jika aku pulang, bagaimana dengan motorku. Jika tidak pulang, apakah aku harus tinggal di rumah pria songong ini.
"Sudah jangan lama mikir, kita nggak bakalan apa apain kamu, lihat saja wajahmu itu bikin kita alergi tau nggak," ucap Vino seraya menarik lengan Sana kuat. Mau tidak mau akhirnya Sama ikut juga.
"Luh, bawa mobil gua saja pulangnya. Ingat Luh harus bilang ke tuh cewek kalau motornya lama benerin nya, minimal dua hari lah. Agar tidak ketemu sama Riki," ucap Vino menggunakan segala cara untuk memisahkan Riki dan Sana.
Riyan sebenarnya adalah teman dari Faza, namun karna kecerdasannya dia bisa loncat kelas, sehingga dia lebih dulu lulus SMA. Tapi karena kesetiakawanannya, dia memilih berhenti setahun agar bisa sama sama lagi kuliahnya, sambil bekerja mengumpulkan uang.
"Itu kamar, kamu di sana, dan kamarku di sini," kalau ada apa apa panggil saya," Sana hanya mengangguk.
πΏπΏπΏ
"Kita jadi pergi malam ini, Yang," Vinka memegangi perutnya dan berusaha turun dari atas brankar.
"Iya, papa sudah mengatur semuanya, kita tinggal berangkat." ucap Riki sambil membantu Vinka turun.
"Apakah begitu sakit?" Riki begitu khawatir.
"Sedikit." Vinka berusaha kuat. Padahal memang terasa sangat sakit.
"Aku heran, kenapa setiap kita periksa, dokter tidak bisa mendeteksi penyakit yang kamu alami. Apakah karna badan kamu banyak lemak ya, Yang," Riki tidak sadar jika ucapannya menyinggung sang istri. Padahal benar kenyataannya perut besar Vinka begitu tebal sampai gede seperti orang hamil.
__ADS_1
"Kamu itu, ya," Vinka mencubit lengan Riki karna sebal.
"Aduh, sakit, Yang. Tapi biar lemak semua aku tetap cinta, kok," gombal Riki.
"Itu harus," Vinka memegang lagi perutnya.
"Kalian sudah siap, kita berangkat malam ini dengan pesawat pribadi. Aku khawatir dengan keadaan Vinka." Mareno tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Meninggalnya sang istri membuat dia lebih sigap dalam bertindak.
"Apakah kita tidak menunggu dulu hasil lab nya, Papa?"
"Tidak, kita berangkat malam ini saja. Semuanya sudah di atur kita tinggal berangkat."
"Papa, Vino tidak bisa kita hubungi, Pa," Raya setengah berlari mendapati suaminya keluar dari ruang rawat Vinka.
"Kalian jadi pergi sekarang?" dokter keluarga mereka sudah mengatur segalanya.
"Iya, kami mengucapkan banyak terima kasih," Mareno menepuk bahu dokter muda itu dan mengguncang sedikit.
"Semoga nyonya Vinka segera sembuh, dan maafkan kami yang tidak bisa berbuat banyak," ucap dokter itu kembali.
"Baru sadar kau hanyalah manusia biasa," seloroh Mareno. "Kali ini aku tidak mau kecolongan lagi," Mareno ingat kematian istrinya. Dia mengira semua itu hanya kurangnya kesiagaan dirinya. Dia bahkan lupa jika semua sudah di gariskan oleh yang Maha Kuasa.
"Papa apa kita_"
"Tidak, Ma! kita harus secepatnya memberikan pengobatan terbaik untuk Vinka. Aku tidak mau di tinggalkan lagi," kini mereka sudah menuju bandara.
Riki sudah tidak sempat untuk hanya sekedar menelpon Afsana, tapi dia telah mengirimkan banyak pesan, dia tidak tahu jika handphone Afsana sekarang sudah berpindah ke tangan para preman.
"Cantik sekali pemiliknya, Bos," ucap salah satu preman.
"Cepat bersihkan semuanya, kita jual dan bersenang-senang," para preman itu pun tertawa.
π Di sebuah apartemen, seorang gadis geliat geliut di atas tempat tidurnya. Volume AC membuat perutnya terasa mual.
"Gini nih efek samping jadi penduduk desa. Gimana cara matiinnya seh," gumam gadis itu sambil menekan nekan remote, tetap saja tidak ada perubahan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya
__ADS_1