
Seperti sepasang kekasih yang sempurna, Sana dan Vino berjalan ke arah para tamu undangan yang lain. Tanpa mereka sadari jika pemilik acara sudah merencanakan segala sesuatu nya jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan kembali hatinya yang hilang.
"Sayang, apakah kau yakin akan melakukan hal ini? bagaimana jika Vino menolakmu nanti?" tanya papanya Sima.
"Aku sangat yakin dad, bukankah Vino tidak pernah secara terang-terangan menolak diriku. Jadi aku rasa Vino masih menyimpan perasaannya terhadapku. Aku akan terus berusaha membujuknya kembali bagaimanapun caranya," Sima tersenyum bangga.
"Terserah kepadamu, tapi jangan berbuat sesuatu yang kiranya merugikan dirimu sendiri. Sebab pertunangan itu batal karna kecerobohan dirimu. Dady tidak mau ikut campur dalam masalah sepele seperti ini," pria paruh baya itu langsung memutar tubuhnya dan pergi dari kamar putrinya untuk menemui relasi kerja di tempat pesta.
Sima mematut dirinya di cermin "Aku yakin rencanaku kali ini akan berhasil. Malam ini aku harus mendapatkan dirimu bagaimana pun caranya," Sima tersenyum bahagia.
Sedangkan di acara pesta yang telah di hadiri oleh para rekan kerja PT Shall. Mereka semua berbahagia menikmati suguhan yang tersaji dan pelayanan yang santun.
"Tuan Vino, selamat datang di acara kami yang alakadarnya ini," sapa pria paruh baya yang tidak lain adalah Dani ayah dari Sima.
"Terima kasih Tuan Dani. Ini sungguh pesta yang luar biasa anda begitu rendah hati dengan mengatakan alakadarnya," mereka saling merangkul.
Lalu datanglah Sima, meski dia melihat Vino telah menggandeng seorang gadis, dia tetap pede saja melancarkan aksinya.
"Vino sayang kau...?"
Sima langsung menghambur memeluk Vino di hadapan semua orang. Sana yang masih menggandeng lengan Vino mencoba melepas tangannya tapi di cekal oleh Vino.
"Vino, aku sangat yakin jika Kamu akan datang malam ini, terima kasih, ya. Aku sangat bahagia bisa bersamamu malam ini," langsung bergelayut manja di lengan Vino yang lain.
"Itu cewekmu sudah nemplok, ngapain kamu malah mencekalku?" Sana berbisik sambil berusaha melepaskan diri. Vino malah beralih ke pinggang dan merapatkan tubuh mereka.
Bersamaan itu, datanglah Madam Maria di iringi oleh Saras. "Madam, apakah yang aku lihat ini nyata? dia membawa gadis itu ke pesta?" tanya Saras tidak percaya.
__ADS_1
"Sepertinya drama Korea akan di mulai," Madam Maria tersenyum tipis lalu memilih duduk. "Kita jadi penonton terbaik saja dari sini," ucap Maria sambil tersenyum simpul Saras pun ikut duduk dengan gaya anggunnya.
Masih dengan Sima yang menempel di lengan Vino. Meski Vino berusaha menghindari Sima dengan menggerakkan tubuhnya, tidak juga bisa lepas.
"Sayang, siapa dia? kenapa dia kamu pegang seperti itu? apakah dia pacar kamu," ucap Sima dengan setengah merajuk.
Mantan pacar Vino cantik seh. Tapi semuanya kok di shodaqoh kan. batin Sana.
Baju Sima menampakkan separuh buah dadanya. Gaun tanpa lengan warna silver yang panjang, tapi belahan bawahnya melampaui batas sampai ke sepertiga paha paling atas.
"Hai, jangan pura pura nggak mau, lumayan tuh murah, banyak diskonnya," bisik Sana ke telinga Vino. Vino yang tidak paham menaikkan sebelah alisnya, hingga Sana menyentuh dada Vino sebagai kode, yang di maksud Sana adalah buah dada Sima.
"Kamu tidak tahu, ya. Kalau yang banyak diskon itu, agar konsumen mudah membelinya," jawab Vino sambil terkekeh. Sima sangat dongkol sebab di kacangin sama Vino.
"Sayang, Vino, Vino Sayang." Sima menggoyang goyangkan lengan Vino, tetap saja tidak di respon. Dia mulai menatap sekeliling dan merasa malu akan tingkahnya sendiri. Terpaksa menebalkan muka demi balikan.
"Enak dong murah, biasanya banyak jadi rebutan," cibir Sana masih berbisik. Mereka jadi terlihat seperti pasangan yang romantis. Perhatian Vino sepenuhnya kepada Sana, sedangkan Sima kekeh dengan pendiriannya.
Sima yang melihatnya melepas kasar tangan Vino. "Kalian niat banget ya membuat saya cemburu," teriak Sima sebab tidak tahan dengan kelakuan dua orang di sampingnya.
"Maksud Kamu?" tanya Vino tetap santai.
"Hai, kamu perempuan gatal, kau telah merebut tunanganku dan dengan tidak tahu malunya mengumbar kemesraan di depan umum," Sima sepertinya frustasi. Sedangkan Vino malah sibuk mencium punggung tangan Sana. Nyebelin banget nggak seh. Orang lagi cemburu bukannya di bujuk malah di panas panasin.
"Saya," Sana malah menunjuk ke wajahnya sendiri. Dia tidak merasa jadi perebut. Dia menoleh ke arah Vino dengan muka bodohnya. Membuat Vino terkekeh.
"Kamu gemesin banget kalau terlihat bodoh kayak gini," Vino mencubit pelan pipi Sana dan mencuri cium kembali.
__ADS_1
"VINO...KAMU KETERLALUAN," semua orang menonton drama dadakan itu. Beberapa orang bahkan mengabadikan momen langka itu.
"Maksud Kamu apa?" ucap Vino pura pura tidak tahu.
"Vino, kita sudah bertunangan sepuluh bulan lalu, setelah kita menjalin hubungan selama dua tahun. Apa kau lupa!"
"Tidak," jawab Vino santai tetap memegang erat pinggang Sana.
"Kalau tidak lupa, kenapa kau malah sibuk bermesraan dengannya, apa kau berselingkuh?" teriak Sima.
"Siapa yang berselingkuh. Bukankah kau sendiri yang menyudahinya enam bulan lalu. Kau juga bilang waktu itu, jika kau membatalkan tunangan karna adanya pihak ketiga. Dan kau bilang bahwa akulah yang membawa pihak ketiga itu dalam hubungan kita. Jadi, kau menyudahi semuanya. Kenapa masih di bahas lagi? bukankah kita sudah selesai?" santai sekali Vino mengucapakan nya bahkan tanpa rasa khawatir jika ucapannya bisa menyakiti orang yang pernah mengisi hatinya.
"Aku hanya bercanda waktu itu, Sayang. Aku yakin kau tidak memiliki kekasih selain aku. Dan aku tahu itu. Aku yang khilaf karna tidak bisa melihat ketulusan dan kesetiaan pada dirimu."
"Jadi," ucap Vino datar. Dia sudah sadar situasi sebaiknya dia menyelesaikan drama ini secepatnya.
"Beri aku kesempatan untuk kembali lagi kepadamu Vino. Aku sangat mencintaimu aku yang khilaf karna pernah menduakan dirimu, Tapi, aku sadar aku akan membenahi semuanya. Kita mulai dari awal Vino." Sima sepertinya tidak sadar akan apa yang dia perbuat.
"Sima, apa yang kau lakukan," tiba-tiba Dani masih ke dalam lingkaran manusia itu dan menarik anaknya. Pesta meriah yang di buat Sima sepertinya berakhir dengan kekacauan.
"Hai, Tuan sepertinya kau sudah membuat kacau suasana pesta ini, aku mau pulang saja," Sana merasa tidak enak menjadi pusat perhatian.
"Sudah, jangan di pikirkan. Kita pasangan yang serasi makannya di perhatikan," Vino asal bicara saja. Langsung mendapat pukulan ringan dari Sana.
"Maaf, para hadirin semuanya. Saya selaku penyelenggara pesta malam ini meminta maaf atas ketidak kenyamanan yang terjadi. Mari kita lanjutkan acara malam ini. Semoga bisa kembali menikmati pesta yang sempat ricuh ini," ucap Dani.
"Tuan, benarkah Tuan Vino dan Nona Sima sudah membatalkan tunangannya enam bulan lalu?"
__ADS_1
Bersambung....
Kira kira siapa yang berani bertanya seperti itu, ya..