
"Bukan hologram berhadiah, tapi lebih tepatnya sedang mendapatkan berlian. Lihatlah, baru saja aku sampai, tapi sudah disuguhkan oleh pemandangan yang begitu menakjubkan, sungguh menentramkan jiwa." tatapan mata Mike tertuju pada wajah Sana yang manis dan cantik dengan kulit kuning Langsat . Tipe wajah gadis Asia yang begitu di puja oleh seorang Mike.
"Mike, kalau mau gombal, lihatlah tempat!" ucap Rindi dengan nada ketus. Sana mengernyit heran dengan kata-kata yang keluar dari bibir adiknya.
Tidak biasanya Rindi bersikap seperti ini,
"Apa salahnya, tidak ada peraturan khusus untuk hal itu, bukan? Apalagi bidadari di sampingku ini sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu," Mike mengedipkan sebelah matanya, bibirnya melengkung semakin melebar ketika netranya melihat Sana juga membalas senyuman itu.
Sebenarnya, Sana tidak tersenyum untuk Mike, tapi lebih kepada reaksi Rindi yang seperti-nya berbeda saat berinteraksi dengan pria lain. Mungkinkah Rindi sudah mulai mengenal sebuah rasa? Begitulah pikiran Sana.
"Mau apa kau kemari?" ketus Rindi ditujukan untuk Mike.
"Aku datang menemui dokter yang menangani lukamu, katanya kau sudah diizinkan pulang besok," ujar Mike. "Terima kasih Rindi, karna sudah menyelamatkan ku waktu itu," ucap Mike terus terang. Rindi bisa melihat dengan jelas, bahwa Mike adalah tipe pria yang tahu akan balas budi.
"Syukurlah, akhirnya kau bisa pulang, di rumah sangat sepi tanpa kehadiranmu," Sana menggenggam tangan Rindi, terlihat sekali hatinya berbunga-bunga. Tapi Rindi hanya menjawabnya dengan senyum kecut, sebab mata Mike tidak lepas dari wajah cantik Sana. Ada rasa tak rela di hati Rindi saat Mike menatap kakaknya penuh dengan kekaguman atau bahkan memang cinta.
Apakah Rindi cemburu? Entahlah, yang pasti Rindi tidak suka melihat kedekatan Sana dan Mike.
"Owh, ya! Aku bawa sesuatu buat kalian tadi, terutama kamu hai gadis manis," tangan Mike hampir saja mentoel pipi Sana andai saja Rindi tidak menarik Sana dengan kuat hingga tubuh Sana mau tak mau pun berdiri.
"Rindi, kau masih sakit kenapa malah berdiri?" tegur Sana penuh kekhawatiran.
"Ayo kak kita kembali. Aku mau lihat apa yang dibawa Si Busem buat kita." Bukannya mengindahkan nasehat Sana, Rindi menarik tangan Sana dan berjalan sejajar.
"Apa kau tidak apa-apa berjalan seperti ini? Pakai kursi roda saja, ya?" bujuk Sana menatap nanar kursi yang ditinggalkan.
"Tidak! Dadaku yang luka, bukan kakiku," jujur Rindi dari hati yang terdalam. Namun apakah Sana tahu akan hal itu? Ah sepertinya tidak. Rindi melirik ke arah Mike yang tengah mengembalikan kursi yang tadi diduduki oleh Rindi.
Sana menggandeng tangan Rindi, menyusuri koridor rumah sakit yang kemudian disusul oleh Mike.
"Aku mau pulang sekarang," ucap Rindi tiba-tiba. Sana terkesiap, bukankah baru saja Mike mengatakan bahwa Rindi pulang besok.
"Tapi, kau belum sembuh benar." Sana menatap Rindi dan Mike bergantian.
"Hai, Nona galak, sebaiknya kau menurut pada ucapan kakakmu, jangan ngenyel jadi orang!"
"Rindi, tolonglah sabar sedikit ya, besok baru pulang."
"Aku akan tambah sakit jika disini terus, ayolah Kak, bawa aku pulang," rengek Rindi. Sana menoleh kepada Mike meminta pendapat.
__ADS_1
"Rindi ...!"
"Apa kak Sana tidak sayang kepadaku!" Rajuk Rindu. Entah apa yang ada di otaknya saat ini, tapi yang jelas dia ingin pulang.
"Ayolah, Kak! Aku sudah baik-baik saja," Sana menghembuskan nafasnya berulang kali, sebelum akhirnya mengangguk.
✓✓✓
Vino dengan tergesa-gesa, dengan setengah berlari menuju taman belakang mansion Maria. Setelah urusan Sima dirasa selesai, Vino ingin segera menemui sang kekasih yang telah dia rindukan mulai sejak pagi tadi.
"Mau kemana Mas?" Faza yang baru saja turun heran akan tingkah abangnya.
"Jangan kepo, anak kecil!" hardik Vino kakinya tetap maju untuk segera menemui sang pujaan hati.
"Cecan sudah tidak ada disana?" Seketika langkah Vino terhenti.
"Lalu dimana dia?"
"Kau tidak sabaran sekali ya!" cibir Faza sambil masih mengunyah permen karet.
"Fazaaa ...!" wajah Vino mendadak memerah sebab kesal.
"Cepat katakan!"
"Apa?"
"Ch, Sana, dimana dia?"
"Owh di danau," ucap Faza santai sambil bersiul meninggalkan Vino yang sudah mengepal mengepalkan tangannya.
"Andai, Luh bukan adik gua sudah Gua kirim ke Antartika, Luh." Omel Vino yang tidak lagi didengar oleh Faza.
Sana tengah duduk diantara rerumputan, memandang danau buatan sambil sesekali tangannya mengambil batu kecil dan melemparkannya ke danau.
"Emmh, siapa sih ini," Sana tersentak kaget, saat ada dua tangan yang menutup matanya dengan tiba-tiba. Sana juga mendapatkan ciuman di kening berulang kali.
"Vino!" Sana setengah berteriak gembira kerinduan yang dia rasakan kini telah terobati.
"Kamu jahat! Kamu telah melupakan aku tidak mengabari aku, katanya sayang, katanya cinta dan tidak bisa jauh dariku, tapi apa? Bahkan kamu lupa hanya untuk memberi kabar kepadaku," Rajuk Sana, pura-pura tentunya. Ish lebay.
__ADS_1
"Hai, maafkan aku Sayang." Vino duduk dihadapan Sana dengan beralaskan rerumputan. "Bukan maksud hati mengacuhkan dirimu, tapi ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku benar-benar mencintai dirimu Sana, aku bahkan tidak bisa jauh darimu, lihatlah, bahkan tubuhku rasanya begitu lemas tak berdaya," Vino pura-pura lesu dan langsung menidurkan kepalanya di paha Sana.
"Loh, kok gini, mau ngapain?" kaget Sana, tapi juga membiarkan Vino dengan segala kelakuannya. Memegang erat pinggang Sana. Sana hanya mematung tanpa membalas, ataupun berbuat sesuatu sebab tubuhnya terasa meremang.
"Vino, aku mohon jangan begini, oke! Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?"
Owh, jantung, bisakah kau jangan berlompatan keluar. Aku bisa mati karna keadaan ini," batin Sana.
"Kenapa hemmh? Gapapa kali, kalaupun ada yang lihat, itu malah bagus!" Vino semakin mendusel dan mencari tempat ternyaman. "Aku sudah tidak sabar untuk menghalalkan dirimu! Dan setelah itu, akan ada Vino junior disini!" mengusap perut Sana.
glugghh
"Hai, kau ini pasif sekali seh, harusnya kalau aku bermanja-manja gini, kamu elus rambut aku begini," memegang tangan Sana dan meletakkan di atas kepalanya sendiri.
"Vino, apa ini tidak salah?"
"Apanya yang salah hemmm?"
"Ini, kita seperti ini?" masih kaku saja. Vino jadi gemas, dia menggigit perut Sana yang tertutup baju.
"VINO, KAU!" melotot tajam, mendorong kepala Vino. Reflek, bukannya bergeser malah tangan Vino semakin erat memeluk tubuh itu.
"Vinoooo!"
"Apa, Sayang!" tersenyum dan masih menekankan mukanya pada perut Sana.
"Vino, bisakah kau lepaskan dahulu?" suara Sana merendah. "Tidak baik kita seintim ini, kita belum muhrim." semakin lirih.
"Lalu!"
"Ya! Itu tidak baik bagi kita! Jika kita terlalu intim seperti ini, takutnya akan semakin khilaf!" Vino tersenyum manis, tapi tetap tidak mengubah posisinya.
"Jadi!"
"Vino, maksud aku!" bingung mau jelasin kek gimana lagi biar ngerti.
"Sana atau sebaiknya kita ....
Bersambung....
__ADS_1