
"Biar Mama yang bawa mobil." Risya merampas kunci mobil Rindi tanpa permisi.
kin Rindi emosi deh. Bisa nggak sih sekali saja nggak membuat Rindi kesel."
Gadis itu berdiri tegak di samping mobil tanpa ingin masuk. Sedangkan Risya sudah duduk nyaman di kursi kemudi.
"Masuk atau mama tinggal?" Mobil telah menyala ketika Rindi masih curiga apakah ibunya bisa menyetir? Dia tidak ingin mati muda.
"Hai...jangan remehkan mamamu ini dengan tatapan jelekmu itu. Gini-gini mama juga pernah jadi pembalap."
Sebak di dada telah memenuhi sembilan puluh persen hati Rindi akibat cemburu. Lelah rasanya bila ditambah berdebat dengan sang mama.
"Kita sudah sampai!"
Rindi memandang sekelilingnya. Warna gelap dengan kerlip lampu kota warna warni. Disekitarnya nampak sepi bahkan terkesan angker dengan bola lampu keemasan.
"Dimana ini, Ma? Bukannya kita harus ke rumah sakit?"
"Kamu juga sakit. Tapi tak seharusnya kamu ke sana. Turunlah. Obat mu ada di sana!"
Menunjuk arah depan mobil. Suasana lengang. Bahkan tak ada orang. Setahu Rindi, ini adalah taman pinggir kota.
Rindi terlalu larut dalam pemikiran sendiri hingga tak menyadari kemana arah membawanya pergi. Mata Rindi masih berkaca-kaca. Sejujurnya dia ingin menangis. Sayangnya dia terlalu gengsi bila ketahuan Mamanya.
"Lihatlah!"
Risya menunjukkan langit. Cuaca cukup cerah membuat taburan bintang berkerlip indah. Bulan tak tampak sepenuhnya sebab awan putih berkabut. Namun berikutnya jelas terlihat.
"Kenapa mama membawaku kemari?"
Risya tersenyum lembut.
"Kamu perlu ketenangan."
Tanpa terasa air mata Rindi menetes sepenuhnya. "Jangan di tahan. Kekuatan wanita ada pada air matanya. Karena setelahnya, dia akan hapus air mata untuk bangkit lagi dan lebih kuat lagi."
Risya menepuk bahu anaknya. Kemudian memberi pelukan. Risya tanpa sadar juga meneteskan air mata. Sebagai orang tua tentu dia tak akan membiarkan anaknya menangis terlalu lama.
"Hai ...baju mama kotor karenamu."
"Biarin! Rindi nggak peduli." Risya menepuk punggung putrinya.
"Lepaskan yang tak mungkin, Nak! Apapun yang bukan untukmu akan menjadi beban hati yang pada akhirnya akan melukaimu. Berpandangan luas lah. Masih banyak cinta yang menanti. Cinta yang membuat langkahmu terasa ringan dengan kebahagiaan."
__ADS_1
"Aku konyol kan, Ma! Aku cemburu pada anak-anak."
Rindi masih sesenggukan. Risya melerai pelukan. Tubuh putrinya semakin bergetar.
"Kamu tidak salah. Dan yang kamu lihat dan kamu rasakan adalah kenyataannya. Yang harus kamu lakukan adalah mencoba iklas. Sampai kapanpun, Faza tidak akan pernah jadi milikmu. Sesungguhnya, kamu juga bisa memaksanya. Tapi pada akhirnya juga akan berakhir tak bahagia. Jadi, buat apa?"
"Rindi mencintainya, Ma!" Mengelap kasar sisa air mata dengan tangan. Dibantu oleh Risya juga. "Tidak bisakah Rindi merebut hatinya?"
"Cintamu tidak salah. Itu hak kamu. Faza adalah sahabatmu. Kamu lebih tahu tentang dirinya daripada dia sendiri. Berulang kali kamu juga menunjukkan perasaanmu, bukan?"
Rindi mengangguk lemah.
"Tapi sahabatmu itu tetap nyaman pada posisinya. Karena dia percaya padamu. Dia juga sangat menjaga perasaanmu. Lalu, ketika nanti dia tahu apa yang terjadi padamu, apakah dia akan tetap nyaman? Bisa jadi dia balas cintamu juga. Tapi hanya sebatas menjaga perasaan."
"Ma...!"
" Suatu saat nanti, kamu akan sadar jika ada seerang yang mencintai kamu sepenuh hati. Seseorang yang tidak pernah mampu memberikan alasan kenapa dia mencintai kamu. Yang dia tahu di hati dan matanya hanya ada kamu satu-satunya.
Walaupun kamu sudah memiliki teman istimewa atau kekasih, dia tidak perduli! Baginya yang penting kamu bahagia dan kamu tetap menjadi impiannya. Hari ini kamu banyak menangis karena patah hati. Namun jika saat itu tiba, hatimu akan penuh dengan bahagia."
"Terima kasih, Ma!"
✓✓✓
Beberapa saat Vino tergamam. Bahkan meminta Sang Dokter untuk mengulangi kalimat yang baru saja dia dengar. Dadanya hampir saja meledak saking bahagianya. Vino memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.
Kebahagian itupun telah sampai ke telinga orang terdekat. Semua orang bahagia. Mareno bahkan telah merencanakan pesta untuk menyambut kabar gembira ini.
"Sayang, kamu duduk saja di sini, ya! Kalau perlu sesuatu, cukup katakan saja. Akan aku ambilkan untukmu." Vino merapikan selimut kemudian mengelus puncak kepala istrinya serta melabuhkan ciuman hangat.
"Manis sekali, Sayang! Tapi bukan orang sakit."
"Kamu harus banyak istirahat. Ingat kan dokter bilang apa tadi?"
Iyalah, Sana kekurangan darah. Entah kemana darah dalam tubuhnya bisa berkurang. Dia makan juga cukup minum juga cukup. Hanya saja tidurnya itu yang kadang kurang. Siapa lagi biang keroknya jika bukan Vino. Alasannya sih semakin banyak eksperimen semakin banyak peluang yang didapat.
"Vino ...!"
Nada kesal sudah naik satu oktaf.
"Diam di situ. Ingat! Harus istirahat. Mau ngapain kamu?" Ketika melihat Sana ingin bangun. vino lekas membantunya bahkan sengaja menekan tubuh Sana agar tetap berbaring.
"Aku mau buang air!" Sana cemberut.
__ADS_1
"Cantik banget kalau manyun gitu. Makin jatuh cinta deh!"
Menjawil dagu istrinya. Sana bukannya tersenyum malah tambah kesel. Iyalah, wong sudah kebelet dia.
"VINO!"
"Baiklah! Biar aku bantu!"
"Isssh, dasar! Suami lebay" umpat Sana yang sayangnya tersimpan rapat dalam hati.
Vino dengan setia menemani istrinya. Bahkan jika Sana tidak melarangnya, mungkin juga ikut ke dalam menemani. Dasar Vino.
"Sayang, katakan padaku. Bagaimana keadaanmu?" Pagi pagi buta Vino sudah heboh sendiri.
Pasalnya, tadi malam ketika akan tidur, Vino kan minta jatah tuh. Taulah jatah dari istri kepada suaminya tuh apa? Ye kan?
Karena Sana lagi kesel ama Vino yang mengatur segala aktifitas nya bahkan memberikan jadwal yang menurut Sana sangat buruk. Mana ada karena hamil tiba-tiba dapat dua bodyguard dan satu suster sebagai pendamping. Berlebihan kan itu namanya.
"Sayang, bisa nggak, aku menjalani hari-hariku seperti biasanya? Aku baik-baik saja."
"Tidak! Ada orang banyak saja kamu pingsan tadi. Bagaimana kalau kamu pas sendiri? Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Yang Mama Risya lebih ngomel lagi nanti."
"Mama Risya tidak akan begitu. Nanti aku akan bicara padanya."
"Jangan bicarakan apapun padanya. Oke! Ini tanggung jawabku. Dia benar. Aku harus lebih perhatian padamu."
Maka dari itu Sana juga marah dan bilang tak enak badan. Akhirnya Si Vino puasa. Terpaksa puasa gitu loh.
Eh, malah paginya kumat lagi.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Sana mengucek matanya, melihat jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Suaminya nampak segar dengan balutan baju Koko dan sarung dilengkapi peci. Dua sajadah telah terbentang sempurna.
'Rajin sekali. Biasanya jam lima baru bangun.' batin Sana, kemudian hendak turun.
"Biar aku bantu!"
"Tidak usah, kamu lanjutkan saja."
"Tidak! Aku akan mandikan kamu sekalian."
"What!"
To be continued
__ADS_1