
Jam menunjukkan pukul empat sore. Seorang gadis memeriksa semua isi rumah, memastikan saluran air aman, gas aman, dan keadaan rumah dalam keadaan bersih.
"Oke, sekarang semua sudah beres, aku harus segera kembali agar kak Sana tidak nelpon terus," ucap gadis itu sambil mengambil helmnya. Dia mengunci pintu, lalu membawa motornya menelusuri jalan untuk kembali ke kota.
Dengan penuh semangat Rindi mengendarai motor dan sampai di sebuah jalan raya, ada kecelakaan beruntun. Yang membuat jalan harus ditutup, bahkan jalan macet total sampai beberapa kilo meter. Rindi mencari informasi dari penduduk sekitar, kiranya ada jalan memutar agar segera sampai di tempat tujuan.
"Neng, belok di pertigaan sana, tapi jalannya cukup sepi, Neng. Melewati perkebunan dan persawahan." Rindi mencoba berpikir sejenak. Jika menunggu evakuasi korban kecelakaan, kemungkinan membutuhkan waktu dua jam, sedangkan jika dia lewat jalan pintas hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Akhirnya Rindi memilih jalan memutar setelah menghidupkan Google Maps, agar tidak salah jalur.
Lama Rindi berkendara, sesekali melihat ponselnya, memastikan bahwa yang jalan yang dilaluinya benar. Sampai di dekat persawahan, suasana tampak lengang. Udara cukup sejuk, Rindi mengambil kaos tangan di dalam ranselnya, lalu memakai kaos tangan agar tangannya terlindungi.
Sayup-sayup Rindi mendengar suara motor. Rindi menoleh ke belakang. Seorang berpakaian serba hitam nampak berlari diikuti oleh tiga motor cross. Meski jarak mereka cukup jauh, tapi sorot cahaya lampu motor itu mengungkap kebenaran yang terjadi.
Lumayan kenceng juga larinya," batin Rindi. Kagum akan kelincahan orang yang berpakaian hitam itu.
"Hai, berhenti kau bajingan!" teriak seseorang yang berkendara. Bahkan suara tembakan terdengar jelas. Rindi yang tengah shock akan situasi, menstabilkan ritme jantungnya. Mengambil nafas dan menghembuskannya kasar.
"Hai, berhenti!" motor semakin melaju kencang. Dan orang itu mulai terseok, sepertinya kelelahan.
Bantu apa tidak ya?
Sebaiknya aku segera pergi saja. Toh itu urusan mereka. Rindi memutar kunci motornya kembali. Bersamaan suara tembakan. Rindi menoleh ke belakang, mendapati satu orang pengendara motor jatuh terguling.
Astaga, mereka bertambah banyak. Suara gaduh mesin motor semakin memekakkan telinga. Kini ada lima orang pengendara yang mengejar, dan berhasil mengepung sosok yang tengah berlari itu.
"Menyerah saja lah Bro! Kau sudah tidak bisa lagi menghindari kami!" Sosok pria itu menodongkan pistol miliknya, tapi nihil ternyata pelurunya habis. Pasang kuda-kuda dan formasi waspada mulai dia terapkan. Rindi masih jadi penonton setia dan duduk di atas motor yang sudah dia matikan. Hatinya bimbang, antara menolong, atau pergi saja dari tempat itu.
Perkelahian pun terjadi, satu orang melawan enam orang sekaligus, tentu bukan lawan yang seimbang. Rindi mengutuk para pengeroyok itu, tanpa ada niat membantu. Dia cukup mengawasi dan akan bertindak jika sudah saatnya.
"Cepatlah menyerah, atau terpaksa akan kami habisi kau disini."
"Majulah, Kalian! Aku pastikan kalian akan menjadi bangkai!"
__ADS_1
Deg. Aku seperti pernah mendengar suara itu, siapa dia ya?" pikir Rindi.
Perkelahian tidak terelakkan lagi. Semula sang pengeroyok maju satu persatu, semuanya bisa ditumbangkan oleh sosok hitam itu dengan mudah. Mereka semua terkapar di aspal.
Mereka segera bangkit dan mengkeroyok dengan ramai-ramai. Awalnya sosok itu masih sanggup. Bahkan lawannya tumbang semuanya. Perkelahian belum selesai, datang lagi tiga motor lainnya.
"Kalian tidak berguna!"
"Melawan cecunguk satu, saja tidak becus!" Pria berkepala botak yang baru saja turun dari boncengan menendang badan, salah satu diantara mereka yang terkapar.
Bos Botak itu Padang kuda-kuda.
"Hai, pengecut. Buka tudungmu itu, bedebah! Menyusahkan saja." omel pria botak itu.
Pria berbaju hitam hanya diam, nampak sekali tubuh kekarnya terlihat bersiaga. Pria botak itupun menyerang. Kekuatan mereka seimbang. saling menangkis serangan, saling menyerang dan menjatuhkan.
Pria botak itu nampak mundur, setelah mendapatkan bogeman mentah pada ulu hati. Hingga terdorong beberapa langkah ke belakang. Pria botak itu mengangkat tangan kanannya, mereka yang sudah berdiri lagi, menyerang bersamaan.
Rindi yang tidak tega pun, datang menolong. Rindi tetap memakai helmnya, agar lawannya tidak tahu, jika dia perempuan.
"Siapa kau!"
"Kau tak perlu tahu, kita harus segera pergi dari sini." Rindi dan sosok itu menyatukan punggung mereka. Kini mereka berdua tengah dikepung. "Kamu siap!" Rindi mengangguk, dia kini sadar bahwa yang hendak dia tolong adalah pria.
Mereka berdua saling melindungi dan menangkis serangan. Sepertinya kemenangan akan berpihak penuh kepada mereka. Lawan mereka tinggal empat orang lagi. Tapi nafas pria yang bersama Rindi terdengar memburu.
"Kita tidak mungkin mengalahkan mereka semua, kita hanya berdua saja," Mereka semakin berdempetan. Kini jelas terlihat, para preman itu bertambah lagi. Rindi melirik sekilas enam orang yang tengah terkulai pingsan. Andai lawan mereka tidak bertambah, mungkin kemenangan masih berpihak kepadanya.
"Ya, aku tahu! Kita harus secepatnya bisa pergi dari sini." jawab Pria itu.
"Motorku ada di bawah pohon sebelah kanan kita," lirih Rindi yang bisa dipastikan jika hanya bisa didengar oleh Pria itu saja.
__ADS_1
"Baiklah, kita lumpuhkan mereka secepatnya, lalu lari ke arah motor." Rindi mengangguk.
Sesuai rencana, mereka melawan musuh dengan sekuat tenaga, setelah ada waktu lenggang, mereka segera pergi dan menyalakan motor milik Rindi. Motor sudah menyala namun Rindi dicekal oleh pria berkepala botak. Rindu menyerang ************ pria itu dan jatuh.
Rindi segera berlari kembali, dan naik di atas motor. Berpegangan pada pria yang tengah membonceng dirinya. Kejar-kejaran di jalanan pun terjadi, mereka tetap mengincar mangsa mereka.
"Mereka semakin mendekat." Teriak Rindi. Pria itu tampak mengambil earphone di sakunya lalu memasang dibalik helm.
"Datang ke Jalan Pinggiran Kota nomor 2."
Hanya itu saja yang dia bilang. Mendadak ada sebuah mobil hitam berhenti dihadapan mereka. Rindi samoai kejedot helm sebab motor yang semula melaju kencang, tiba-tiba berhenti.
Seorang wanita cantik turun dari dalam mobil. Tatapannya tajam dan matanya menunjukkan kilatan amarah. "Dimana kau sembunyikan gadis itu?" tanya perempuan itu berjalan anggun. "Atau kau mau menggantikannya dengan gadis ini!" terlihat senyum ceria tampil di wajahnya. "Aku suka yang ini, dia masih perawan. Tapi aku sangat menginginkan yang tadi, biarpun sudah buka segel, tapi karakter dan nilai jualnya sungguh luar biasa."
"Diam kau perempuan laknat. Kau tidak ubahnya seperti temanmu yang durjana itu."
"Hai, apa hakmu mengataiku." Perempuan itupun mundur beberapa langkah dan memberi kode menyerang. "Jangan lukai gadis itu, bawa dia sebagai pengganti gadis yang telah dilarikan oleh pria ini."
Peperangan kedua kembali terjadi. Mereka tidak segan memukul dan menendang. Tidak ada ampun lagi bagi musuh. Lama mereka saling menyerang, hingga si wanita menor yang mulai jengah itupun mengambil jalan pintas. Dia mengambil pistol di tasnya dan mengarahkan kepada sosok pria bertudung hitam itu. Rindi yang melihatnya mendorong pria itu, bertepatan dengan datangnya bala bantuan.
"Bos, maaf kami terlambat."
"Bereskan mereka, dan untuk perempuan itu, bawa dia ke markas, berikan dia ganjaran yang setimpal," pria berbalut pakaian hitam itu menggotong tubuh Rindi dan membawanya ke mobil.
"Begitulah ceritanya," Rindi masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Untung bukan buah dadamu yang tertembak."
Plak
sebuah sendok melayang tepat di kepala Faza.
__ADS_1
Bersambung....
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih 😊🙏