
Selepas dari rumah sakit. Rindi duduk berdua dengan Faza di teras rumah. Menikmati angin sepoi-sepoi menyapa senja.
"Bagaimana kabarmu?"
Rindi menaikkan sebelah alisnya.
"Hai ...kita sudah empat jam lalu bertemu." Heran Rindi. "Dibandara kamu juga tidak menanyakan itu." Rindi mengikut bahu Faza.
Keduanya hening. Sama-sama membalas senyum. Mata Rindi cukup berembun. Entah kenapa gadis itu sekarang berubah cengeng.
"Maksudku, hubunganmu dengan Mike!" Faza membuang muka. Satu sisi dia peduli pada Rindi. Mengagumi gadis itu dalam diam tapi satu sisi dia merasa rendah sebab Rindi selalu lebih unggul diatasnya baik tentang IQ atau hal lain.
Rindi memutar posisi duduknya, memandang tepat ke jauh ke dalam mata Faza. Sayangnya pria itu selalu menghindar. "Apa kamu tidak mengharapkan ku sama sekali, Za?"
Faza cukup terpengarah. Dalam sepersekian detik keduanya saling membenturkan tatapan mata. "Apa maksudmu?"
Sungguh pura-pura tidak mengerti akan tutur bahasa yang kita nanti adalah sebuah kesakitan.
Rindi mencebik. Pertanyaan konyolnya tidak mungkin dimengerti Faza. Pria itu tidak pernah peka dan mungkin memang hanya menganggap Rindi sebatas teman tak lebih. Jika ingat kenyataan itu, Rindi ingin sekali pergi sejauh-jauhnya.
"Maaf! Aku yang bodoh. Karena selama ini ...!" Faza menanti kelanjutan ucapan Rindi dengan tatapan intens. Dan Rindi memainkan kedua jemarinya sebab gugup.
"Karena selama ini...?" Alis tegas itupun mengkerut seiring garis halus di pelipis lebam yang belum sepenuhnya sembuh.
"Aku memberimu kesempatan untuk menyatakan cinta pada seorang gadis lalu menikahinya." Rindi kembali tersenyum. Kaku dan penuh paksaan lebih tepatnya dipaksakan.
Faza tersenyum hambar. Seperkian detik dia berharap Rindi akan bicara tentang persahabatan yang naik kasta menjadi hubungan percintaan. Nyatanya dia masih berdiri tegak di posisinya.
"Menikah? Konyol!"
"Hai...apa katamu? Bukankah itu hal yang wajar? Aku dengar-dengar kamu sudah punya kekasih." Pancing Rindi sekuat hati menahan gejolak perih di dada.
"Kekasih yang memilih berkhianat." Mata Faza mulai berkaca-kaca.
'Andai kamu bersedia menghapus lukaku, Rindi!'
"Apa? Cowok setampan sahabatku ini di khianati?"
Merangkul leher Faza sedikit kuat. Rindi juga tertawa renyah.
'lihatlah, tidak ada simpatik padaku.'
"Puas kamu ya meledekku!" Faza enggan membalas rangkulan Rindi. Pria itu bahkan meletakkan kepalanya di bahu Rindi.
"Dimana pesona seorang Faza yang aku kenal dulu? Pudarkah?"
Rindi berkata dengan gaya mengejek.
__ADS_1
"Hai, bukan begitu. Hanya saja aku bosan jadi rebutan." Kilah Faza. Nyatanya dia tak kunjung merasa nyaman dengan berbagai macam wanita yang dia kenal.
Dia nyaman bersama Rindi. Tapi tak mungkin dia mengikat cinta dengan sahabat juga ipar dari kakaknya itu. Nggak lucu baginya. Meski hal itu sah sah saja. Kayak nggak ada yang lain.
"CK, sepertinya sudah saatnya kamu bertaubat dan menyesali dosa-dosamu itu."
Ucap Rindi. Faza terkenal suka menggoda banyak gadis. Tapi ketika gadis-gadis itu sudah mulai jinak, maka Faza akan berusaha menjauh. Begitulah seterusnya. Alhasil tak ada satupun wanita yang betah dengannya.
"Aku akan bertaubat jika kamu jadi kekasihku!"
Rindi semula terpaku akan ucapan yang baru saja Faza lontarkan. "Jangan melihatku begitu. Aku hanya bercanda."
Ucap Faza meruntuhkan angannya.
"Serius juga nggak papa!" Timpal Rindi.
"Cie...yang pengen diseriusin." Ejek Faza yang langsung dapat tampolan dari Rindi dengan mata melotot.
"Ampun! Ampun. Jangan di tampol nanti kalau gegar otak gimana?"
"Biarin ngeselin sih."
"Tapi suka kan?"
Deg.
Rindi yang seperti maling ketahuan pipinya bersemu merah. Itulah yang sebenarnya terjadi. Dia menyukai Faza entah dengan alasan apa.
"Za!" Rindi menoleh kemudian menunduk lagi. Sepertinya serius.
"Ya! Katakanlah!"
"Jika kamu bukan sahabatku, hal apa yang kamu suka dariku?"
Hening.
Faza hanya diam sambil menatap intens wajah Rindi. "Za...!" Merasa resah ditatap begitu. Seakan akan menyembunyikan sesuatu dibalik baju.
"Aku sebagai sahabatmu saja menyukaimu. Apalagi menjadi pria sejati tentu banyak hal yang akan aku sukai. Keuletan kamu, kecerdasan kamu, attitude kamu semuanya sempurna. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Dengan karakter spesialmu. Dan aku yakin kamu akan bahagia bersama pria yang kamu pilih. Tapi yang pasti bukanlah diriku."
'aku hampir saja mengatakan sebenarnya Za, tapi kamu mematahkan semua itu.'
"Kenapa?"
"Ada Mike yang lebih tepat untukmu."
"Apakah aku harus bersama Mike."
__ADS_1
"Sebab dia sangat mencintaimu. Dia sangat jujur padamu. Hatinya tulus."
"Tidak bisakah kamu mencintaiku juga?" Tanya Rindi serius.
Hening
Hening
Saling menyelami sorot mata lawan bicara.
"Ah, aku hanya bercanda. Jangan serius gitu. Horor tahu."
Faza membuang muka. 'andai memang yang kamu katakan adalah kenyataan, Rindi.'
✓✓✓✓
"Jadi Faza mau menanggung biaya pengobatan Pak Karno dan juga sekolahnya Sawitri?"
Sana mengangguk antusias. Sana menunjukkan video yang dia ambil tadi siang kepada Vino.
"Tapi Pak Karno tidak bisa pulih seperti sedia kala. Terpaksa salah satu kakinya diamputasi. Selain itu, Pak Karno juga mengidap diabetes. Entah bagaimana nantinya hanya Allah yang tahu." Sepasang suami istri itu tengah bergelut dengan satu selimut yang sama.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu kembalikan semua milik Faza?" Tanya Sana hati hati. Dia merubah posisi dengan memiringkan tubuh. Meletakkan kepala di bawah tangannya sebagai tumpuan. "Setidaknya, dengan memegang uang sendiri, dia akan melakukan yang terbaik buat Pak Karno dan keluarganya."
"Papa sudah mengatur segalanya. Dan juga sudah berunding dengan pihak rumah sakit. Tanpa atau dengan upaya Faza, pak Karno akan tetap mendapat penanganan intensif."
"Sayangku memang yang terbaik." Puji Sana melabuhkan kecupan singkat di pipi sang suami.
"Kamu merayuku?" Vino mengangkat tangannya menyusuri tubuh Sana yang terekspos sebab selimut itu melorot. Benda padat berisi itu jelas saja terlihat menantang dirinya untuk bergelut dalam ******* nikmat.
"Sayang, aku bicara tentang Faza." Menghentikan tangan nakal Vino.
"Tidak! Biarkan dia belajar. Semua di dunia ini bukan hanya tentang uang. Ada kepercayaan, tanggung jawab dan juga keadilan. Dia lama tak mendapat hukuman."
"Kamu benar! Tapi juga berhak mendapatkan kesempatan."
"Kita sudah beri dia terlalu banyak kesempatan, Sana." Vino mulai dikuasai gairah sebab tangan nakalnya yang sibuk berkelana. Meski dicegah tetap saja kembali ke posisi semula.
"Lalu, bagaimana meeting dengan Luna?"
Vino mendesah. Enggan rasanya membicarakan perempuan jadi-jadian itu.
Mana tadi pagi pakai acara kesandhung terus meluk Vino lagi. Lalu dengan tidak tahu malunya mengikuti Vino ke toilet. Untung saja sekretaris Vino lumayan sigap menjadi tameng. Terlebih Arjun yang siaga level satu.
"Vino...!" Ketika sesuatu aset penting istrinya dia buat mainan menimbulkan gelenyar di bagian pusar.
"Kamu juga harus dihukum. Ini malam spesial kita kenapa harus bicarakan orang lain."
__ADS_1
"Tadi kan su...eummhhhh!"
To be continued