
"Vino keluar kau!"
Pagi-pagi sekali Riki menggedor pintu apartemen Vino. Yah, tadi malam Vino pulang ke apartemen miliknya setelah mengantar Sana pulang.
"Kakak ip_"
"Kurang ajar sekali kau, bukankah sudah aku peringatkan untuk menjauhi Sana hah!" Riki melayangkan bogeman mentah ke wajah Vino, karena belum siap, Vino oleng dan jatuh tersungkur. Riki segera meraih kerah Vino dan hampir saja melayangkan tinju kedua. Riki memejamkan matanya mengingat nasehat Vanka agar menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
"Sial! Jika tidak ingat Vanka, aku sudah menghancurkan dirimu." mendorong Vino hingga terjengkang ke belakang.
"Kakak Ipar, kenapa kau marah seperti ini!"
"Karena kau telah main-main dengan perasaan Sana. Aku tidak akan membiarkan Sana terpedaya olehmu." Sungut Riki. Nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah.
"Duduklah dulu, Kak! Kita bicarakan hal ini. Jika kakak masih menganggap ku main-main, seminggu lagi aku akan menghalalkan Sana, baik kakak Ipar merestui, ataupun tidak," ketus Vino. Tatapan matanya tajam dan menyakinkan.
"Lalu, bagaimana dengan berita yang beredar hah? Apakah kau sanggup membersihkan nama Sana dalam satu hari?" ketus Riki.
"Apa maksudnya?" Vino tampak bodoh dengan perihal yang disampaikan oleh Riki. Riki mengambil remote control TV lalu mencari berita entertainment tiga puluh menit yang lalu. Vino seketika membulatkan matanya tidak percaya.
"Kau lihat sekarang? Selesaikan urusanmu, baru setelah itu kau bisa menemui Sana." Riki melemparkan benda di tangannya, dengan gelagapan Vino pun menangkapnya.
"Tunggu! Apa kau akan memberikan restu?" Vino seperti melihat sedikit celah di hati Riki menyangkut kelangsungan hubungan dia dan Sana.
"Tergantung dari cara seberapa jauh kau bisa melindungi Sana. Baik dari segi materi, harga diri dan yang pasti adalah hatinya." Riki berkata tanpa menoleh.
"Aku tidak akan membiarkan milikku di sakiti oleh orang lain. Siapapun itu, aku pastikan dia mendapatkan ganjaran yang setimpal." senyum tipis terbit di bibir Vino
"Omong kosong!" ejek Riki lalu pergi dari sana, namun tidak bisa dipungkiri jika hatinya sedikit merasa lega.
Vino menatap kesal kepada TV yang masih menyala. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Arjun, sepertinya kita harus memberikan sedikit pelajaran kepada seseorang."
"Apa yang Anda maksud, Tuan!"
__ADS_1
"Lihatlah channel rendahan milik Tuan Dani, pada tayangan empat puluh menit yang lalu. Sepertinya dia ingin bermain-main dengan kita." Vino mematikan ponselnya. Kemudian dia teringat akan seseorang yang pastinya akan terluka dengan pemberitaan pagi ini.
"Aku harus menemui Sana, aku tidak mau kejadian ini membuatnya salah paham kepadaku."
Vino memikirkan sesuatu, lalu menghubungi seseorang lagi. "Halo!"
Vino menghubungi Arjun kembali. "Tuan, aku sudah menyelesaikan separuh tugas yang Tuan berikan!"
"Baiklah, sisanya kita selesaikan nanti. Aku harus memastikan bahwa Sana baik-baik saja." Vino memutus sambungan telepon nya.
✓✓✓
Sana kini berada di ruang rawat inap Rindi. Faza sengaja memberi tahu keadaan Rindi, agar Sana tidak cemas akan keberadaan Rindi yang selama dua hari ini tidak ada kabar.
"Rindi berada dirumah sakit, Kak! Dia habis jatuh dari motor dan dadanya terhantam batu," bohong Faza saat itu.
Kini, Sana melihat Rindi tengah bersandar pada ranjang pasien yang diatur sedemikian rupa agar Rindi nyaman saat bersandar. Sana segera mendekati Rindi dan memeriksa tubuh adiknya. Ada beberapa luka lebam di bagian wajah dan juga lengan.
"Bagaimana keadaanmu Rindi, bukankah sudah kakak bilang, jangan main motor cross lagi! Ngenyel kamu ituh." omel Sana. Rindi hanya nyengir kuda tanpa ingin menjawab. Tapi matanya menatap tajam ke arah Faza. Rindu sudah mewanti-wanti Faza untuk tutup mulut tapi sepertinya tidak diindahkan.
"Tidak, Kak! Jangan katakan itu, sampai kapanpun kita tetap saudara." Hati Rindi mencelos sesaat, kenapa rasanya begitu sakit dan tidak rela saat Sana mengatakan hal itu.
"Kak, berjanjilah, bahwa apapun yang terjadi nantinya, kau akan tetap menjadi sahabatku, baik untuk sekarang ataupun seterusnya." Rindi meraih tangan Sana dan menggenggamnya erat.
Sana menghembuskan nafasnya berat. "Jangan diulangi lagi Rindi. Cukup sudah kau membuatku selalu shock dengan semua kebodohanmu itu. Apa kau tidak kasihan kepadaku? Apakah kau tidak ingin melihatku memiliki saudara, hemmh! Apa kau akan selalu membuatku hidup sendiri di dunia ini?" Tak kuasa lagi berkata-kata, Sana memeluk Rindi dengan begitu erat.
"Maaf, Kak! Aku selalu membuatmu khawatir!' ucap Rindi semakin memeluk erat tubuh Sana.
Faza cowok yang manja itu tak kuasa menahan air mata. Gengsinya yang lebih besar, membuat dirinya segera keluar dari ruang Rindi.
"Kau berada di sini?" tanya Faza saat melihat sosok pria yang kini tengah berada di hadapan Faza.
"Yah, ada sesuatu yang membuatku harus datang kemari. Faza, apakah kau bisa membantuku?"
"Sepertinya sangat serius sekali?" selidik Faza.
__ADS_1
"Sangat!" Vino menghembuskan nafasnya kasar. "Sebisa mungkin, tolong kamu tahan Sana tetap berada di sini. Dan pastikan dia tidak membuka medsos sampai dua jam kedepan." Faza tersenyum sinis.
"Kamu pikir, kenapa pagi-pagi sekali aku membawa Cecan kemari untuk apa hah? Cepat selesaikan urusanmu dan lakukan konfirmasi segera. Aku tidak rela Cecan menjadi down gara-gara hal ini." tegas Faza. Dia berdiri dari tempat duduknya.
"Apa kau ingin menemui Cecan?" Faza melirik sekilas reaksi Vino. Terlihat sekali wajah Vino nampak cemas, juga memendam amarah.
"Aku sudah lega melihatnya baik-baik saja!"
"Jangan khawatirkan Cecan, dia akan tetap baik-baik saja. Hanya ...!" Faza menoleh sekilas ke arah Vino, lalu memasukkan tangannya ke dalam sakunya.
"Apa?"
"Tidak ada! Bila saatnya kau akan tahu sendiri. Hanya satu pintaku. Jika kau benar-benar mencintai Cecan, maka apapun yang terjadi kedepannya, jangan pernah mencurigai kesetiaannya." Faza hanya tersenyum tipis kemudian masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Apa maksud anak itu?" gumam Vino dengan sejuta kebingungan. Tidak biasanya adiknya itu peduli dengan kekasihnya. Tapi ini ...
"Arjun, apakah kau sudah membawa bukti itu?" ucap Vino saat sambungan teleponnya dijawab. Vino kini sudah berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Sudah Tuan, segera kita menuju studio milik Tuan Dani. Aku akan menjemputmu Tuan!"
"Tidak usah, Arjun, kau langsung saja ke sana. Aku tengah berada di rumah sakit."
Apakah anda sakit?"
"Tidak! Aku hanya ingin melihat kondisi Sana."
"Nona Sana sakit?" tanya Arjun lagi. Sepertinya Vino kurang sempurna dalam memberikan info. ..
"Bukan Sana, tapi adiknya. Dia dirawat disini."
"Baiklah Tuan, sesuai perintah anda, saya akan membawa berkas ini dan langsung ke kantor Tuan Dani. Sepertinya Tuan Dani tidak mengetahui tentang berita ini, Tuan!"
Vino tersenyum sinis. "Bukankah itu lebih bagus! Aku sudah muak dengan tingkah wanita itu." Ucap Vino, kemudian mematikan ponsel.
**Bersambung....
__ADS_1
Selamat membaca, dan tinggalkan jejak oke**