Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 107


__ADS_3

Rindi berjalan anggun melewati beberapa karyawan yang menyapanya dengan hormat. Sebenarnya dia enggan pergi ke kantor. Tapi mau bagaimana lagi. Papanya yang minta dia untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sedangkan Satria masih meneruskan studinya setingkat SMA.


Ketika sampai di depan ruangan Raga, Rindi tak segan mengetuk pintu. Meski Rindi anak dari Raga, namun dia harus tetap menjaga kesopanan. Meminta izin sebelum masuk.


"Masuk!"


Raga terlihat sibuk dengan setumpuk berkas berserakan di meja. Di sampingnya ada satu wanita cantik yang menjabat sebagai sekretaris.


Rindi belum terlalu mengenal wanita ini. Hanya beberapa kali pertemuan sebab dia termasuk karyawan baru. Rindi melriknya sekilas. Diperkirakan usianya seperantara dirinya.


"Rindi, kamu sudah datang, Nak!" Raga beralih pada putrinya yang mendekat lalu melabuhkan ciuman di pipi.


"Perkenalkan, dia adalah Lita."


"Kami sudah pernah kenalan, Pa!" Jujur Rindi. "Hai, Lita. Apa kabar?"


"Saya baik, Nona Rindi. Senang bertemu Anda kembali."


"Kapan Kalian bertemu?" Kedua alis Raga hampir bertemu. Heran.


"Saat aku pulang enam bulan lalu."


"Ah, itu bagus."


Raga memandang Rindi dan Lita bergantian.


"Dia yang akan menemani kamu bertemu klien hari ini. Kamu pelajari dulu materinya dan jika ada yang belum kamu pahami bisa tanyakan langsung pada papa atau sama Lita."


Raga menyerahkan satu map berwarna biru. "Presentasi?"


"Didepan para investor."


"Pa...!"


Raga memberi kode pada Lita agar kembali ke mejanya. Raga perlu bicara pada putrinya agar menerima tanggung jawab perusahaan. Rindi sebenarnya enggan menerima. Dia lebih suka menikmati hidup bebas tanpa tekanan apapun terlebih pekerjaan. Mau bagaimana lagi mungkin takdirnya begini.


Terkadang Rindi berpikir ingin jadi orang biasa saja.


Meeting dengan para investor berjalan lancar. Rindi mendapatkan apresiasi penuh atas kecerdasan dan keluwesan dalam menyampaikan materi. Karena hal itulah dia minta izin untuk pulang terlebih dahulu. Dia ingin menemui Sana.


Lebih daripada itu, Rindi juga berharap bisa menemui Faza. Dia menghubungi pria itu sejak tadi pagi, namun tak kunjung dijawab.


Ketika sampai di lift dia segera menekan tombol satu. Bersamaan dengannya masuk satu pria tampan dengan senyum menawan.


Rindi tidak menyadari keberadaan pria tersebut. Masih mencoba melakukan panggilan meski berulang kali tak direspon.

__ADS_1


"Kenapa begitu sulit menggapai hatimu, Faza!" Lirih Rindi kesal sendiri. Dia ingin bicara menanyakan kenapa dia ditinggal bersama Mike kemarin. Setelah itu malah tidak mengabari sama sekali.


"Hal terindah ketika engkau jatuh cinta, akan tetapi lebih indah jika orang yang kau cintai menyadari cintamu." Bisik Mike tepat di telinga Rindi.


"Kau...!"


Baru sadar jika pria disampingnya adalah Mike.


"Hai!" Sapa Mike


"Kamu disini?"


"Sesuai janjiku." Mike tersenyum tanpa dosa.


Rindi ingat tadi malam tentang boneka jika Rindi tidak membuangnya berarti Mike akan menemuinya dan mengajak jalan-jalan lalu dinner di malam hari.


'Kenapa harus dia yang muncul. Bukan Faza!"


"Tapi kita belum sepakat." Elak Rindi. Tentu saja. Dia kan membiarkan boneka bukan sebab menerima ajakan Mike, tapi lebih kepada enggan mendengar Omelan sang mama.


"Kemarikan tanganmu." Pinta Mike. Mengacungkan jari kelingking. Bodohnya Rindi yang hanya menurut saja.


"Oke! Kita sepakat! Mudahkan!" Rindi membelalakkan mata.


"Kamu curang!" Rindi menarik kelingkingnya tapi semakin ditarik, Mike Semakin mengeratkan satuannya.


Punggung Rindi menempel ke dinding lift. Jantung Rindi tidak lagi bisa diajak kompromi. Berdebar kencang.


Bahasa tubuh Rindi seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Entah kenapa kali ini pesona Mike tak mampu dia tolak. Mungkinkah dia mulai jatuh cinta? Oh tidak!


"Mau apa kamu Mike!" Rindi menahan dada Mike agar berjarak dari tubuhnya. Sayangnya kekuatannya tak seimbang dengan Mike yang semakin merangsek hingga nafas Mike menerpa kulit wajah Rindi.


"Rindi...! Aku sangat mencintaimu. Berikan aku kesempatan. Sekali saja."


"Mike, bukannya aku tak mau. Tapi..."


"Hatimu untuk pria lain." Pungkas Mike. Rindi menunduk pilu. Sakit entah karena ucapan Mike, atau karena cinta yang tak terbalas.


Mike menjawir dagu Rindi hingga netra memerah itupun bertemu netra hazel milik Mike.


"Mau sampai kapan? Jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Hidup ini kenyataan. Jangan bergantung pada angan dan rencana semu. Kamu bisa terjebak dalam ilusi."


Rindi menitikkan air mata tanpa sadar. Mike mencium air mata di pipi Rindi.


"Mike!"

__ADS_1


"Ya!"


"Bolehkah aku memelukmu?" Pinta Rindi entah untuk apa. Yang pasti hatinya rapuh sangat sangat rapuh hingga butuh seseorang sebagai sandaran. Tanpa pikir panjang Mike menenggelamkan kepala Rindi pada dada bidang berbalut jas mahal itu.


Tubuh Rindi semakin bergetar. Isakan mulai terdengar.


✓✓✓


Vino dan Sana kini berada di kamar menikmati kopi di pagi hari. Vino mengeluh pegal-pegal akibat bergadang di rumah sakit. Menunggui korban kecelakaan hingga orangnya siuman. Ketika baru saja sampai rumah dini hari, Vino langsung mendatangi Faza, melayangkan Bogeman mentah untuk adiknya yang kebetulan saja sudah terjaga. 


"Mas, apa kamu tidak merasa terlalu keras sama Faza?"


Sana merasa jika mood suaminya sudah membaik inilah kesempatan bagi dirinya untuk menyerukan pendapat sekaligus mendengar cerita Vino tentang keluarga korban.


"Pria itu tulang punggung keluarga. Dia punya anak dan seorang ayah yang sudah renta. Pria itu sangat penyabar. Bahkan sama sekali tidak menyalahkan Faza. Orang sebaik dan sesabar itu masih tersenyum ketika aku datang menemuinya. Dia hanya ingin dibayarkan rumah sakit sebab tak punya uang."


"Apa kamu tahu, Sana? Aku juga bertemu dengan putrinya. Putri itu sangat manis. Dia ditinggalkan ibunya sejak dilahirkan. Gadis kecil yang malang. Apa kamu tahu dia berkata apa?"


Vino ingat permintaan gadis itu, agar ayahnya kembali pulih seperti sedia kala. Sebab jika ayahnya tidak bekerja maka rumah mereka akan diambil orang. Mereka sangat malang. Bagaimana bisa aku tidak marah? Sedangkan Faza...!"


"Faza punya segalanya. Dia berkecukupan. Segala sesuatu bisa didapatkan dengan mudah. Tapi hatinya miskin. Yang ada di otaknya hanya bersenang-senang."


Sana mengusap bahu suaminya. Menenangkan. Sana tahu jika Vino sungguh lelah menghadapi kenakalan Faza yang tidak ada habisnya. Faza seringkali berbuat ulah. Kenakalan itu semakin bertambah semenjak meninggalnya Madam Eyang. Ditambah lagi kehidupan bebas di negeri orang.  Faza mulai keluar masuk dunia malam.


"Lalu... bagaimana keputusanmu mengenai Faza?"


Vino menghembuskan nafas kasar.


"Biarkan papa saja yang menanganinya. Kali ini sudah habis batas kesabaranku." Sana mengangguk paham.


"Sini dong!" Pinta Vino menepuk paha miliknya sendiri. Sana tersenyum tipis kemudian mendekat terlihat jelas suaminya tampak sekali kelelahan.


"Sayang! Aku berat loh." Tolak sana secara halus. 


"Ayolah!" Desak Vino mulai menarik pergelangan tangan istrinya.


"Berikan aku asupan nutrisi!" Vino menunjuk bibirnya setelah Sana duduk di pangkuan.


"Kamu kelihatan lelah, Sayang!"


"Sebab itulah kamu harus berikan aku vitamin."


Vino mengangkat tubuh Sana lalu membaringkannya di ranjang.


"Vinoooo...! Eumnnhhhh!"

__ADS_1


To be continued


__ADS_2