
Di sebuah teras yang langsung terhubung dengan taman belakang rumah, empat orang berbeda usia tengah menikmati waktu kebersamaan mereka untuk sekedar bercengkrama. Disana ada sofa yang sengaja di desain sedemikian rupa untuk keluarga berkumpul seperti sekarang ini.
"Bagaimana dengan persiapanmu ke Singapura, Nak?" Mereno mengawali pembicaraan. Faza sebagai anak yang paling muda, hanya diam sambil mengetik sesuatu di benda pipih miliknya, tapi telinganya mendengarkan dengan seksama apa yang mereka bicarakan.
Faza duduk di bawah beralaskan karpet tebal, sedangkan yang lain berada di sofa. Raya dan Vanka berada di sofa panjang. Sedangkan Mareno duduk santai di sofa sebelahnya sambil menyilangkan satu kakinya.
"Semua sudah siap, Pa! hanya saja, mas Riki memang tidak jadi pergi bersama, kami." Vanka menoleh kepada ibunya, seperti meminta bantuan untuk menjelaskan.
"Jangan pikirkan itu, yang terpenting kamu harus persiapkan dirimu dahulu. Paspor dan visa milik Riki memang belum clear, tapi menurut papa ,sambil menunggu semuanya beres, ada baiknya kamu tidak lagi menunda pengobatan ini, biar mama yang menemanimu terlebih dahulu, setelah itu Riki akan menyusul. Papa juga akan meluangkan waktu untuk menjenguk kalian." Mareno telah memutuskan secara sepihak.
Raya hanya mengelus punggung putrinya dengan sayang. Vanka sebenarnya enggan bepergian jika tanpa sang suami yang menemani, tapi apa boleh di kata jika yang mulia raja telah memutuskan segalanya.
"Kau jangan ragu, Sayang! semua pasti akan baik baik saja." Walau sebenarnya Raya juga heran dengan keadaan putri gendutnya itu. Selama tujuh bulan putrinya mengeluh sakit, tapi ketika di periksa USG, tidak di temukan sakit apapun di sana. Perut Vanka juga setiap hari semakin mengencang. Dan kebutuhan makannya bertambah.
Vanka juga tidak pernah melakukan tes peck, karna selalu kecewa dengan hasil yang di dapatkan. Selama tiga tahun sudah menunggu, belum juga ada hasil positif. Dan malah Vanka sering mengalami rasa sakit di perutnya. Apalagi siklus datang bulan Vanka memang berbeda dari perempuan pada umumnya. Tidak bisa di prediksi kapan datang dan kapan selesainya. Kadang malah dua hari saja.
Ya begitulah terkadang Allah menciptakan sesuatu yang berbeda sebagai bentuk tanda tanda kekuasaan-Nya. Dan manusia hanya bisa menjalani apa yang Allah SWT berikan.
"Terima kasih, ya, ma!" Vanka memeluk mamanya dengan sayang.
"Aku ikut pelukan dong!" iseng banget si Faza berkata sambil menunjukkan wajah memelasnya.
"Dasar bocah, ganggu aja!" menampol pipi sang adik bontotnya itu. Tapi Faza justru tertawa sambil berdiri dan memeluk kedua perempuan kesayangannya.
"Sudah sana, ah! Aku tidak bisa nafas karna ulahmu itu." Vanka yang terhimpit karna Faza sengaja memeluknya erat. Apalagi sekarang adiknya itu berubah menjadi sosok pria yang berbadan kekar.
"Makannya, punya badan jangan lemak semua isinya. Sisakan juga tempat untuk oksigen biar bisa nafas," ejek Faza sambil duduk kembali ke tempat semula.
"Hai, ini juga karnamu yang tidak pernah menghabiskan makanan sewaktu kecil, mama selalu menyuruhku memberikan contoh kepada adik kurang ajar sepertimu untuk tidak menyia-nyiakan makanan."
"Aku tidak menyia-nyiakan makanan, aku hanya kasihan kepada perutmu itu, jika lapar pasti menghukum kepalamu dan membuat tubuhmu pingsan." Mareno dan Raya menutup mulut mereka menahan tawa. Pernah satu kali Vanka pingsan, karna mogok makan.
"Sudah, sudah jangan ribut terus kenapa!" Raya melerai.
"Iya, sama sama gendut juga, nggak nyadar!" Ledek Mareno.
__ADS_1
"Ketua gendut lebih tidak nyadar lagi." Faza sama Vanka kompak mengatakannya. Memandang ke arah papanya yang usianya mencapai lima puluhan, kini badan Mareno memang lebih gemuk. Tapi tetep terlihat ideal kok, cuma pipinya terlihat chubby kayak pipi Vanka.
"Ini, karna papa sayang sama mama, kamu!"
"Lho kok jadi mama yang kena!" Raya yang tadi diam saja kini ikut angkat suara.
"Iyalah, kan gara gara mama, papa kayak gini. Makin tua masakan mama makin enak saja, jadinya papa selalu tergoda untuk nambah lagi." Mareno mengedipkan mata sebelahnya.
"Ah, papa!" Raya tergelak sambil menutup wajahnya malu malu. Sedangkan Vanka menyenggol pantat adiknya dengan kaki, menunjukkan kepada Faza kelakuan kedua orang tuanya.
"Dunia terasa milik mereka, kak! Kita, mah numpang doang." Fokus lagi ke gawai miliknya.
"Ekhemm!" suara Vino berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Rapi banget, mau kemana, Vin?" tanya Raya. Vino kini terlihat tampan dengan setelan jasnya lengkap.
"Ada meeting sama klien, Ma!"
"Sore sore begini? ayolah, Sayang. Pumpung kakakmu ada di sini, kita makan malam bersama, ya!" bujuk Raya, berharap Vino membatalkan meeting nya. Raya sebenarnya ingin sekali punya momen yang hangat seperti ini, tapi putranya yang satu itu selalu saja melewatkannya.
"Aku berangkat dulu, ya, ma! ini sudah hampir telat,"terang Vino lagi.
"Hati hati di jalan, Nak!" Vino hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka berempat.
"Mas Vino selalu saja sibuk, tidak pernah ada waktu buat kita!" kata Faza setelah kepergian kakaknya.
"Itu demi kebaikan kita semua juga." Ucap Mareno.
Yang dibicaran sudah mencapai gerbang rumahnya. Dia keluar dari rumah itu dengan mengendari mobilnya sendiri membelah jalanan. Tujuan utamanya saat ini adalah proyek barunya yang berada di pinggiran kota.
Vino menanti lampu lalu lintas yang masih menyala merah. Dia mengambil earphone, lalu
menghubungi Arjun.
"Halo!" setelah panggilan tersambung.
__ADS_1
.........
"Aku sudah berada di jalan sekarang, kamu langsung menuju ke lokasi saja, ya!"
....
Vino mengakhiri panggilannya. Kembali fokus pada jalan lagi. Sampailah dia pada sebuah keramaian di pinggir jalan. Sepertinya sebuah pasar malam. Vino melambatkan laju kendaraannya, meski begitu tiba tiba ada seorang anak yang berhenti tepat di depan mobilnya.
"Hampir saja." Vino mengelus dadanya.
"Bisa bawa mobil nggak seh, pelan pelan makannya, lagi ada keramaian sak karepe dhewe" umpat perempuan itu, yang sepertinya ibu si bocah.
Dia yang teledor, aku yang di salahin, dasar emak emak.batin Vino.
Vino hendak melajukan mobilnya lagi, tapi dia seperti melihat seseorang yang sangat di kenalnya. Vino memicingkan matanya jika yang dilihatnya itu tidak salah.
"Ngapain dia di sini?" gumam Vino.
Dua orang yang berbeda genre itu melewati mobilnya sambil asyik bercanda dan tertawa. Sang pria sesekali mengelus puncak kepala si gadis dengan sayang.
Vino tetap memperhatikan mereka, hingga sebuah panggilan kembali masuk ke gawainya.
"Iya Arjun!"
.......
"Baiklah, kamu urus semuanya, aku akan sedikit terlambat, karna melewati pasar malam."
....
Panggilan terputus, Vino mencari lagi dua orang yang tadi di lihatnya sudah tidak ada di tempat.
"Mungkin salah orang." Gumamnya
Bersambung.....
__ADS_1