
Oke, kita hubungi saja si Zilki," ucap Faza sambil mencari kontak nama yang di maksud. Saat Faza telah sampai di pertigaan jalan, dia terlalu fokus menscroll nomor sehingga tidak melihat jika ada sebuah motor yang melaju dengan kencang dari arah samping.
Bruukkk
"Woi!"
Teriak Faza pada seorang penjual keliling yang tanpa sengaja menabrak badan mobil mahal miliknya. Bahkan kaca depan mobil Faza mungkin juga retak dan yang paling membuat Faza dongkol adalah adanya goresan yang lumayan besar panjang pada sisi mobil. Motor sport pendek dan terbuka itu dalam sekejap mata kehilangan daya tariknya.
"Maaf! Maaf!" wajah pedagang itu nampak pucat pasi, tubuhnya gemetar. Maksud hati ingin menyebrang jalan untuk menghindari kecelakaan, tapi dia yang kini akan celaka. Begitulah yang pria paruh baya itu pikirkan.
"Wooi_,"
Belum selesai Faza berucap, sebuah motor melesat cepat, hampir mengenai kepala Faza yang masih duduk manis pada bangku mobil sport yang terbuka atapnya itu. "Owh tidak nyawaku," Motor itu terbang seperti burung, rambut Faza hampir saja terkena ban motor.
Penjual bakso keliling itu merasa telah kehilangan nyawanya. Memegangi lututnya yang tiba-tiba kram. Kepalanya juga mendadak pusing. Apalagi saat motor itu berada di atas kepalanya, dia mengira nyawanya melayang bersama hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Subhanallah! Astaghfirullah! Allahu Akbar!"
"Allahu Akbar!"
"Waoooow Amazing." Kayaknya jiwa santri Faza yang sewaktu pengajian sudah luntur deh. Nyebutnya saja sudah beda ih.
Mata Faza mengikuti arah motor itu mendarat. Ada rasa kagum dan takjub, sehingga mampu menghilangkan rasa panik yang sempat menerpa otak warasnya.
Apakah Faza sekarang masih waras? Entahlah! Yang pasti dia sudah memutuskan untuk menjadi fans berat pengendara motor yang pandai melakukan freestyle hebat itu.
Anggap saja ini pendaratan terakhir freestyle Rindi, setelah dia melakukan menuver melompati mobil.
"Astaghfirullah! Subhanallah! Astaghfirullah! Subhanallah!"
"Wiridan terus, Pak! Sudah selesai noh atraksinya, KEREN!" Faza bertepuk tangan begitu takjub. Dia melompat dari mobilnya tanpa membuka pintu terlebih dahulu.
"Keren banget, Mas! Kau sungguh begitu hebat!" Faza semakin mendekat. Dan pengendara motor itu, masih menetralkan detak jantungnya yang masih belum stabil.
Tadi sebelum melakukan aksi gilanya, dia sungguh sangat tenang. Tapi namanya juga manusia biasa, tentu saja jantungnya bereaksi setelah melakukan adrenalin yang sangat berbahaya.
__ADS_1
Mobil polisi yang kebetulan lewat berhenti di antara mereka.
"Selamat siang saudara-saudara maaf ada apa ini ya." ucap polisi yang lebih tua. Matanya memindai situasi dan otaknya sibuk menerka jika baru saja terjadi kecelakaan.
Polisi yang satunya nampak ingin mendekati mobil Faza. Dia ingin menyapa pria paruh baya yang nampak pucat pasi, masih berdiri tegak di samping mobil Faza.
"Sepertinya ini kasus kecelakaan, apakah pernyataan ku benar saudara-saudara!"
"Ini semua gara-gara dia, Pak! Dia yang hampir saja menabrak penjual ini," ucap Faza menyudutkan pengendara motor yang tak lain adalah Rindi. Polisi itupun mengangguk.
"Maaf, saudara harus mempertanggung jawabkan perbuatan anda." ucap polisi.
Rindi membuka helmnya hingga wajahnya terlihat dengan jelas. Rindi mengibaskan rambut yang panjang terurai dengan sangat elegan. Membuat Faza dan polisi yang masih diam di tempat itupun melongo. Berbeda dengan reaksi Penjual Bakso yang langsung menahan sesak di dada sebelum akhirnya jatuh pingsan dan kejang-kejang.
"Tapi, Pak! Saya tidak melakukan kesalahan, saya hendak lewat tapi mereka berdua menghalangi jalan saya." Rindi sungguh tidak terima dengan tuduhan Faza.
"Hai, semuanya! Tolong saya," teriak polisi.
"Ada apa, Pak! Cemen amat jadi cowok di situ aja pakai teriak minta tolong, minta di temenin ya," ucap Faza asal.
"Pending dulu wooi, ini ada yang lagi sekarat."
Mereka bertiga pun mendekat. Terlihat pria paruh baya itu kejang-kejang. Faza dan polisi itupun langsung membawa pria paruh baya itu dengan mobilnya menuju rumah sakit.
"Nah, begitulah ceritanya, aku langsung membawa penjual bakso itu kerumah sakit diiringi oleh gadis ini dan pak polisi," ujar Faza memberi tahu.
Nampak semua orang manggut-manggut mendengar cerita Faza. Tak Terkecuali Mareno dan istrinya.
"Ah maaf pak polisi, bukannya kami membela anak kami, tapi sepertinya anak saya memang tidak melakukan kesalahan. Penjual Bakso itulah yang telah menabrak mobil anak saya."
"Papa percaya sama saya?" hati Faza tiba-tiba menghangat saat dia mengira bahwa, Mareno mempercayai omongannya.
"Tentu saja! Silahkan di lihat pak polisi. Inilah gambar dari Cctv yang kami dapatkan dari pusat perbelanjaan di seberang jalan yang diambil saat kecelakaan itu terjadi." Mareno menyerahkan bukti yang di kirim oleh orang suruhannya.
Polisi itu melihat rekaman video. "Kalaupun tentang kesalahan yang dilakukan oleh pedagang bakso, kami akan menyelesaikan dengan cara kekeluargaan." Mareno paham betul apa arti dari tatapan polisi.
"Baiklah, jika seperti itu, kami anggap kasus ini selesai. Kami mohon undur diri."
__ADS_1
Bersamaan dengan keluarnya dua polisi itu, datngalah Arjun dan Vino. Setelah rapat, mereka baru bisa datang untuk menengok sang adik yang kabarnya kecelakaan.
"Pasti mana kan yang kasih tahu Vino," selidik Mareno menatap datar wajah istrinya.
"Aku kan takutnya Faza terluka parah pa, mama sampai mengira yang tidak-tidak takutnya Faza kekurangan darah atau apa. Kan yang cocok sama Faza cuma darah Vino." Raya menyengir tanpa rasa bersalah.
"Kau terlihat sehat bugar? Kecelakaan seperti apa yang kau alami?" Vino sebenarnya masih kesal dengan telpon mamanya yang mengatakan bahwa Faza sedang kritis sebab kecelakaan.
"Jangan marahi adikmu, mama begitu khawatir tadi, maafkan mama ya, Sayang!" Vino hanya bisa mengenal nafas.
"Lain kali jangan bikin orang panik dong ma, bahkan aku sampai meninggalkan rapat penting hanya untuk menengok anak manja ini," sungut Vino kesal.
"Iya, kan mama sudah minta maaf." Suara Raya lebih tinggi dari anaknya.
"Sudah jangan berisik, kita di rumah sakit ini!" tegur Mareno.
"Kalian juga ada di sini?" Vino menunjuk ke arah Sana dan Rindi.
"Dia adiknya Cecan kak! Dialah yang kecelakaan bersamaku!" Mata Vino memindai tubuh gadis itu.
"Dia senasib dengan diriku, menjadi tersangka," terang Faza yang mengerti apa arti tatapan Vino
"Apa aku bertanya kepadamu?" ketus Vino.
"Apa ada larangan untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk orang lain?"
"Sudah! sudah! Jangan berdebat! Dan kamu Vino, dia ini adiknya Sana," ucap Raya menengahi.
Vino nampak diam saja. Iyalah, kan dia sudah pernah liat Rindi sebelumnya. Dia hanya pura-pura saja tidak kenal.
"Keluarga pasien!" seorang perempuan berpakaian putih keluar dari kamar UGD.
"Maaf! Tidak ada Dok, tapi kami akan menanggung biaya untuk pengobatan pasien."
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya. Ya. terima kasih sudah membaca
__ADS_1