
"Sayang, kenapa kau jadi tegang begitu?" Vino mengelus rambut panjang milik Sana. Gadis itu beberapa kali meremas kedua tangannya, terlihat sekali jika gadis itu tengah gugup saat ini.
Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu, dia mendapatkan telpon dari Vino untuk bersiap dan dandan yang cantik, bahkan Vino mengirim sebuah gaun untuknya. Sana berpikir jika pasti hanya sebuah acara makan malam biasa yang hanya di hadiri dirinya dan Vino. Tapi ternyata adalah makan malam keluarga, bersama Vino dan keluarganya. Oh tidak, tanpa persiapan apapun, meski sudah saling mengenal, tapi rasanya lebih deg degan daripada sekedar menunggu hasil ujian.
"Vino, kenapa kau tidak mengatakan hal ini sebelumnya?" kesal Sana berdesis geram, dengan mencubit kecil lengan Vino.
"Kau tidak bertanya!" jawab Vino enteng. Wajahnya nampak sumringah.
"Hai Sana! Apa kabar sayang, aku tidak menyangka jika Vino benar-benar mengajakmu ikut makan malam bersama kami!" antusias Raya meninggalkan tempat duduknya, saat Sana berjarak beberapa langkah dari Raya. Cipika cipiki.
"Kabar baik, Tante! Kabar tante sendiri bagaimana?" balas Sana tak kalah ramahnya.
"Tentu saja baik dong. Ayo sini kita duduk." menarik Sana duduk berdampingan. Tapi sebelum itu, Sana juga menyapa dan bersalaman dengan Mareno.
"Kamu pasti terkejut ya, sebab tiba-tiba Vino mengajak kamu makan malam bersama." Sana dalam mode kikuk dan canggung itupun hanya mengangguk malu.
"Mama yang menyuruh Vino untuk mengajak kemari. Mama senang sekali, Vino nampak bergairah dan semangat setelah malam itu."
"Ma!"
Vino sepertinya keberatan saat Raya mengatakan kebenarannya.
"Aku benarkan Pa?"
Tuhkan mencari pendukung.
"Hemmh!" Mareno mengacungkan jempolnya.
"Pa, ponselnya diletakkan dulu dong, ada calon mantu kita nih!" Mareno menepuk pundak istrinya lalu mendaratkan ciuman singkat di kening dan bibir pastinya setelah mengamankan ponsel itu di balik jasnya.
"Papaaaa!" Raya mencubit perut suaminya yang terlampau mesum. Sana hanya diam memperhatikan interaksi keduanya dengan perasaan malu. Sedangkan mata Vino tidak hentinya menatap ke arah Sana.
"Buat pelajaran bagi yang muda ma, tapi kalau sudah halal pastinya." ucap Mereno dengan menoleh ke arah Vino. "Jadi kapan Boy?"
__ADS_1
"Tergantung mempelai perempuan lah pa, siapnya kapan?"
Sana semakin menunduk malu, untung saja ada waiters datang dan menawarkan menu yang sepertinya menggugah selera. Mereka antusias memilih dan kemudian menunggu pesanan.
"Pa, Ma, kak Vanka belum datang ya?"
"Nggak jadi datang, anaknya habis diberi vaksin, badannya sedikit panas."
"Pantesan tadi sore Bimud tidak menghubungi Sana," lirih Sana yang masih terdengar jelas oleh Raya.
"Ya kemungkinan karena sedang menenangkan anaknya." Raya. Sana cukup terkesiap akan tajamnya pendengaran Raya, padahal Sana sudah berkata selirih mungkin.
✓✓✓
Di sebuah kamar, seorang perempuan berhijab mengelus pipi gembul bayi yang baru saja tidur lelap.
"Kau tidurlah dulu, biar aku yang menjaganya. Nanti kalau dia rewel lagi, kau bisa begadang semalaman." Mengelus lembut pipi wanita yang berhijab itu, kemudian melepaskan jarum dan membuka hijab yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Suhu tubuhnya sudah mulai turun, tapi aku tidak tega meninggalkan dia sendirian."
"Nah, sekarang dia sudah tidur, sekarang tinggal menidurkan mamanya." Riki menarik lengan istrinya dan mendorongnya ke ranjang.
"Tapi aku belum pakai baju tidur!" elak Vanka.
"Baiklah, sebab istriku seharian ini sudah bekerja keras, maka saatnya dia mendapatkan layanan VVIP." Riki memeluk tubuh Vanka dan sedikit mendorongnya hingga masuk ke dalam kamar mandi. Vanka hanya menurut saat Riki menyuruhnya gosok gigi tentunya dengan pelayanan darinya.
"Yang, sepertinya tubuhmu kurusan ya!" ejek Riki sambil memilih baju tidur kesukaannya. Lalu mulai mengganti baju Vanka dengan pakaian malam. Tubuh Vanka memang sedikit berbobot, tapi meski begitu, tidak ada lemak diperut, sehingga terkesan seksi berisi membuat tangan Riki tidak segan untuk selalu berpetualang.
"Ayolah Sayang, kau selalu mengejekku. Aku tahu, aku ini gendut." Vanka cemberut, walau sadar memang tubuhnya sulit untuk dikecilkan.
"Sssssttt Kau!"
"Nikmati saja, aku tidak akan meminta lebih dari ini." Mulai memakaikan baju malam milik Vanka, entah kapan kain yang membungkus tubuh Vanka teronggok di lantai. Vanka memejamkan mata, menerima setiap sentuhan Riki yang membuatnya mabuk kepayang. Riki tersenyum menyeringai, tubuhnya meminta lebih, tapi akal warasnya masih normal untuk mengingat kelelahan sang istri akibat merawat anaknya.
__ADS_1
"Sayang, aku mencintaimu!"
"Walau aku gendut!" Riki tersenyum, perkara itu selalu diucapkan oleh bibir Vanka.
"Itu karena cara kamu berpakaian." Vanka sering menggunakan pakaian longgar seperti gamis. Sehingga terkesan gemuk, juga didukung oleh badannya yang lumayan besar. Tapi siapa sangka, jika gamis itu ditanggalkan, akan nampak tubuh padat berisi yang menggairahkan, lebih menggairahkan daripada model profesional. Gendut yang seksi.
"Tapi aku suka!" mengendus tengkuk Vanka, sambil tangannya menyimpulkan ujung tali pada punggung istrinya. Baju malam itupun terpasang sempurna di tubuh sang istri. "Kau sangat seksi, dan membuatku gila." Tangan itu sudah berselancar kemana-mana, bahkan bagian lembut yang sedikit lembab itu tidak luput dari serangannya.
"Sss ahhhhh ... Sayang!" Vanka mencoba untuk tidak mendesah. Mau menolak takut Riki marah.
"Ternyata aku tidak bisa mengendalikannya sendiri." Wajah Riki merah padam menahan sesuatu.
"Tapi ada dia disana!" Vanka mencoba menolak dengan selembut mungkin.
"Aku tahu tempat yang nyaman buat kita." Riki mencium bibir istrinya dengan begitu lembut, semakin memperdalam sapuan lembut itu hingga membelit seakan tidak ingin terpisah, berebut udara yang semakin menipis gejolak yang semakin menggebu membuat Vanka lupa akan rasa lelahnya. Kenikmatan ini tidak mungkin dia lewatkan.
"Kita di sini?" heran Vanka yang tidak menyadari bahwa dia telah sampai di balkon, bahkan tubuhnya sudah mendarat di sofa bed yang empuk nan nyaman itu.
"Kau begitu pintar memilih furniture yang serba guna." Riki tersenyum puas. Ada fungsinya juga meletakkan sofa bed di balkon kamar mereka.
"Tapi ... ahhhh!"
"Kita bisa menikmati penyatuan dibawah rembulan, Sayang!" Riki mulai berbuat sesuka hati. Mengelus perlahan paha istrinya, lalu merayap hingga bokong dan meremasnya pelan namun pasti, sedangkan wajahnya sudah berada di titik yang tepat untuk meninggalkan jejak kepemilikan. Dan mungkin Riki harus melewati dua gundukan kenyal nan lembut itu untuk sementara waktu.
"K_au lic_ik Rik! ahhh! sss!" racau Vanka disela-sela kenikmatan. Riki mendongak dan tersenyum sinis.
"Tapi kamu suka kan?" paham betul jika istrinya pasti kesal sebab Riki bilang tidak akan meminta lebih. Nyatanya itu hanya omong kosong.
"Kau licik!"
"Hemmmh!"
Ah tau gini nggak usah ganti baju sekalian.
__ADS_1
Bersambung....