Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Pekerjaan


__ADS_3

"Kami di suruh sama, Vino" ucap Sana.


"Vino, cucu tidak tahu diri itu," tangannya meremas koran yang berada di tangannya


"Bagaimana ini?" Sana menyenggol lengan Rindi meminta pendapat. Bingung sekaligus penasaran kenapa wanita yang sudah lanjut usia tapi terlihat elegan itu memindai mereka berdua tanpa berkedip.


*Meski sudah tua wajahnya masih terlihat cantik. batin Sana.


Andai tidak ada kerutan di wajahnya, sudah di pastikan nenek ini saingannya Luna Maya haha. batin Rindi*.


"Sebutkan namamu."


"Nama saya, Afsana Nek, biasa di panggil_"


"Afsa, saya akan panggil nama kamu Afsa," Sana mengerjapkan mata berulang kali. Tapi juga tidak protes, bukankah Afsa juga termasuk namanya.


"Kamu," menunjuk Rindi sekarang.


"Saya_,"


"Rindi, betul!. Vino sudah mengirim data diri kalian. Saya hanya mempekerjakan wanita dewasa bukan anak di bawah umur. Jadi, kau tinggalkan kakakmu di sini. Kau boleh pulang sekarang dan kau boleh menengok kakakmu hanya di hari Jum'at. Selain itu tidak ada jadwal untuk bertemu." Sana dan Rindi saling pandang. Mereka heran dengan sikap wanita tua di hadapan mereka.


"Saya_"


"Silahkan pulang dan pintunya ada di sana. Ingat, kau hanya boleh menengok kakakmu cuma di hari Jum'at," peringat terakhir wanita tua itu.


Setelah Rindi pergi dari sana keheningan pun terjadi kembali. Sana hanya diam menyaksikan Maria membaca koran.


"Apa kau tidak ingin menanyakan apa pekerjaanmu?" Maria akhirnya mulai pembicaraan. Sepertinya Sana ini termasuk orang yang sungkan fikirnya.


"Maaf, Iya," senyuman tercetak jelas di bibir Maria.

__ADS_1


"Kau mengingatkan aku pada masa laluku." Maria lalu bangkit dari duduknya "Ikuti aku, akan aku tunjukkan apa pekerjaanmu."


Dari setiap tempat yang di laluinya Sana hanya berdecak kagum 'Sangat indah dan mewah' itulah kata yang pas untuk menilainya.


"Kamu, akan menjadi asisten saya. Sebenarnya Vino menyarankan kamu untuk menjadi ART di rumah ini. Tapi saya rasa kamu tidak pantas mendapatkan jabatan sehebat itu."


What? apa bedanya ART dan asisten? bukankah itu sama sama julukan untuk pembantu. pikir Sana.


"Lalu, apa tugas tugas saya, Nyonya?"


"No, no no jangan panggil aku Nyonya, tapi Madam ingat Ma_Dam."


"Iy_ iya Madam." ucap Sana canggung."


Apa bedanya? itukan sama saja.


" Madam dan Nyonya sangat berbeda. Dalam dunia bisnis saya, Madam lebih terkesan berkuasa dari pada kata Nyonya," Sana terkesiap mendengarkan kata kata yang keluar dari mulut Maria. Bagaimana bisa orang tua itu bisa menjawab pertanyaan apa yang ada di dalam otaknya.


"Pertama, kau harus mengikuti kemana pun aku melangkah. Kedua sama seperti nomer pertama. Dan ketiga jangan banyak tanya, cukup kau lakukan saja apa yang aku perintahkan. Dan keempat sama seperti nomor kedua. Dan kelima, semua perintahku adalah hak paten yang tidak bisa Kamu bantah atau pun Kamu cegah. Apa kamu paham," otomatis kepala Sana hanya mengangguk setuju.


"Pernah, Madam, saya jadi TU di sekolah di kampung saya," jawab Sana.


"Bagus, tapi jangan kira jadi TU adalah pekerjaan yang luar biasa. Di sini, Kamu tidak ada apa apanya di banding pembantu saya."


Sana jadi semakin penasaran dengan kehidupan Madam Maria yang sekarang sudah menjadi Bos barunya ini.


Kaki jenjang Madam Maria telah membawanya sampai ke ruang keluarga. Sebuah ruangan yang luasnya mungkin seukuran lapangan sepakbola menurut Sana. Di sana sudah berjajar satu orang perempuan cantik memakai blazer berwarna biru muda. Dan beberapa orang berseragam ART ada sekitar enam orang. Di sisi lain ada tiga pria yang berbadan kekar, dua orang satpam dan satu lagi berbaju hitam pasti itu seorang supir.


"Selamat pagi Madam," sapa mereka kompak.


"Pagi, oke langsung saja. Pagi ini cucu saya telah mengirimkan seseorang sesuai janjinya tempo hari. Tapi karna barangnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan_," Maria menatap semua yang ada di sana. Mereka menunduk saja membuat suasana semakin hening. Dan Sana di buat bingung apakah yang di maksud barang adalah dirinya atau yang lain.

__ADS_1


"Saya akan mempekerjakan dia di bidang yang lainnya. Kalian bertiga boleh pergi dan kamu Saras berikan pakaian yang pantas untuknya," menunjuk Sana setelah itu melangkahkan kakinya menuju arah tangga.


"Nona, ikuti saya. Mulai hari ini, saya yang akan memandu anda selama seminggu. Tapi setelah itu anda harus bekerja sendiri tanpa bantuan dariku," kata gadis itu sambil berjalan ke dalam sebuah ruangan "Owh, iya namaku Saraswati. Panggil saja aku Saras," mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Sana.


"Aku Sana, senang berkenalan dengan anda."


Lalu keduanya kini masuk ke dalam ruangan itu. Saras telah memberikan banyak pelajaran untuk Sana agar nantinya bisa menyelesaikan tugas yang di embannya dengan benar.


"Memang pekerjaan saya jadi apa seh, Mbak," heran Sana, sebab dia tidak terlihat seperti seorang karyawan atau pembantu.Tapi seperti seorang putri dari sebuah negeri dongeng. Dia hanya duduk seharian belajar cara berjalan cara makan dengan banyak alat dan terakhir cara menyapa dan cara bersikap.


"Sudah jangan banyak tanya, nanti kau juga akan tahu sendiri. Ingat, cara jalan yang sudah aku ajarkan," Sana mengangguk paham.


Bingung nggak seh, kemarin Vino bilang dia harus bekerja untuknya. Tapi dia malah di kirim kerumah neneknya Vino. Sana befikir dia akan menjadi pembantu di rumah yang sangat besar ini. Namun ternyata dia malah di dandani mirip dengan model kelas atas.


"Baiklah, ini hari pertama kamu bekerja di sini. Bagaimana pelajarannya, apakah kau sudah memahaminya? aku berharap apa yang di sampaikan oleh Saras dapat kau cerna dengan cepat," Maria sekarang duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja.


"Madam, semua sudah siap. Kita akan mulai pemotretan."


"Ini adalah peluncuran produk terbaru, aku ingin semuanya berjalan sesuai apa yang kita rencanakan. Wajah gadis ini sangat cocok untuk iklan produk ini. Aku ingin wajah gadis Indonesia yang natural dan manis tapi mengandung umpan."


"Ini pilihan yang tepat Madam. Lima menit lagi di mulai. Silahkan," Saras mempersilahkan atasannya untuk berjalan lebih dahulu. Saras dan Sana mengikutinya.


"Madam, apakah aku boleh tahu apa pekerjaan yang aku jalani sekarang?" tanya Sana yang belum mengerti dia akan ditugaskan untuk apa.


"Tidak ada, kau hanya akan menari mengikuti arahan dariku," Maria tergelak masih melanjutkan jalannya. Sana menyenggol lengan Saras, tapi hanya instruksi untuk diam yang dia dapatkan.


Kini mereka telah berada di sebuah ruangan yang Sana pernah lihat di tv. Bukankah ini tempat pemotretan seperti yang kayak di sinetron. batin Sana.


"Bagaimana apakah sudah siap?" saat Madam sampai di dalam ruangan itu.


"Siap Madam, beres semuanya. Ayo kita mulai bekerja."

__ADS_1


**Bersambung....


Pasti sudah bisa menebak nih apa pekerjaan Sana? ...Selamat membaca**


__ADS_2