
Vanka segera melindungi kepalanya yang hampir saja kena pukulan dari Rindi dengan kedua tangannya. Rindi sempat-sempatnya mengambil majalah dari nakas dan segera menuju pintu. Dia mengira jika yang datang adalah Mike.
"A .... Bimud! Kenapa bisa ada di sini?"
"Memangnya kenapa? Apakah kamu mengharapkan orang lain yang datang? Hayo ngaku!" Vanka menaikturunkan alisnya.
Lima menit yang lalu. Vanka hendak melihat kondisi Sana setelah mengobati Vino.
Vanka melihat Rindi dan Mike sedang adu mulut, memperebutkan sesuatu. Rindi si gadis yang tidak mudah dikalahkan itu menginjak kaki Mike dan kabur setelah menjulurkan lidahnya. Mengejek Mike.
Mike yang tidak mau kalah pun mengejar Rindi hingga sampai di tangga, tapi terhalang oleh Vanka.
"Ada apa Mike?" pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Tidak ada! Aku_ A_ku ha_hanya olahraga iya olahraga." jawab Mike asal.
"Olahraga pakai jas?" Vanka menarik sedikit lengan Mike.
"Memang tidak boleh, ya?" Mike menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa dia jadi terlihat bodoh ya. Vanka masih menatapnya dengan tersenyum simpul.
"Bukan begitu seh, aneh saja, apa karna kau kelamaan di Negeri orang, jadinya kehidupan mu pun aneh!" cibir Vanka yang hanya ditanggapi salah tingkah oleh Mike. Tidak mungkin dong, Mike cerita hal yang sebenarnya, terlebih Mike tidak tahu siapa Rindi dan kenapa bisa ada di rumah Madam Maria.
"Dahlah lupakan! Aku kira kau mau menemui Riki tadi. Dia ada di balkon sebelah," Vanka menunjuk di mana Riki berada.
Riki dan Mike adalah teman satu kampus saat Riki mengejar pendidikan di Columbia. Mereka saling mengenal sebab memang satu jurusan. Dari Mike itulah Riki bisa sampai mengenal Vanka. Mike dan Vanka bersaudara sejak kecil dan pernah menjalin suatu hubungan. Tapi sifat Mike yang Playboy dan badboy, membuat Vanka sering menangis. Vanka yang sampai rela menyusul Mike kuliah ke Columbia sebab ingin menjaga hubungannya baik-baik saja.
Tapi beda dengan Mike yang menyukai kebebasan. Dia dengan sadar meminta Riki untuk berpura-pura mencintai Vanka dan mendekati Vanka untuk menjadi kekasih. Agar Mike bisa memutuskan Vanka setelah itu terjadi. Dan ternyata Riki benar-benar mencintai Vanka, begitupun sebaliknya. Bahkan Riki meminta hal itu dari Mike secara jantan.
"Ah, iya lupa aku. Dimana dia? Aku akan kesana saja. Lama tidak mengobrol dengan dirinya. Permisi Vanka." Mike melewati Vanka lalu pergi ke arah Riki berada.
Mike, Mike, baru kali ini kau terlihat malu-malu saat mengejar seorang gadis. Batin Vanka.
Sekarang. Vanka masih tersenyum simpul mengingat kejadian yang menggemaskan menurutnya.
"Sepertinya bunga-bunga cinta di Bravo sedang bermekaran ya!"
Bukannya menanggapi, Rindi malah keluar kamar dan melongok kan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Setelah di rasa aman, dia menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Rindi, apa yang terjadi denganmu?" Sana nampak heran dengan kelakuan adiknya. Sedangkan Vanka tersenyum simpul.
"Ah, tidak! Kakak nampak sangat kacau, jadi cepat berberes dan kita nanti turun bersama." Rindu setengah mendorong Sana menuju kamar mandi.
"Iya, ini semua gara-gara om Riki yang membuatku menangis." kesal Sana.
"Ya, maka dari itu, cepatlah bersiap."
"Hufft"
Kini tinggallah Vanka dan Rindi. Vanka memang tadi melihat Mike mengikuti Rindi, tapi di hentikan oleh Vanka. Mike sebenarnya ingin meminta pertanggungjawaban Rindi yang tadi pagi, menabrak mobil Mike saat berada di mall.
"Sepertinya kau sedang sembunyi dari seseorang?" tanya Vanka kepada Rindi.
Rindi memainkan bibirnya sambil berpikir. Wajah kusutnya menampakkan jika dia dalam masalah kali ini.
"Bimud, aku menabrak mobil Si Busem itu," dahi Vanka seketika berkerut.
"Busem!"
"Iya, Bule Setengah Mateng!"
"Jadi gini! Saat aku menyusul kak Saras dan kak Sana kemarin, aku sempat bertemu dengan Si Busem itu. Kami sama-sama masuk ke dalam mall bersamaan. Tapi karna aku sedang buru-buru aku tanpa sengaja menabrak mobilnya. Salah sendiri dia berhenti di tengah jalan dengan mendadak."
"Maksudmu, kamu yang membuat goresan pada mobil Mike?" ucap Vanka menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kenapa Bimud juga berlagak sama kayak Faza menyebalkan!"
"Owh, tidak! Rindi apa kau tahu apa yang kau lakukan?" Vanka nampak begitu panik memegang kening dan berjalan mondar-mandir seperti orang yang bingung. Lalu mendaratkan dengan kasar bokongnya di samping Rindi.
"Aku tidak sengaja Bimud. Dia juga salah, sebab mengerem mendadak. Mana aku tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Eh malah dia minta ganti rugi," ucap Rindi setengah memelas.
"Bimud, bantu aku dong! Tapi jangan sampai ketahuan sama om Riki, kalau tidak, matilah aku Bimud," Rindi menangkup kedua wajahnya dan merebahkan kepalanya di pundak Vanka. Vanka tergelak lucu saat melihat tingkah Rindi yang seperti anak kecil.
"Berarti kau menabraknya dari belakang begitu kah?"
"Iya!"
__ADS_1
"Aku minta bantuan sama Faza, tapi bisanya minggu depan sebab si Busem itu mau cat yang sama dengan mobil itu berasal. Dan datangnya minggu depan. Sebagai jaminan biar aku tidak kabur, dia mau mengambil kunci motor aku. Ya nggak aku bolehin lah. Makannya kami berebut tadi di bawah." terang Rindi.
"Makannya, jadi cewek tuh yang anggun, lemah gemulai, jangan kayak preman pasar. Bawa motor saja kayak bawa angin," timpal Sana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sana lalu bercermin, mengoleskan make up tipis di wajahnya kembali untuk menyamarkan mata sembabnya.
"Sudah cantik saja oiii. Aku mana bajuku!" tanya Rindi.
"Tuh, disana." Menunjuk lemari tempat baju itu berada. Cepat mandi. Keburu dimulai acaranya nih." ucap Sana.
"Tungguin sebentar, ya! Sepuluh menit oke!" Rindi segera menuju kamar mandi setelah mengambil baju ganti.
"Sana, duduklah, aku ingin bicara sesuatu kepadamu," Vanka menepuk tepi ranjang di mana yang di duduki oleh Rindi tadi.
"Sana, aku minta maaf atas kelakuan Vino terhadapmu," ucap Vanka sambil menatap sendu wajah Sana.
"Apa Bimud tahu semuanya?" Vanka mengangguk.
"Iya! Bahkan aku juga melihat pertengkaran Mas Riki dan Vino." Sana menatap nanar wajah Vanka.
"Apakah Bimud tidak marah kepadaku?"
"Kenapa marah?"
"Sebab om Riki memukul Vino karna aku," ucap Sana lalu menundukkan kepalanya.
"Tentu saja!" Sana mendongak kembali dan menatap sendu wajah Vanka.
"Maaf Bimud!" Sana merasa tidak enak hati dengan keadaan ini. Jika boleh memilih, dia tidak mau terjerat akan pesona Vino. Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Dia hanya bisa menjalani tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti.
"Kenapa minta maaf?" Vanka memegang kedua tangan Sana.
"Bimud tahu, apa yang dilakukan Riki tidak benar dengan langsung memukul Vino dan Bimud kecewa akan hal itu, tapi jika melihat dari sudut pandang Riki, kita tidak bisa langsung menyalahkan dirinya. Dia hanya ingin keponakannya tetap murni di bawah pengawasan nya. Tapi Vino juga tidak benar, dengan seenaknya saja berbuat mesum kepadamu, aku lebih kecewa terhadapnya. Tapi aku akan semakin tidak kecewa jika kau tidak memiliki perasaan terhadap Vino,"
"Maaf!" lirih Sana.
"Jujur pada Bimud! Apa kau mencintai Vino?"
Sana hanya mengangguk tanpa kata.
__ADS_1
**Bersambung...
Kira-kira direstui Bimud apa tidak ya**....