Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Bocah


__ADS_3

"Mau kemana? Hemmmh!" Vino menaik turunkan alisnya.


"Sa_sa_saya ... !"


"Apa?"


Vino semakin mendekat, entah kenapa nafsunya selalu tersulut bila bertemu dengan Sana. Ada semacam getaran yang membuat hatinya meronta, perasaan yang mungkin dia artikan cinta. Tapi entah kenapa bibirnya terasa kelu untuk mengatakan.


"Maaf, Tuan. Saya_" Sana menelan saliva dengan susah payah. Sepertinya efek dari olahraga membuat penglihatannya membaik. Dia bisa melihat dengan jelas bentuk wajah Vino yang ternyata begitu menyejukkan mata.


Selama ini, aku mengenalimu dengan rasa yang singgah di hati. Dan kali ini, Tuhan begitu adil memberikan aku penglihatan yang lebih baik dari sebelumnya. Bolehkah aku lebih serakah? Aku ingin selalu melihat wajahnya yang seperti ini. batin Sana.


"Sana!" Entah kenapa hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Vino. Sedangkan tubuhnya semakin mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. Sana tidak lagi memiliki ruang untuk menghindar lagi. Punggungnya mentok sampai dinding. Vino segera mengunci Sana dengan tangan kiri yang juga menempel di dinding.


"Tu_tuan. Vi_Vi_!" Vino meletakkan telunjuknya di bibir mungil Sana, bahkan nafas Vino menyapu wajah Sana, membuat darahnya berdesir. Sana mengepalkan tangannya kuat.


Tidak! Kejadian itu tidak boleh terulang lagi. batin Sana. Dia teringat kejadian di hotel waktu itu.


"Kau cantik sekali," ucap Vino yang kali ini menelusuri wajah Sana dengan jari-jarinya, mengelus lembut pipi, hidung, hingga sampai pada bibir.


Deg


deg


Deg


Sana semakin mengepalkan tangannya, berusaha menetralkan detak jantung yang sudah tidak terkendali. Dadanya bahkan naik turun seirama nafas yang memburu. Wajah Vino yang begitu dengan berpengaruh besar pada dadanya.


"Sana, bolehkah aku mencintai dirimu?" berbisik di telinga Sana. Bahkan Vino rela membungkukkan sedikit punggungnya. Kini wajah Vino turun ke ceruk leher Sana. Tubuh Sana seketika meremang saat nafas Vino menyapu kulitnya.


"Jangan lakukan itu, Vino!" Suara Sana sedikit tersendat. "Aku mohon Vino," Vino beralih menatap bibir mungil Sana.


"Ja-jangan la_kukan itu," Vino mencium bibir Sana dan ********** pelan. Sana yang sadar akan perbuatan mereka, mencoba mendorong tubuh Vino dengan kuat. Tapi Vino yang tersulut oleh nafsu birahinya tidak menggubris perlawanan Sana. Dia semakin tertantang untuk berbuat lebih.


Vino semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Sana. Meski sekilas Sana menikmati perbuatan Vino, otak warasnya masih bisa berfikir bahwa semua itu salah. Dia tidak ingin terjerumus dalam kesesatan.


"Diamlah, dan nikmati ini," Vino semakin menggila, melepas pagutan di bibir dan turun ke ceruk leher Sana. Hati suci Sana memberontak, tangannya semakin kuat mendorong tubuh Vino. Dan.

__ADS_1


Plakkk


"AKU BUKAN PEREMPUAN MURAHAN!" Rasa perih terasa di pipi Vino bersama dengan kata yang keluar dari mulut Sana.


Vino terdiam sejenak, dia cukup terkejut dengan reaksi Sana. Vino masih meraba pelan pipinya yang terasa panas akibat tamparan.


"Sa_" Belum selesai Vino bicara, Sana sudah berlari dengan mata yang berembun. Vino melihat Sana mengusap pipinya. Sudah dipastikan bahwa Sana menangis. Ada rasa sesal yang tertinggal saat melihat Sana pergi dengan bahu yang bergetar. Vino tahu benar jika Sana sedang menangis.


"Apakah dia menangis?" bermonolog sendiri. "Tapi ...! Bukankah aku hanya menciumnya? Kenapa dia marah? Vino astaga Vino, kau telah membuatnya bersedih untuk yang kedua kali Vino."


Vino menyugar rambutnya dengan kasar. Dia mencoba mengingat kenapa bisa Sana begitu marah kepadanya. Dia ingat ketika di hotel Sana juga marah kepadanya sebab dia mencium Sana.


"Bukankah wanita akan bahagia saat mendapatkan ciuman dari pria yang disukainya? Tapi kenapa dia marah?"


Vino duduk di sofa memegang keningnya yang tiba-tiba pening.


Kenapa perempuan begitu susah untuk dimengerti? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Sana tidak mencintaiku? Tapi kenapa selama ini dia bersikap seolah-olah juga menyukai diriku. Batin Vino.


"Arggghh!" Vino mengacak rambutnya dengan kasar.


Kini Vino mondar-mandir dengan rambut yang kusut dan berantakan. Bahkan beberapa kali dia masih mengacak frustasi rambutnya sendiri.


Sana yang berlari kencang tanpa sengaja menabrak seseorang. Tepat di depan pintu kamarnya.


"Kau kenapa Sana?" Vanka memegang pergelangan tangan Sana.


"Ah, tidak Bimud, aku hanya kelilipan tadi, dan ingin segera membasuhnya agar mataku tidak iritasi," bohong Sana sambil mengusap-usap matanya yang nampak sembab dan memerah. Sana mengalihkan wajahnya agar Vanka tidak curiga.


"Benarkah?" Vanka bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca gerak tubuh seseorang.


"Benar Bimud, aku juga belum mandi jadi, permisi!" tanpa menunggu jawaban Vanka, Sana sudah membuka pintu kamarnya.


"Ah Sana." Tangan Vanka menggantung di udara. Mana ada orang yang kelilipan sampai sesenggukan dan suaranya sedikit berbeda dari biasanya.


Sana menutup pintu rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Sana merosotkan tubuhnya ke lantai.


Dia ingat akan nasehat ayahnya waktu itu. Saat dirinya masih kecil dan senang mengikuti ayahnya yang hobi bermain layang-layang. Suasana ramai di lapangan selalu membuat Sana begitu ceria dan enggan untuk pulang. Meski perempuan, Sana begitu suka dengan layang-layang.

__ADS_1


Datanglah seorang anak laki-laki bersama gerombolannya, ada sekitar lima pria yang tampak berpakaian serba mahal. Karna asyiknya bermain dan lari-lari mengejar layangan, tanpa sengaja Sana menabrak salah satu dari mereka.


Brukkk..


"Hai, gadis dekil! Beraninya kau menabrak ku!"


"Maaf aku tidak sengaja!" Sana mengulurkan tangannya hendak menolong. Kemeja putih bocah lelaki itu penuh dengan debu akibat terjatuh.


"Tidak usah sok baik kepadaku, kau gadis yang kotor dan menjijikkan!" Bocah kecil itupun meludah.


"Kata ayah aku cantik! Ucap Sana si bocah kecil yang polos.


"Apa kau tidak sadar, kau dekil dan begitu kotor," ejek yang lainnya.


"Kau mau lihat bagaimana gadis yang cantik?" bocah tengil yang berambut pirang itu menimpali. Sana yang polos itu hanya mengangguk.


"Hai cantik, keluarlah!" dari dalam mobil keluar seorang gadis berambut hitam legam dengan jepit rambut di kepala.


"Kotor begini kau suruh aku keluar, euww menjijikkan," gadis itu berjalan dengan lebay.


"Ini baru cantik!" pria berambut pirang yang terlihat lebih tua dari mereka mengecup pipi gadis itu dengan bertubi-tubi.


"Orang cantik itu, berada di tengah para cowok tampan seperti mereka," pamer gadis itu sombong. Entah siapa yang mengajarkan hal itu kepadanya.


Lalu gerombolan itu bubar setelah mencemooh dan mengejek Sana. Bahkan bocah kecil yang tadi ditabrak oleh Sana, mendorong Sana hingga terjungkal kebelakang.


"Sana!" suara ayahnya yang nampak berlari ke arah sang putri. Di lihatnya gerombolan bocah kecil itu naik ke dalam mobil dan meninggalkan debu berterbangan.


Sana mengadu kepada ayahnya. Dan bercita-cita ingin menjadi orang yang cantik agar di sayang semua orang.


"Teman-teman Sana juga banyak yang mengejek Sana, Ayah!" Sana mengakhiri aduannya.


"Nak, dengarkan ayah."


Bersambung.....


jangan lupa dukungannya ya

__ADS_1


__ADS_2