
"Terima kasih!" Rindi turun dari mobil Mike membukakan pintu untuknya. Bahkan Mike melindungi kepala Rindi menggunakan telapak tangannya.
"Jangan bilang terima kasih, Rindi. Aku seperti orang asing kamu perlakukan begitu." Mike memasang muka sendu. Bagaimana pria macam Mike bisa memporak-porandakan hatinya. Pria Cassanova dengan segudang pesona tentu memikat hati siapa saja termasuk dirinya bukan?
Meski Rindi sering mengelak dari kenyataan itu, semakin lama dia tidak bisa berbohong juga. Ketika jauh kadang dia rindu sosok Mike. Sosok yang pengertian dan lebih dewasa daripada dirinya. Rindi merasa dianggap wanita. Tapi itu tadi, dia tidak suka pergaulan Mike yang bergonta ganti pasangan. Lebih tepatnya takut diduakan.
"Kamu tidak mampir?"
"Nanti jika sudah waktunya." Ucap Mike. Rindi mengernyit heran. Ini bukan sikap Mike yang seharusnya.
Seringkali Mike minta mampir dan berlama-lama ngobrol dengan Raga (papa Rindi) atau Satria (adik Rindi? tapi ini kenapa berbeda?
Kalau mamanya Rindi kalian pasti masih ingat namanya kan?
"Good night, sweet dreams."
Rindi melepas kepergian Mike dengan perasaan berbeda.
"Non! Saya bawakan kopernya!" Pinta pak Satpam mengagetkan Rindi. Entah berapa lama dia tertegun.
"Ah, iya, Pak!"
"Tuan Mike sering datang kemari kok Non."
Rindi berhenti melangkah. Menoleh pada satpam seolah meminta penjelasan lebih. "Tuan juga tidak masuk. Dia hanya melihat ke jendela kamar Non."
Sekilas bayangan masa lalu itupun muncul kembali. "Jangan pernah menemuiku walaupun kamu mampu."
"Sesuai permintaanmu. Tapi bila rindu izinkan aku bertandang kerumahmu walaupun hanya menyapa lewat angin malam." Lirih Mike pilu. Rindi melirik Mike yang berulang kali mendongakkan kepalanya. Matanya memerah. Rindi beranggapan bahwa pria itu tengah mabuk. Tapi seingat Rindi, tidak tercium bau alkohol sama sekali.
"Baik-baiklah di negeri orang. Jaga dirimu baik-baik. Doaku selalu menyertaimu. Begitu pula dengan cintaku. Maaf,bila cintaku terlalu dalam hingga memberatkan hatimu juga."
Kini kembali pada Rindi yang berdiri tegak dengan air mata mengembun.
"Di sana! biasanya Tuan Mike akan berdiri beberapa jam." Tunjuk Pak Satpam pada luar pagar yang langsung menghadap ke kamar Rindi di lantai dua.
'kamu benar-benar orang yang menepati janji. Tiga tahun lamanya kamu bersikap begini. Selalu dan selalu mencintaiku.'
"Terima kasih infonya, Pak!"
Ucap Rindi tanpa menoleh.
"Sama-sama,Non!"
Sampai di dalam rumah. Raga dan Satria masih asyik bermain catur.
"Halo...apa kabar semuanya?" Sapa Rindi memeluk Raga serta melabuhkan ciuman di pipi sang ayah. Seorang ayah yang masih segar meski usianya menginjak tujuh puluh tahunan.
Tentu saja usianya segitu. Sebab Raga adalah teman Madam Eyang. You know.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Seorang wanita paruh baya berhijab membawa nampan diikuti oleh salah satu pelayan di mansion tersebut.
"Mama!" Rindi melebarkan tangan memeluk mamanya lalu tanpa permisi melabuhkan ciuman bertubi tubi.
"Anak bandel, masih ingat pulang ke rumah juga to?" Rindi mengernyit heran. Begitupun dengan Raga.
"Kenapa mama bilang begitu?"
Rindi mengambil nampan dan meletakkan minuman di meja. Semua orang juga heran sebab ada juga kopi kesukaan Rindi di sana.
Ikatan ibu dan anak memang luar biasa. Terkadang Risya juga tiba-tiba membuat bolu pelangi kesukaan Rindi padahal orangnya belum tentu pulang. Dan ketika sudah jadi, ternyata Rindi benar-benar pulang ke rumah. Padahal sejauh yang Raga tahu, keduanya jarang berinteraksi lewat dunia Maya.
"Ya, pasti kamu keluyuran dulu baru pulangkan?"
Raga dan Satria menatap Rindi penuh selidik. Lebih tepatnya mencari perbandingan atas ucapan Risya yang mirip cenayang.
"Aku...a..aku!"
"Besok nikahkan saja dia, Pa! Tadi pasti pulangnya sama cowok."
Owh tidak! Jangan sampai kejadian tiga tahun lalu terulang lagi.
Rindi bahkan tidak diizinkan balik lagi ke Australia tanpa dikawal oleh Mike. Dan kali ini, pasti akan langsung dinikahkan.
Untung saja pas itu Mike mau mengalah demi Rindi hingga bersedia membuat kesepakatan dengan dalih pembuktian cinta.
"Memang kamu sudah makan, Nak?" Risya bertanya.
Tumben sekali? Batin Rindi.
"Sudah tadi sama teman."
"Owh! Calon mantu mama ya!" Timpal Risya.
"Mama....!" Rindi melangkah lagi menaiki tangga.
"Biarkan dulu Ma, kasihan Rindi."
"Mama katanya kangen sama kak Rindi, kenapa dibiarkan pergi, Ma!"
Isst ini si adek sialan' batin Rindi sebab setelah Satria berkata demikian Risya pun mengatakan "Iya, mama lupa. Rindi Sayang, nanti mama temani kamu tidur ya! Mama kangen banget soalnya."
Satria menjulurkan lidah dan Rindi semakin geram. Raga tetap santai sambil merangkul bahu istrinya.
"Pa...!"
Mohon Rindi agar membujuk Risya.
"Boleh ya, Pa!" Risya pun ikut membujuk. Parahnya lagi Raga mengangguk saja.
__ADS_1
Kan, dasar takut bini. Batin Rindi makin lemas.
🌸🌸🌸🌸
Vino mendengus kesal sebelum akhirnya menurut. Membuka pintu dengan malas.
"Hai...bro!"
"Kamu...ngapain kemari?"
Ketus Vino dan hatinya semakin kesal ketika menyadari keadaan adiknya sedang tidak beres.
Faza seperti orang tidak waras dengan rambut berantakan serta baju kusut. Bau alkohol menguar ke indera penciuman.
"Faza .. kamu mabuk?" Otomatis suara Vino meninggi. Faza semakin hari semakin ada saja kelakuannya. Kapan sih adiknya ini tidak menyusahkan.
"Hai..bro, Abang rupanya euggh!"
Faza bicara sendiri. "Dia benci padaku, Bang. Dia pergi dariku."
Vino semakin mendengus. "Pasti gara-gara perempuan." Mata Vino semakin melebar tatkala Arjun datang dengan kemeja yang basah.
Arjun cukup tersentak kala melihat Vino ada di sana. Dia berpikir jika Vino akan datang besok paginya. Jadi dia bisa sembunyikan Faza di bagian samping dari rumah itu.
"Darimana kamu?" Ditujukan pada Arjun.
"Saya parkir di rumahnya pak Kades." Tentu saja, pekarangan rumah Sana terbilang sempit bagian depannya. Sedangkan untuk bagian samping masih dalam proses pembangunan. Jadi, selama proses pembangunan mobil akan di titipkan dirumah pak Kades yang memiliki halaman luas. Selain itu, Arjun juga memiliki maksud lain untuk mendekati anak gadis kepala desa itu.
"Oh, kamu ingin sembunyikan ini dariku gitu?" Pungkas Vino kala melihat Arjun menggaruk kepalanya.
"Bukan gitu, Bos! Saya juga beruntung sebab Bos sudah ada di mari. Ada hal urgen yang Bos tangani."
"Ulah dia?" Tunjuknya pada Faza. Selalu saja begitu. Faza tak pernah jera dan selalu melakukan kesalahan. Dan Vino sebagai kakak selalu melindungi.
"Saya akan cerita nanti. Tapi sebelumya kita bawa dia untuk istirahat terlebih dahulu."
Faza sudah terduduk dan tidur di lantai yang basah sebab gerimis.
"Menyusahkan saja." Gerutu Vino. Masih mengangkat tubuh Faza lalu memapahnya di bahu untuk dibawa ke kamar lain yang biasa ditempati Arjun ataupun tamu lain.
"Tunggu! Aku izin pada Sana dulu." Melepaskan tubuh Faza begitu saja.
"Boossss!" Tentu saja Arjun kewalahan. Secara bobot Faza lebih berat dari Arjun.
"Biarkan tergeletak di sana. Banyak dosa sih makannya berat." Celetuk Vino.
"Sayang, kenapa lama?Faza! Kamu apain dia...Sayang?"
To be continued
__ADS_1