
"Bimud, kami tidak tahu, apa hubungan diantara kami. Aku memang merasa ada hal lain di hati ini Bimud. Sebuah rasa yang membuat aku nyaman dan juga rindu. Sebuah rasa yang membuat aku ingin selalu dekat dengannya. Dan kadang ada rasa curiga atau mungkin bisa dikatakan cemburu saat aku melihat dirinya bersama orang lain."
Sana nampak berbinar, sekilas berkaca-kaca, lalu meremas kedua tangannya. Nampak sekali dia gelisah dan frustasi.
"Itulah namanya cinta. sepertinya kau benar-benar jatuh cinta kepada adiknya Bimud itu."
"Aku tidak tahu Bimud. Dia tidak pernah mengatakan apapun. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tidak rela hatiku terluka kembali."
"Hai, dengarkan Bimud mu ini. Ungkapkan lah dan katakan kau mencintainya. Seseorang tidak akan mengerti maksud hatimu jika kau hanya diam saja." Sana menggelengkan kepalanya lemah. Lalu tersenyum miris, matanya berkaca-kaca.
"Aku pernah melakukan itu kepada seseorang, aku mencintainya dan dengan jujur mengatakan itu setelah dia mengungkapkan perasaannya. Tapi apa? Dia mencintaiku sebab suruhan dari ayah." Sana tersenyum sinis.
"Aku merutuki kebodohanku karna pernah mencintai Dion. Bimud tahu setelah itu, apa yang aku dapatkan? Cinta yang kandas di tengah jalan." Sana mengusap air mata yang hampir saja jatuh. "Aku tahu kekurangan yang aku miliki, jika aku sulit mengenal wajah seseorang, bagaimana aku akan mengenal cinta? Bukankah cinta turun dari mata lalu ke hati?"
Vanka semakin menggenggam tangan Sana lalu mengelus bahu Sana pelan, setelah itu turun lagi mengelus tangan Sana dan menepuk-nepuk punggung tangan itu pelan.
"Sana dengarkan aku, mungkin saja apa yang kamu ucapkan itu benar. Yah, bahkan semua orang membenarkan itu. Tapi bagaimana tentang pernyataan cinta yang tidak pernah terlihat. Seperti cinta kita terhadap Tuhan misalnya." Vanka tersenyum tipis dan menjeda ucapannya.
"Kita sering bicara tentang cinta kepada Tuhan, kepada Allah SWT, kepada Rosul tapi kita tidak pernah melihatnya?" Sana menggelengkan kepalanya berulang kali. Vanka akhirnya tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya.
"Jadi menurutku, yang benar adalah cinta dari hati, lalu dibenarkan oleh mata," ucap Vanka.
"Wah, menarik sekali. Itu artinya, cinta itu kita yang mengenalinya dengan hati dan saat kita melihatnya kita akan semakin yakin jika kita mencintainya! Begitukah?" ucap Rindi antusias.
"Hai, anak kecil, sejak kapan kau berada di situ?" ucap Vanka mencebikkan bibir. Gadis yang satu ini memang selalu berpikir lebih dewasa daripada usianya.
"Ayolah Bimudku yang manis, aku juga perlu bimbingan agar tidak salah jalan saat menapaki lorong cinta agar aku nantinya tidak akan tersesat sampai tujuan." ucap Rindi sambil mendekati Vanka dan Sana dengan membawa sisir.
__ADS_1
"Mau apa kamu bawa sisir?"
"Hehe biasa, penata rambut profesional, tunjukkan keahlianmu." seloroh Rindi kepada Sana yang langsung ditanggapi gelak tawa oleh Vanka.
"Bimud juga! Pokoknya hari ini aku mau tampil feminim." ucap Rindi. Sana dan Vanka pun akhirnya melempar senyum manis mereka dan memberi kode satu dengan yang lainnya. Oke acara rias merias segera dimulai. Vanka dan Sana membuat Rindi seperti gadis yang seharusnya, bukan gadis tomboy yang memakai celana jeans robek dan hodie.
✓
✓
Acara dimulai dengan pembukaan, ucap puji syukur kepada Tuhan masing-masing, lalu beberapa acara sambutan-sambutan. Tidak ada pembacaan ayat suci Alquran sebab tidak semua keluarga beragama Islam. Jadi akan lebih baik berdoa dalam hati sesuai agama masing-masing.
Kini acara makan bersama, semua keluarga telah berkumpul dan berbaur menjadi satu. Tidak ada perbedaan kasta, atau apapun yang menonjol. Semua sama dan dianggap keluarga di sini. Tapi akan lain lagi jika mereka bertemu dalam lingkup bisnis. Mereka seperti tidak memiliki ikatan keluarga. Bekerja dengan kemampuan masing-masing dan bersaing dengan ketat. Bisnis ya bisnis keluarga ya keluarga, keduanya tidak bisa dicampur adukkan.
"Kan kita jadi terlambat gara-gara kalian," bisik Vanka di tengah antara Sana dan Rindi. Semua orang menatap mereka penuh takjub. Seperti kupu-kupu yang tengah memamerkan sayapnya.
Sedangkan kedua gadis itu nampak masih diam di tempat, sebab mereka berhadapan dengan pasangan masing-masing kecuali dua kursi yang kosong berhadapan dengan Mike dan Vino. Mau tidak mau mereka berjalan ke arah meja yang masih kosong.
"Kenapa aku harus semeja sama Si Busem ini seh." rutuk Rindi dengan sebalnya, tapi mau bagaimana lagi, dia tetap harus duduk kan?"
Ting ... Ting ... Ting Saras berdiri dan memukul gelas kosong dengan sendok di tangannya.
"Selamat malam semuanya, sekarang kita berada di penghujung acara yaitu makan bersama keluarga besar Bravo. Madam ingin menyampaikan beberapa patah kata, silahkan Madam."
"Seperti pada acara-acara sebelumnya, Madam hanya ingin menyampaikan bahwa kita adalah keluarga, satu darah dan satu nasab. Jika di dalam bisnis ekonomi kita adalah lawan, tapi dalam situasi selain itu, kita tetap satu darah, kita keluarga. Saya selalu ingin keluarga Bravo tetap rukun dan damai di bawah naungan Bravo Grup. Silahkan berkarya bercita-cita, mencapai dunia dan menggenggam dengan telapak tangan kalian, tapi jangan pernah kalian melawan orang tua. Hormati dan sayangi mereka, sebab karna mereka kita selalu ada."
"Saya tidak pernah berhenti menceritakan kisah ini, kisah dimana Eyang Bradipta dan Eyang Vorlita tidak pernah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Bahkan untuk anak angkatnya, yaitu ayahku Dirga. Kita sudah melihat semua kilas balik silsilah keturunan kita tadi di layar. Jadi, untuk saat ini dan seterusnya, Madam sangat menginginkan kalian tetap bersatu. Boleh bersaing dalam bisnis tapi, jika diluar itu semua kita tetap keluarga. Ingat, keluarga. Jangan sampai hal buruk yang pernah memporak-porandakan keluarga beberapa tahun lalu terulang kembali."
__ADS_1
Hanya itu yang ingin saya sampaikan, setelah satu tahun nanti, mungkin kedepannya, mungkin saya sudah tidak akan lagi berada di dunia bisnis. Tapi saya akan tetap mengawasi kalian. Jangan ada kehancuran. Jika itu terjadi, saya tidak akan segan. Kalian mengerti!" ucap Maria sambil tersenyum.
"Sekian dari saya. Silahkan kita mulai acara makan malam kita dengan bismillah. Ah maaf, untuk yang beda agama silahkan menggunakan cara kalian masing-masing. Terimakasih!" Maria kembali duduk di susul tepuk tangan.
"Silahkan, mari makan semuanya, jangan sungkan! Kalau kurang kita rampaok saja restoran keluarga Kevin," seloroh Maria.
"Beres Madam, abis itu semua harus bantu cuci piring ya," canda Kevin.
"Pabrik keluarga Anderson kayaknya masih jaya, ngapain cuci piring, kita buang saja, lalu ambil yang baru dari sana," Seloroh Flora melirik Jenna.
"Nah, mantap tuh Eyang!" Dava mengacungkan kedua jempol. Semua tergelak dengan tingkah konyol mereka.
Semua terlihat khidmat menyantap sajian menu yang terhidang di hadapan mereka, sesekali di hiasi dengan canda tawa. Mereka mulai menyantap makanan pembuka, makanan berat, atau menu utama dan dessert. Semua orang terlihat bahagia dengan perasaan yang berbeda tentunya.
Sana terlihat canggung berhadapan dengan Vino. Sesekali matanya melirik ke arah Vino yang berdesis sebab rasa pedas dari makanan yang dia makan.
"Makanlah yang ini, rasanya lebih sedikit manis," Sana meletakkan gudeg dan ayam kecap manis ke piring Vino. Vino menyantapnya tanpa ada senyum. Sana sedikit merasa terganggu dengan sikap Vino. Entah kenapa dia menjadi rapuh dan sakit saat Vino berusaha menghindari dirinya.
Belum habis makanan di piring Vino, pria itu berdiri dan meninggalkan meja makan. Bahkan Sana melihat dengan jelas, lauk yang dia taruh tidak disentuh sama sekali.
"Vino, mau kemana Luh?" ucapan Mike bahkan tidak di gubris. Beberapa orang menatap mereka penuh tanda tanya. "Vino mau ke toilet katanya," terang Mike mencoba membuat suasana kembali normal.
Sana menaruh sendoknya, selera makannya pun hilang bersama kepergian Vino. Entah kenapa mata Sama mulai berembun.
"Jangan kau hiraukan Vino, aku akan bicara kepadanya nanti," ucap Mike hati-hati agar tidak terdengar yang lainnya.
Bersambung...
__ADS_1
.