
...Mohon maaf lahir dan batin. Semoga di bulan yang penuh ampunan ini, senantiasa kita di beri kemudahan dalam beribadah. Amin ya rabbal alamin...
"Mbak, Mbak, ini ada surat dari sekolah tempat mbak bekerja," Rindi setengah berlari menemui Sana yang sibuk menjemur pakaian.
"Surat, surat apa Rin?"
"Owh, rapat akhir tahun," Sana merobek bagian ujung surat itu dan membacanya. "Besok pagi ada rapat akhir tahun seperti biasa. Tapi kok bukan aku yang buat, ya, biasanya aku yang buat surat seperti ini," gumaman Sana masih terdengar jelas oleh Rindi.
"Mungkin Mbak tidak masuk beberapa hari ini, atau karna Mbak tidak bisa di hubungi handphone Mbak kan ilang." Pernyataan Rindu di benarkan oleh Sana.
"Tapi kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang tidak enak, ya!" tutur Sana melipat surat itu kembali
"Positif thinking saja, Mbak. Semoga semuanya baik-baik saja." Rindi menasehatinya
"Ayo Mbak kita sarapan dulu," ajaknya kemudian.
"Apa kamu masak?"
"Tidak! hehe aku beli lontong sayur dan lauk pauk di warungnya pak haji lebih irit." Sana mengernyitkan alisnya.
"Sejak kapan orang jajan di bilang irit."
"Mulai sekarang lah, Mbak? Mbak nggak tahu apa, dengan jajan, kita bisa ngirit pengeluaran tenaga dan pengeluaran waktu." Rindi terkikik langsung masuk kedalam rumah. Dia bersiap menghindari cubitan kecil dari kakaknya.
"Rindi, Rindi. Kamu selalu ada ada saja." Sana menggelengkan kepalanya berulang.
"Enak, Kak" mulut penuh dengan sayur bayam.
"Kita nggak di kasih makan sama author yang lebih enak dari ini, kak."
"Entahlah dasar author."
Nanti kalau author sudah kaya. Dan banyak yang dukung karya author. hihi. sekilas iklan.
🍂🍂🍂
Di sebuah gedung perkantoran, seorang pria mengambangkan senyum di bibirnya. Dia begitu bersemangat membuka laptopnya setelah sampai di kantor. Bukan Pekerjaan yang dia lihat tapi sebuah video yang menunjukkan seorang perempuan sedang asyik beraktivitas sambil berdendang sesuka hati.
"Kau semakin terlihat imut saja," gumamnya. Seperti gadis yang sedang jatuh cinta, tangan kanannya menyangga dagu dan matanya tidak lepas dari video yang dia simpan dari rekaman cctv di apartemennya.
Bagaimana caranya agar dia terikat kepadaku, ya. Aku harus menjauhkan dia dari Riki. Dia cantik dan menarik. Lumayan.
__ADS_1
Vino mengetukkan jari jarinya di meja seirama dengan ketukan kepalanya yang memikirkan bagaimana cara membuat Sana semakin jauh dari Riki. Pumpung ada kesempatan.
"Ada cara untuk membuat seorang gadis menjauh dari pasangannya. Yaitu ketika kita menikung si gadis buat dia tergila gila. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat mereka berpisah," ucap Arjun kala itu.
"Rencana jahat yang sungguh menarik. Walaupun tidak sepenuhnya Sana jatuh cinta kepadaku nanti. Setidaknya aku bisa merusak hubungan Riki dan dia. Aku akan menjadi orang ketiga. Ah, aku lebih tampan dan kaya dari pada si Riki. Siapapun pasti jatuh cinta kepadaku," Dengan pedenya Vino mengambil handphone.
"Riyan, aku ada tugas untukmu. Jalankan misi kita selanjutnya. Sekarang." titah Vino dan mematikan sambungannya sepihak.
Riyan yang tengah membongkar mesin mengumpat kesal. "Aku mendapat tugas dari Mas Vino, Fa. Izin keluar sebentar, ya?" pintanya kepada Faza selaku sang bos di bengkel.
"Bos Luh itu gua apa dia seh?" ketus Faza. Keduanya sama sama kotor oleh oli berkutat dengan mesin motor dan mobil memiliki rasa kepuasan tersendiri bagi mereka.
"Luh tetap bos gua yang paling keceh," saut Riyan terkekeh menoel pipi Faza.
Nggak banget ya, seorang cowok menoel pipi satu genre ih berasa kayak yang lagi jalan di lampu merah wkwkkkk.
"Najis gua sama omongan, Luh." Faza beringsut menjauh. Ngeri akan tingkah Riyan yang menyeramkan.
"Apa Riyan sudah berubah haluan sekarang," ucap montir lainnya yang tiba-tiba muncul mengagetkan Faza. Satu pemikiran dengan Faza. Pakai acara noel pipi segala hi ngeri. Faza pun memilih pergi ke kamar mandi.
Riyan berjalan cepat meninggalkan counter terbesar di kota itu. Counter yang memiliki dua lantai dengan banyak model handphone. Dengan langkah lebarnya menghampiri mobil yang masih terparkir di halaman.
"Maksud, Bos."
"Luh, tu, pergi beli satu barang saja lama bener." naik satu oktaf.
Bos kayak gini enaknya di apain, ya.Apa pas buat orang tuanya nggak sabaran makanya keluarnya juga punya sifat nggak sabaran.
Riyan mengembuskan nafas "Antri bos," sahut Riyan sedikit malas.
"Mana barangnya sini," Vino meraih paper bag dan menggeledah isinya.
"Kenapa warnanya pink gini?" ucap Vino.
"Biasanya cewek suka sama warna pink," ucap Riyan asal. Sebenarnya dia tadi tidak melihat apa yang dia beli. Dia hanya bilang pesan satu handphone keluaran terbaru. Saat di tanya untuk siapa ya, tinggal bilang buat cewek. Gitu saja dah.
"Sok tahu, Luh." Vino masih mengotak atik ponsel baru itu. Memasukkan kartu di sana dan tidak lupa menyimpan nomor miliknya juga. Senyum bahagianya tak lepas dari bibirnya sepanjang jalan.
"Kayaknya bahagia banget Bos."
Vino menaikkan satu alisnya "Kenapa kamu nanya begitu?"
__ADS_1
"Dari tadi Bos senyum-senyum sendiri" jawab Riyan. Kini mereka sudah semakin dekat dengan desa Sana. Perjalanan tinggal beberapa menit lagi.
"Sejak kapan senyum milik orang yang bahagia saja," sungut Vino. Riyan tidak memiliki ide untuk menjawab hanya menjawab sekenanya.
"Ya, biasanya kalau senyum itu sebab bahagia, Bos," ucap asal dari Riyan.
"Tidak tuh, wanita yang bersedih juga pura pura senyum kayak di drakor kemarin. Di Chanel ikan terbang juga sama matanya mengalir air mata tapi masih senyum tuh,"
Sak karepmu wes, Bos. Sejak kapan seorang Bos nonton film drakor, dan tv channel ikan terbang lagi. Kayak e perlu di rukiyah tuh si bos.
"Masih jauh, nggak rumahnya," mata Vino memindai setiap jalan yang mereka lalui. Pedesaan yang terlihat subur dengan banyak tanaman dan perkebunan.
"paling setengah kilo lagi, Bos. Tikungan depan kita sudah sampai." Riyan memutar mobilnya, lalu berhenti di sebuah rumah paris dengan gaya klasik modern bercat abu abu. Rumah yang asri dan terlihat bersih terawat.
"Yakin, Luh ini rumahnya?" tatapannya berkeliling memperhatikan setiap inci dari rumah itu. Halaman yang tidak begitu luas tapi indah dengan berbagai tanaman bunga dan bonsai.
"Luh, ketuk sana," titah Vino. Vino memilih duduk di kursi ayun ukir yang berada di dekat kolam ikan. "Adem banget di sini," Vino tersenyum lebar. Entah kenapa hatinya terasa damai berada di tempat ini.
"Nggak ada orangnya, Bos."
"Kita tunggu lima menit jika masih belum datang kita pergi dari sini." Vino menikmati ayunan sambil memejamkan mata.
Tidur apa tiduran tuh.
Bersambung....
Biarin tuh si Vino ngorok di bangku ayunan. haha
...Jangan lupa kasih gua sajen ye...
...like,...
...komen...
...vote...
...hadiah...
...biar semangat gua....
...Terima kasih...
__ADS_1