
"Cinta, kau hadir bagai mimpi, hinggap di sanubari tanpa kutahu kapan yang pasti. Saat melihatmu, ada rasa yang berbeda. Rasa luar biasa yang aku sendiri tidak tahu maknanya. Kau tetap ada meski tidak nyata. Selalu dibayangan meski aku mencoba menghilangkan.
Diri yang sakit sebab tergores sayatan pengkhianatan. Nyawa yang hampir pergi meninggalkan raga sebab jiwa yang terus merana. Cinta, hadirmu penyembuh luka yang menganga, penawar rindu yang telah meracuni kalbuku.
Diri ini amat benci untuk terluka. Amat lemah untuk kau tinggalkan. Terlalu rapuh untuk melepas dirimu pergi. Cinta jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri." Vino membacakan kata yang membuat Sana terpesona akan setiap kalimat yang keluar dari mulut Vino.
Kini acara puncak, di mana Pangeran Wangi melamar Putri Cinta mengungkapkan cinta dan memusnahkan mantra kutukan yang ada di tubuh Putri Cinta.
Sedangkan Saras mondar-mandir menekan kepalanya. "Madam bagaimana ini?" Saras nampak frustasi.
"Apanya yang bagaimana?" Madam nampak santai saja.
"Vino merubah teks yang seharusnya dia ucapkan." Kesal Saras membanting teks itu ke meja.
"Biarkan saja, yang penting feel-nya dapat," Madam kini beralih menatap layar ponselnya. "Sebaiknya kita pergi saja, daripada kau pusing disini sebab memikirkan Vino," ucap Maria mengambil tas tangannya dan berjalan anggun menuju pintu keluar.
"Cinta, aku mencintaimu!"
"Pangeran Wangi, aku juga mencintaimu," meski berulang kali, Sana belajar mengatakan hal itu, tapi malam ini sungguh terasa berbeda.
Sana dan Vino saling menatap penuh rasa cinta. Seakan-akan mereka memang nyata mengungkapkan. Vino menekan mikrofon yang terhubung dengan para kru.
"Sana, aku mencintaimu," bisik Vino. Tentu saja Sana tidak mendengarnya, sebab suara bising panggung dan riuhnya tepuk tangan penonton.
"Dan untuk persembahan malam ini, Nona Sana akan menyanyikan sebuah lagu perpisahan." Vino menoleh ke arah Sana dan mengernyit heran.
"Lagu ini, adalah lagu kenangan yang aku nyanyikan saat aku dan teman-temanku sewaktu kecil dulu berpisah."
💕Pertemuan kita di suatu hari
menitihkan ukhuwah yang sejati, bersyukur ku kehadirat Ilahi diatas jalinan yang suci.
Vino sungguh terpukau dengan suara Sana "Suara ini," batin Vino.
Namun kini, perpisahan yang terjadi
hanya duka yang menimpa diri,
tertunduk ku di atas suratan
Kau tetap pergi jua
kan kuutus salam ingatanku
__ADS_1
dalam doa kushukku setiap waktu tanda bahwa ku selalu mengenang dirimu.
Ya Allah kuatkan hati hamba-Mu di atas perpisahan ini.
Di atas perpisahan ini. 💕
Sana mengusap air matanya, dadanya bergemuruh hebat. Sana tak kuasa membendung air matanya.
Dirinya ingat saat terakhir berpisah dengan teman-teman dan seorang kakek yang mengajari dirinya cara menyuling bunga menjadi minyak.
Vino melangkahkan kaki sedikit demi sedikit, dadanya bergemuruh hebat.
Dia iya, dia yang berada di taman waktu itu, dan dia juga gadis baju putih yang datang mengajariku bermain layang-layang. Gadis yang selalu tegar dan kuat. Hebat dalam menghadapi tantangan hidup. Gadis yang mampu membuatku harus tegar dan tabah. Juga gadis yang mengajari aku cara mengiklaskan mereka yang sudah pergi. batin Vino.
"Gadis bunga gading!" ucap Vino tanpa sadar.
Sana mendongakkan kepalanya, Vino sudah berada tepat di hadapannya. "Apa kau bilang?"
"Gadis Bunga Gading," seru Vino mengulangi kata-kata nya.
"Pria Ciplukan," lirih Sana hampir tak terdengar, namun karna ini panggung dipenuhi oleh mikrofon, mereka tentu bisa mendengarkan. Suasana begitu tenang dan hening. Para penonton bergeming, menunggu adegan kedua ini secara live. Dengan harap cemas, semua orang menangkupkan kedua tangan mereka. Larut dalam drama dadakan yang terjadi.
"Bagaimana ini?" tanya kameramen. Kru yang lainnya nampak enggan memberi komentar. Mereka semua harap-harap cemas.
"Arahkan kamera tepat pada mimik wajah," Sutradara terlihat begitu antusias melihat adegan ini.
"Aku, pria yang pernah berjanji menjaga istana hatimu."
Vino merentangkan kedua tangannya.
"Benarkah itu kau?" Sana masih belum yakin.
💞Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang
Dan demi sinarnya, yang bersinar terang. Aku bersumpah, cinta, raga dan nyawaku, akan aku korbankan kepada dirimu suatu saat nanti💞
"Dan saat itu terjadi, meski Tuhan memberikan banyak nyawa, aku akan memilih nyawa yang terakhir, setelah mengatakan kepadamu, bahwa Aku jatuh cinta kepadamu." Sana dan Vino mengatakannya bersamaan.
Setelah itu, pelukan hangat dan erat terjadi di antara keduanya. Vino telah menemukan gadis dengan suara merdu yang dia temui di taman malam itu.
"Aku mencintaimu Sana, aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Aku tidak bisa lagi berpisah darimu," Vino merenggangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Sana, kemudian mendaratkan kecupan di kening dan berpelukan kembali.
Semua orang tercengang dan hanyut dalam suasana romantis mereka.
__ADS_1
"Hai, hidupkan party popper!" teriak Sutradara.
"Yes, fantastis. Aku akan kebanjiran job setelah ini!" Sutradara itu begitu antusias.
Tepuk tangan begitu riuh dan suasana panggung semakin ramai oleh para penyanyi menyanyikan lagu jatuh cinta.
Rating acara malam ini menjadi urutan yang pertama. Semua kru dan pelatih akting yang semula kesal dan mengumpat Vino yang tidak pernah hadir untuk latihan, sepertinya harus meminta maaf dan berterima kasih. Tapi,siapa yang berani menyinggung cucu dari presiden Bravo itu.
Malam semakin larut, acara panggung telah selesai dengan hasil yang mengagumkan. Semua media sibuk membicarakan acara keren yang berlangsung secara live. Bahkan menjadi trending topik dan di gadang-gadang akan menjadi acara terpopuler, dengan pengeluaran yang begitu fantastis.
"Sana, kau pulang dengan siapa?" tanya Vino malam ini. Dia melihat Sana tengah sendiri di halaman gedung dengan ponsel di tangannya.
"Aku menanti taksi datang!"
jawab Sana dengan gugup.
Owh, jantung! Berhenti membuatku menderita dengan dentumanmu itu. Aku sungguh tersiksa jika kau terus lincah berdetak. Vino, benarkah tadi dia memeluk dan mengatakan cinta kepada ku? batin Sana.
"Selarut ini?" tanya Vino khawatir. "Dimana kak Vanka, Saras dan Madam?" tanya Vino beruntun .
Berani sekali mereka membiarkan kekasihku sendiri di sini. Kekasih. Vino sungguh berbunga jika menyadari Sana sebagai kekasihnya saat ini.
"Madam bersama Eyang Fiona tadi, dan kak Saras mengantarkannya. Aku tadinya mau bareng Om Riki dan kak Vanka, tapi mereka ternyata sudah pulang." ucap Sana dengan menunduk.
"Hai, kalau bicara, tatap matanya!" Vino menarik dagu Sana dengan lembut.
Cup "Selalu manis" Sana melototkan matanya sebab ciuman dadakan itu.
"Kenapa mukamu berubah seperti itu, mau cium lagi," goda Vino.
"Tidak!" jawab Sana dengan cepat diikuti gelengan kepala.
"Cancel saja taksinya. Kau ikut aku!" ucap Vino.
"Tapi ... !" Sana takut jika sampai Riki mengetahui hal ini.
"Ayolah!" tepat saat itu, berhenti sebuah mobil di dekat Sana.
"Itu taksinya sudah datang, aku duluan ya Vino." Sana ingin melarikan diri sebelum Vino menjawabnya.
"Sana, Sayang! Aku ini calon suamimu, jadi kau pulang bersamaku."
"Om Riki!"
__ADS_1
"Aku akan bicara padanya! Aku akan mengatakan agar dia mengalihkan tanggung jawab atas dirimu padaku." menarik tangan Sana.
Bersambung....