Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Gadis ceroboh


__ADS_3

Saras dan Sana kini telah sampai di sebuah kafe. Kafe yang cukup nyaman untuk menghilangkan stres. Kafe autdoor dengan panorama taman buatan ini begitu asri. Kita seperti di tempat piknik tanpa membawa bekal sendiri. Meski tempatnya cukup jauh dari jalan raya, tapi pengunjungnya cukup ramai. Dan kali ini, Sana berada di tempat khusus di lantai dua. Cukup privat.


"Kamu pinter banget memilih tempat, Sana! Aku merasa rileks di sini. Boleh tidur nggak seh?" celoteh Saras sambil beberapa kali menutup mulutnya yang menguap.


"Bukan aku, tapi ada seseorang yang merekomendasikan tempat ini, dan mengajakku ketemuan di sini." Saras seketika tersedak oleh minuman yang baru saja disedotnya.


"Kami janjian sama seseorang? Cewek apa cowok?" tanya Saras.


"Cowok!"


"Apa itu kekasihmu?" Jika iya, mungkin Saras harus memberi kado tissue sepupunya yaitu Vino.


"Bukan!"


"Syukurlah, setidaknya pria bodoh itu masih dapat kesempatan," gumam Saras yang tidak terdengar jelas oleh Sana.


"Kakak bicara apa?"


"Ah, nggak ada! Aku hanya bilang stik ini rasanya beda dari yang lain ya!" Mengunyah stik kentang yang berada di hadapannya.


"Stik di sini diberi perasa dari bunga-bunga yang di petik sendiri dari taman ini," ucap Sana. Padahal Saras tidak memperhatikan itu.


"Ah, pantesan rasanya beda."


"Aku malah pengin tidur di sini," Saras meluruskan kakinya yang terasa pegal. Dia juga bersandar pada kursi lesehan dan bantal yang disediakan di sana.


"Sana, sungguh ini sangat nyaman sekali. Aku semalam cuma punya waktu dua jam untuk tidur, dan sekarang ada bantal dan camilan. Aku jadi tidak tahan lagi dengan kantuk ini, Sana!" Semilir angin, semakin membuat mata Saras menyipit.


"Hai, tapi ini bukan rumah!" Sana memperingati Saras agar menunda jam tidurnya. Saras masih semampunya bertahan, tapi matanya begitu sulit untuk terbuka.


"Anggap saja ini hotel," suara Saras sudah terdengar lesu. Dan beberapa menit kemudian, suara dengkuran terdengar.


"Sepertinya kau begitu kecapekan, sampai-sampai tidak tahu tempat untuk istirahat!" ejek Sana sambil tersenyum geli. Saras sepertinya sudah melanglang buana sampai ke Nusakambangan, eh ke Nusamimpi.


Tak berapa lama, seorang pemuda tampan, datang. "Hai! Maaf aku terlambat! Tadi ada pasien."


"Owh, tidak apa! Aku juga pasien, jadi harus sabar menunggu," gurau Sana. Mereka sudah pernah berjumpa beberapa kali, sebab sebelumnya Sana juga menjalani terapi yang sama. Hanya saja yang dahulu di tangani oleh dokter Will.


"Silahkan duduk!" ucap Sana mempersilahkan. Tapi Pras termenung sejenak, saat melihat seorang gadis nampak tenang dalam tidurnya. Alisnya terangkat sebelah, tapi bibirnya tersenyum tipis.


Gadis ini, ceroboh sekali. Batin Pras. Semua gadis pasti akan menjaga imagenya dan tidak sembarangan tidur di tempat umum.


"Dia kak Saras, asistennya Madam Maria!" ucap Sana.

__ADS_1


"Asisten Madam Bravo?" Pras melongo tidak percaya.


"Iya, tentu saja! Apa kau tidak mengenalnya?"


"Kalau namanya sering mendengar, dalam dunia bisnis, dia terkenal sebagai Citah Darat. Kemampuannya dalam berbisnis melesat bagaikan Citah berlari, kecerdasan dan keuletannya melebihi para kaum pria. Bahkan beberapa perusahaan besar pernah menawarkan pekerjaan kepadanya dengan gaji dua kali lipat, tapi gadis ini menolaknya, dengan dalih pekerjaan bukan hanya tentang gaji, tapi juga balas Budi. Bahkan beberapa orang menyebutnya berlian Madam Maria."


"Dia adalah seorang Asisten yang Sukses memperlihatkan keterampilan komunikasi, interpersonal, dan pengambilan keputusan yang kuat. Dia mampu menjadi pemimpin yang cakap dan pemain tim dengan keterampilan layanan pelanggan yang sangat baik. Menjadi terorganisir dengan baik dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya, itu adalah atribut penting untuk Asisten. Selain keterampilan umum ini, banyak pengusaha mungkin mencari calon Koordinator SDM potensial untuk memiliki keterampilan berikut. Dan itu semua dimiliki oleh gadis seperti dia." Pras menatap lekat wajah Saras.


"Sepertinya kau begitu memujanya," tanya Sana. Pras hanya tersenyum manis menanggapi.


"Apakah terlihat seperti itu? Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di kepalaku."


"Tapi sepertinya itu dari hatimu!" cerca Sana.


"Entahlah!" Pras tersenyum menyadari ada perasaan berbeda saat bertemu langsung dengan gadis yang dia anggap ceroboh.


"Kak Saras orangnya asyik kok! Hanya saja, dia memang agak galak. Bukan galak seh, tapi tegas."


"Dia juga tidak suka to the poin!" Sambung Pras. Sana mengerutkan keningnya.


"Sepertinya kau ...!"


"Tidak! Aku seorang psikolog dan juga dokter. Jadi aku bisa membaca karakter seseorang hanya dari wajahnya."


"Hai, siapa yang dokter di sini!"


Sana terbahak sebab ucapan Pras.


"Ya, ya, baiklah, kita kembali ke tujuan awal kita ketemu di sini."


"Oke, kata Riki kau kembali mengalami faceblind lagi kemarin?" tanya Pras.


"Iya! tapi tidak tentu waktunya, bisa kapan saja. Dan dua hari berikutnya, aku kembali sembuh. Tapi kadang juga kumat lagi," terang Sana.


"Itu tidak terlalu bermasalah, tapi cukup membuatmu kesulitan nantinya. Sebab kini kau menjadi publik figur. Aku sarankan kau melakukan tes, misalnya kau harus bisa menyebutkan ciri-ciri seseorang. Baik melalui bentuk rambut, postur tubuh dan barang yang kerap kali dia pakai." Sana menghembuskan nafasnya pelan.


"Terapi itu lagi," lirih Sana, yang masih didengar oleh Pras.


"Tentu, kau harus mulai dari beberapa orang terdekat, bukankah dahulu tes itu cukup berhasil?" Sana mengangguk saja.


"Sana, ini belum seberapa. Kau jangan cemas. Jika sewaktu-waktu mengalami kesulitan, kau bisa menghubungi diriku kapan saja."


"Apakah aku harus meminum obat kembali?"

__ADS_1


"Ah, itu tidak perlu. Yang terpenting adalah, kau harus tenang, jangan mudah panik saat menghadapi orang banyak, apalagi nanti jika kau tengah berada di panggung hiburan. Buatlah suasana hatimu setenang mungkin."


"Iya, aku mengerti. Tapi ... !" Sana ingat, jika bersama Vino dia tidak pernah salah mengenali.


"Tapi apa?"


"Tidak ada!"


"Jangan ditahan dalam hati saja! Ungkapkan lah!" Sana termenung sejenak memikirkan, apakah perlu mengatakan hal yang sangat rahasia baginya.


"Ah tidak! maksudku tidak apa-apa!" Pras masih menatap lekat wajah Sana. Pras menaruh curiga jika Sana tengah menyimpan sebuah rahasia saat ini.


"Eh, kau belum memesan sesuatu dari tadi!" Sana baru menyadari jika bagian meja di hadapan Pras masih kosong.


"Tidak apa! Aku tidak menginginkan sesuatu apapun. Tapi, kita ketemu untuk berkonsultasi tentang penglihatanmu itu."


"Yah!" Sana mengangguk saja. Sebenarnya dia enggan untuk bertemu dengan Pras. Sebab Sana masih bisa mengatasi masalahnya.


"Om Riki sering menelpon ku untuk menemuimu." Sana mengaduk minumannya dan menyedot sampai tersisa sedikit.


"Kau sungguh beruntung memiliki paman yang begitu peduli."


"Over protective," koreksi Sana.


"Itu karena dia begitu menyanyangi dirimu."


"Mungkin," Sana menggidikkan bahunya acuh.


Pras memandang Sana dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kau akan mengerti suatu saat nanti, jika yang dilakukan oleh pamanmu adalah benar. Itu adalah bentuk kasih sayang dan kepeduliannya terhadapmu." Sana termenung sejenak, ada pembenaran di otaknya.


Beberapa menit mereka bercakap-cakap, kadang serius juga kadang santai, kadang diselingi canda tawa.


"Sepertinya kita sudah terlalu lama mengobrol, aku harus pulang!" ucap Sana. Sana bangkit dari duduknya dan berpamitan. Tapi lima menit kemudian berbalik lagi.


"Apa kau tidak melupakan sesuatu?"


"Astaga kak Saraaas!" Sana mendekat dan menggoyangkan tubuh Saras agar bangun.


"Kak Saras, ayo bangun!" Pras mengulum senyum melihat tingkah Saras yang menggemaskan. Saras menggeliat dan kemudian tidur kembali.


"Sepertinya dia tipe orang yang sulit dibangunkan."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2