
Di apartemen Rhein hanya ada satu kamar tidur dan itu sangat luas. Rhein menyuruh Hazel tidur di tempat tidurnya dan dia akan tidur di sofa yang berada di ruang tamu.
"Tuan, saya tidur di sofa saja dan Tuan bisa tidur di tempat tidur ini."
"Kamu tidur di tempat tidurku saja, atau mau kita tidur bersama?"
"Hah?" Hazel melongo mendengarnya.
"Makannya jangan cerewet. Kamu kalau sudah mengantuk, kamu tidur saja, dan untuk sementara pakai saja piyama tidur milikku." Rhein melepas kemejanya dan melemparkan seenaknya.
"Tuan!" seru Hazel sambil memalingkan wajahnya karena dia tidak mau melihat tubuh polos Rhein.
Rhein yang melepas resleting celananya melihat pada Hazel yang membuang wajahnya.
"Kamu belum pernah melihat tubuh seorang pria sama sekali, Ya? Memangnya kamu tidak pernah diajak pergi pelanggan di club malam tempat kamu bekerja?"
"Saya hanya seorang pelayan di sana. Saya bukan wanita penghibur, Tuan."
Rhein tampak tidak canggung malah berganti baju dengan piyama tidurnya.
__ADS_1
"Hazel." Rhein membalikkan tubuh Hazel dan Hazel sangat kaget. Sejak kapan Rhein sudah berada tepat di hadapannya?
"Tuan, ada apa?" tanya Hazel takut dengan masih memejamkan kedua matanya.
"Buka matamu," titah Rhein.
"Tuan sudah memakai baju?"
"Huft! Memangnya kalau aku telanjang kenapa? Tubuhku bagus, yang ada kamu malah ingin menyentuhnya."
Glek
Hazel menelan salivanya dengan susah. "Tu-Tuan mau apa?"
Hazel membuka salah satu matanya seolah dia sedang mengintip apa pria di depannya sudah memakai baju apa tidak?
Rhein yang melihat tingkah Hazel malah terkekeh. "Gadis perawan, aku sudah bilang berapa kali sama kamu, kalau aku sedang mengajak bicara, kamu lihat aku."
"Saya malu jika melihat Tuan tidak memakai baju," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Malu? Kenapa kamu yang malu? Seharusnya aku yang malu, tapi untuk apa aku malu sama kamu?"
"Saya malu karena tidak sopan melihat tubuh seseorang tanpa baju."
"Dasar gadis perawan."
"Kenapa Tuan memanggilku gadis perawan? Nama saya Hazel."
"Tapi kamu masih perawan, kan? Katanya kamu bukan seorang wanita penghibur. Itu berarti kamu masih perawan."
Hazel terdiam. Rhein mendekatkan wajahnya pada wajah Hazel yang menunduk. "Kamu kenapa? Apa ayah tiri atau kakak tiri kamu pernah melakukan hal di luar batas?"
Hazel seketika mengangkat kepalanya dan dia tampak memandang dari dekat wajah Rhein yang terlihat sangat tampan. Rhein memiliki alis tebal dan manik mata biru itu seolah membuat Hazel terpaku.
"A-aku memang masih perawan, mereka belum sampai menyentuhku." Air mata Hazel menetes perlahan.
Rhein melihat hal itu seolah ada sesuatu yang mencubit hatinya. Rasanya sakit, malah lebih sakit dari pada saat dirinya tau Nala menikah dengan kakak kandungnya.
"Kamu tidak bohong, kan?" Hazel menggeleng. "Kamu jangan khawatir, selama kamu di sini, aku pastikan mereka tidak akan bisa mendekati kamu. Sekarang kamu tidur saja." Rhein mengusap-usap kepala Hazel dan pergi dari sana.
__ADS_1
Hazel melihat Rhein yang keluar dari kamar hanya terdiam. Dia masih tidak percaya jika dia sekarang berada di sebuah apartemen orang asing yang entah kenapa dia menurut saja. Hati Hazel seolah percaya dengan pria bernama Rhein itu.
Hazel melihat ke dalam lemari besar Rhein dan menjatuhkan pilihan pada piyama dengan motif gambar kucing hitam. "Piyama ini lucu sekali. Aku tidak menyangka pria seperti tuan Rhein suka piyama dengan gambar kucing seperti ini."