
Pria yang menolong Hazel usianya tidak jauh dari usia Hazel. Dia mengajak Hazel untuk duduk sebentar menenangkan diri dan kebetulan di dekat sana ada cafe yang masih buka.
"Siapa namamu?"
"Namaku Hazel Waltz. Aku dari California, dan aku datang ke sini ingin mencari alamat seseorang."
"Kenalkan, mamaku Orlaf Danner." Tangan pria itu menjulur mengajak Hazel berkenalan.
Hazel dengan ragu-ragu menyambut tangan pria yang bernama Orlaf. Mereka berdua duduk saling berhadapan dan Hazel tampak memegangi teh hangat miliknya.
"Aku salut akan keberanian kamu untuk datang ke negara asing seorang diri. Memangnya keluarga kamu di mana? Kenapa kamu malah sendiri ke sini?"
"Kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku tinggal dengan ayah dan kakak tiriku yang sama sekali tidak memperlakukan aku dengan baik."
"Jadi karena itu kamu nekat datang ke sini?" Hazel mengangguk.
"Mendiang mamaku mengatakan jika aku bisa menemui sahabat mamaku di sini, dan siapa tau dia bisa membantuku karena di California sudah tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku ingin melupakan semua hal yang terjadi padaku setelah kepergian kedua orang tuaku, Orlaf." Wajah Hazel seketika tampak sedih karena dia teringat oleh Rhein dan semua kenangan bersamanya.
"Coba tunjukkan padaku alamatnya, siapa tau aku bisa membantumu mencarikan alamat kamu."
Hazel mengeluarkan surat dari sahabat mamanya dan Orlaf membaca alamat itu. Dia seketika mendelik membaca alamat surat itu.
"Apa kamu tau di mana alamat itu?"
"Tentu saja aku tau. Apa mau aku antar sekarang?"
Hazel terdiam sejenak. "Apa benar kamu tau? Kamu tidak sedang membohongiku, Kan? Maaf, aku takut jika kamu akan berbuat jahat seperti supir mobil tadi."
"Memangnya aku ada tampang orang jahat ya?"
"Kita tidak bisa menilai dari wajah. Buktinya supir tadi tampangnya yang baik dan ramah, tapi ternyata dia orang jahat."
"Aku serius mengetahui di mana alamat itu dan jaraknya tidak jauh dari sini."
Hazel sekali lagi terdiam. Dia masih takut dan ragu-ragu mau percaya dengan bantuan yang di tawarkan Orlaf.
"Begini saja, kamu katakan saja aku harus lewat mana kalau mau ke alamat itu, nanti biar aku jalan ke sana sendiri."
"Kamu benar-benar masih tidak percaya jika aku orang baik? Ya sudah kalau begitu begini saja. Aku akan naik dengan motorku dan kamu berjalan mengikuti aku, tapi kalau merasa capek karena berjalan kamu jangan mengeluh."
__ADS_1
"Huft! Sebenarnya aku juga masih capek karena tadi berlari dan itu lumayan jauh."
Orlaf seketika tertawa. "Kamu itu lucu sekali dan sekaligus membingungkan." Orlaf beranjak dari tempatnya menuju motornya di luar. Hazel terpaksa mengikutinya karena dia juga bingung mau bertanya siapa lagi?
"Orlaf, aku--."
"Naik." Orlaf sudah ada di atas motor sportnya saja. Hazel berdiri terdiam di sana. "Kalau tidak percaya dan tidak mau naik, aku tinggal saja kamu di sini dan kamu bisa bertanya pada orang lain. Maaf, Hazel, aku tidak punya banyak waktu. Aku ini juga mengantuk sekali karena semalaman aku tidak tidur karena ada acara kampus."
Orlaf sudah menyalakan mesin motornya. Dia juga sudah memakai helm besarnya.
Hazel akhirnya naik karena dia tidak mau ditinggal sendirian di sana. Walaupun di sana siang hari, tapi keadaan di sana agak sepi.
Hazel akhirnya dibonceng oleh Orlaf pergi menuju alamat itu.
"Pegangan, Hazel. Aku mau mengebut agar cepat sampai."
Orlaf seketika menggas lebih cepat dan reflek saja Hazel memeluk dengan erat tubuh Orlaf.
Hazel pun menyandarkan kepalanya pada punggung Orlaf. Tidak lama Hazel merasakan motor Orlaf sudah tidak berjalan lagi.
"Sudah sampai, Hazel."
"Apa ini rumahnya? Kamu tidak salah, Orlaf?" Hazel terkejut melihat rumah sebesar itu. Ada taman yang sangat luas di sana.
Pintu gerbang dibuka dan kembali motor Orlaf berjalan memasuki jalanan yang agak panjang untuk menuju rumah utama.
Sesampai di dalam gerbang itu, ada seorang wanita cantik sedang membawa gunting tanaman melihat pada Hazel dan Orlaf.
Orlaf melepaskan helmnya dan tersenyum pada wanita cantik itu. "Hai, Mom. Ada yang mencarimu."
Hazel mendelik mendengar apa yang baru saja Orlaf katakan.
Wanita cantik itu melihat pada Hazel yang sudah turun dari motornya.
"Orlaf, siapa dia?" Wajah wanita itu mengkerut bingung.
"Orlaf, kamu benar, kan kalau ini alamatnya? Tidak salah, kamu?"
"Tentu saja benar, itu alamat rumahku, Hazel."
__ADS_1
Wanita cantik itu mendekat ke arah Hazel, dia ingin melihat lebih dekat wajah Hazel.
"Kamu siapa? Apa aku mengenalmu?"
"Aku Hazel Waltz, putri dari mendiang Soledad Waltz. Apa benar Tante yang bernama Keiko Nagawa?"
"Oh Tuhan! Kamu anaknya sahabatku si pemilik wajah lembut itu?" Wanita bernama Keiko itu langsung memeluk Hazel erat.
"Tante, mamaku sudah meninggal."
"Oh Tuhan! Pantas saja dia tidak pernah membalas suratku. Kamu kenapa bisa datang ke sini sendirian? Bukannya terakhir Soledad bilang dia sudah menikah dengan orang lain. Di mana ayah tirimu?"
"Ceritanya panjang, Tante."
"Mom, sebaiknya kita bawa Hazel masuk ke dalam dulu. Dia baru saja mengalami kejadian buruk waktu pertama kali datang ke sini."
"Kejadian buruk? Kejadian buruk apa yang menimpamu, Sayang?"
"Aku baru saja hampir dirampok oleh supir mobil online yang aku naiki, Tante."
"Oh Tuhan! Tapi kamu tidak apa-apa, kan, Hazel?"
"Dia tidak apa-apa, Mom. Dia berhasil kabur dan bertemu denganku tadi."
"Ya sudah, kalau begitu kamu masuk ke dalam rumah dulu. Nanti kamu ceritakan semua yang terjadi denganmu di sana. Orlaf, kamu ajak Hazel masuk dulu karena mommy mau membereskan alat berkebun mommy."
"Okay, Mom!"
Hazel dan Orlaf berjalan berdua. "Kenapa bisa kebetulan begini ya, Orlaf?"
"Aku sendiri tidak tau." Orlaf menggedikkan bahunya acuh. "Tapi sekarang kamu tidak tahu lagi bukan kalau aku benaran tidak ada tampang orang jahatnya?"
"Aku minta maaf, aku hanya trauma dengan kejadian saat pria itu menodongkan pisau itu padaku."
"Oh ya, Hazel. Apa kamu akan lama berada di sini? Jujur saja, saat baru pertama bertemu denganmu, kamu gadis yang menyenangkan. Kedua mama kita bisa berteman baik bahkan menjadi sahabat. Aku berharap kita juga bisa menjadi sahabat baik."
Hazel mengangguk beberapa kali. "Tentu saja, aku mau menjadi sahabat kamu, Orlaf, dan mungkin aku akan lama tinggal di sini. Aku sudah tidak mau kembali ke sana," ucap Hazel lirih dan terdengar ada kesedihan di dalamnya.
"Ada apa, Hazel? Apa kamu sedang mengalami sesuatu hal yang buruk sehingga kamu tidak ingin kembali ke rumah kamu?"
__ADS_1