
Pada gambar itu terdapat tulisan. "Model terbaik yang pernah ada dan berlian seperti Hazel akan menghasilkan banyak uang untuk bisnis"
Rhein seketika menggenggam erat, dia ingin sekali menghancurkan ponsel yang dia pegang.
Rhein beranjak dari tempatnya, DNA berjalan pergi meninggalkan Renata yang terkejut dengan sikap seenaknya Rhein yang pergi tanpa permisi.
Renata yang berteriak memanggil Rhein, sama sekali tidak digubris oleh Rhein yang terus berjalan menuju mobilnya.
"Mau ke mana dia? Apa ini ada hubungannya dengan gadis pelayan itu? Awas saja kalau ini gara-gara gadis pelayan itu," geramnya marah.
Rhein mengendarai mobilnya dengan sangat cepat menuju ke tempat di mana Hazel melakukan pemotretan.
Sesampai di sana Rhein segera turun bahkan membanting pintu mobilnya dengan kasar.
Rhein masuk ke ruang pemotretan dan sekali lagi kedua matanya membulat melihat Hazel sedang berpose dengan seorang model pria yang hanya memakai celana boxer untuk tidur bagi laki-laki.
Tangan pria itu memegang pada perut Hazel. Sebenarnya Hazel agak risih dengan sentuhan pria itu, tapi dia harus membuat dirinya tahan dan bekerja secara profesional.
"Hai, Rhein! Lihat hasil pemotretan Hazel. Dia benar-benar sangat cantik dan menakjubkan. Aku yakin jika brand baju dalam wanita ini akan meledak dipasaran karena melihat Hazel yang begitu pas menggunakannya."
Rhein hanya menatap datar pada Nyonya Matthew. Dia berjalan melewati wanita paruh baya itu dan menuju ke Hazel yang sudah selesai melakukan pemotretan.
Hazel sedang bersama sang fotografer melihat hasil jepretannya.
"Apa pemotretannya sudah selesai?"
"Rhein? Kamu kenapa ada di sini?"
"Menjemput kamu pulang. Kamu masih ingat, kan, jika kamu masih bekerja di tempatku dan ini sudah siang. Seharusnya kamu menyiapkan makan siang untukku."
Hazel tampak bingung. "Tapi bukannya kamu sudah mengizinkan aku libur hari ini dan kamu bisa makan siang di luar seperti biasanya. Lagi pula kalau aku membuat makanan, kamu tidak pernah makan di rumah akhir-akhir ini."
"Kenapa kamu cerewet sekali sekarang. Kamu hanya seorang pelayanku, dan tugasmu hanya menuruti keinginanku. Aku mau makan, atau buang itu urusanku, Hazel. Sekarang ikut aku pulang karena pekerjaan kamu di sini sudah selesai.'
"Kalau begitu aku berganti baju dulu."
Hazel berjalan dengan perkataan Rhein. Dia memang seorang majikan, tapi tidak seenaknya juga berbuat hal sesukanya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Hazel keluar dari ruang ganti dengan pakaian casual yang tadi dia pakai.
"Kita pulang sekarang." Tiba-tiba tangan Rhein menggandeng tangan Hazel berjalan dengan agak menarik Hazel.
"Rhein, aku belum meminta izin dengan nyonya Matthew."
"Besok aku izinkan, kamu tidak perlu khawatir."
Nyonya Matthew sampai heran melihat sikap Rhein yang terlihat kesal itu.
Di dalam mobil Rhein tidak mengatakan sepatah katapun. Hazel juga hanya melihat ke arah Rhein yang mukanya terlihat seperti es batu.
"Rhein, apa karena kamu lapar sehingga kamu kesal hari ini?"
Rhein tidak menjawab, sampai akhirnya Hazel memutuskan tidak bicara lagi pada Rhein.
Sesampai di apartemen Rhein, Hazel langsung menuju dapur dan mulai membuat masakan untuk Rhein.
Rhein yang melihat bagian belakang Hazel entah kenapa dia ingin sekali memeluk tubuh Hazel dan menghirup aromanya dalam.
"Jelek. Sangat jelek. Apa kamu tidak sadar jika tubuh kamu tidak ada bagusnya sama sekali jika dibandingkan dengan model-model profesional lainnya."
Hazel seketika terdiam. Di dalam hatinya dia malah menganggap Rhein memang tidak pernah menyukainya. Tidur waktu pun dengannya hanya kesalahan semata.
Hazel seketika terkejut saat dia merasakan ada tangan melingkar pada perutnya dan kecupan lembut Rhein pada leher Hazel.
"Rhein, apa yang kamu lakukan?"
"Kamu menginginkan banyak uang, kan? Aku akan memberimu, kamu tidak perlu menunjukkan tubuhmu seperti tadi."
"Aku tidak mau mengambil uangmu secara cuma-cuma, Rhein. Lebih baik aku bekerja sebagai model saja, lagi pula tidak ada salahnya hanya berpose seperti itu."
"Bukannya kamu dari awal tidak suka dengan hal yang mempertontonkan dirimu. Kenapa sekarang berubah?"
"Sudah aku bilang jika itu hanya aku lakukan karena uang yang ditawarkan."
"Kalau begitu aku akan memberikan kamu uang yang sangat banyak. Bahkan aku bisa membayarmu dengan gaji sepuluh kali lipat dari yang diberikan oleh Nyonya Matthew."
__ADS_1
"Aku tidak mau pemberianmu. Aku hanya mau mendapat uang dari pekerjaan yang aku lakukan."
"Tentu saja kamu akan melakukan pekerjaan untukku. Temani aku malam ini sampai aku puas. Kita bercinta semalaman dan aku akan memberikan uang yang banyak untukmu," bisik Rhein pada telinga Hazel dan tangan Rhein pun sudah menelungsup pada bagian dada Hazel. Dia mencengkeramnya lembut membuat Hazel seketika membuka mulutnya. Rasanya Hazel sampai tidak bisa bernapas dengan baik.
"Re-Rhein, aku tidak menjual diriku untuk mendapatkan uang."
"Kenapa? Bukannya kita pernah melakukanya? Apa salahnya jika melakukanya lagi? Dan kamu tenang saja karena aku tidak akan menganggapnya itu sebagai kamu menjual diri, tapi kita hanya bersenang-senang."
Hati Hazel sangat pedih mendengar ucapan Rhein, padahal Hazel waktu melakukan itu bukan ingin bersenang-senang dengan Rhein, melainkan dia melakukannya karena cintanya pada Rhein, tapi kembali lagi jika Rhein tidak memiliki perasaan cinta pada Hazel atau wanita manapun.
Hazel melepaskan tangan Rhein dan mendorong Rhein agak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak mau, Rhein, aku tidak mau walaupun kamu menawarkan uang yang sangat banyak."
"Kenapa? Daripada kamu memamerkan tubuh kamu kepada banyak orang, lebih baik kamu bercinta lagi denganku. Kita bersenang-senang semalaman."
"Apa yang aku lakukan denganmu waktu itu bagiku bukan bersenang-senang. Aku melakukannya karena aku mencintai kamu Rhein."
Rhein malah tertawa. "Ayolah, Hazel, di dunia ini aku tidak memiliki cinta yang kamu maksud karena yang ada bagiku hanya bersenang-senang, saling memenuhi hasrat masing-masing."
Sekali lagi ada pisau yang seolah merobek perlahan tepat di jantung Hazel.
"Aku tidak mau, Rhein?"
"Ck! Kamu mau mempertontonkan tubuhmu pada banyak orang di sana, tapi tidak mau memperlihatkan tubuhmu sekali lagi padaku, padahal aku juga membayarmu."
"Itu dua hal yang berbeda Rhein, aku tidak menjual diriku."
"Sama saja, Hazel! Sama saja. Kamu sama saja menjual dirinya secara tidak langsung. Melawan prinsipmu sendiri dan itu demi uang. Aku juga memberimu uang."
Seketika suasana di sana menjadi terasa menyakitkan khususnya bagi Hazel. Semua yang Rhein katakan sungguh membuat Hazel ingin menangis dengan keras.
Dia sudah mengatakan jika dia melakukan waktu itu dengan Rhein adalah cinta, tapi sekarang Rhein memintanya lagi dengan kata bersenang-senang atau menjual diri.
Hazel berlari keluar dari apartemen Rhein dengan menangis.
"Pelayan, Hazel! Kamu mau ke mana?"
__ADS_1