Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Menjadi Pelayanku


__ADS_3

Rhein pergi ke rumah sakit dengan Sean. Sesampai di sana ternyata luka pada tangan Rhein cukup dalam. Tangan Rhein harus dijahit karena lukanya.


"Jangan melakukan pekerjaan yang berat dulu menggunakan tangan kamu yang terluka ini."


"Sampai berapa lama kira-kira tanganku sembuh?"


"Sekitar satu bulan dan bisa lebih. Minum saja obatnya teratur dan jangan lupa juga mengganti perban jahitan ini nanti pada bagian obat akan menjelaskan."


"Oh God! Kenapa jadi ribet sekali."


"Apa perlu aku sewa perawat di apartemen kamu?" tanya Sean.


Rhein tampak berpikir sebentar. Di apartemennya ada Hazel, dia bisa minta tolong pada Hazel saja.


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri."


Sean dan Rhein diberitahu oleh bagian obat cara merawat lukanya dan kemudian mereka kembali ke apartemen.


"Kamu mau ke mana, Sean?"


"Aku mau mengantar kamu ke kamarmu."


"Tidak perlu, kamu kembali saja."


"Kenapa memangnya? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu di apartemen kamu?"


"Kenapa kamu mau tau terus dari tadi? Kamu pulang saja, aku mau istirahat."


"Siapa wanita yang ada di sana?" Lihat Sean curiga.


"Tidak ada wanita siapapun. Kamu sebaiknya kembali saja ke clubmu, dan jangan lupa untuk mengurus dua pria brengsek itu. Mereka berdua suka sekali menyiksa Hazel."


Rhein berjalan pergi dari sana, dia masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai kamarnya.


"Kenapa dia sangat tau tentang kehidupan Hazel? Apa jangan-jangan dia dan Hazel memiliki hubungan khusus yang aku tidak tau?" Sean berdialog sendiri dengan heran.


Sesampai di dalam apartemennya Rhein tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan Hazel. Dia pergi ke dalam kamarnya dan benar jika Hazel tidak ada di sana.


"Apa dia belum pulang? Tadi aku lihat dia membawa tasnya dan pasti dia sudah pulang ke sini?" Rhein mengambil ponselnya dan dia lupa jika Hazel tidak memiliki ponsel. "Aku telepon siapa? Tidak mungkin Sean."


Rhein menghubungi seseorang yang sedang enak-enaknya bermimpi indah.


"Tuan Rhein? Ada apa di jam seperti ini dia menghubungiku? Apa dia mendapat masalah?"


"Halo, Darren, kenapa kamu lama sekali menjawab panggilanku?"


"Ma-maaf Tuan Rhein. Sa-saya sedang tidur."


"Kamu tidak tidur, tapi pingsan. Sekarang cepat datang ke apartemenku."


"Hah? Ke apartemen Tuan Rhein. Memangnya ada apa, Tuan?"

__ADS_1


"Jangan banyak tanya. Cepat datang ke sini atau lusa kamu tidak perlu bekerja lagi di perusahaanku."


"Iya, Tuan."


Darren segera bergegas datang ke tempat Rhein.


Rhein mengirim pesan jika dia akan menunggu Darren di lantai bawah, jadi Darren tidak perlu naik ke atas.


Sekitar setengah jam Rhein di bawah menunggu. Tidak lama mobil Darren datang dan Rhein langsung masuk ke dalam mobil.


"Tuan, tangan Tuan Rhein kenapa?"


"Ini semua gara-gara Hazel, dan setelah dia membuat aku terluka seperti ini, dia malah tidak pulang ke apartemenku," ujar Rhein kesal.


"Hazel? Memangnya, apa yang sudah Hazel lakukan pada Tuan Rhein?" Darren agak kaget mendengar perkataan Rhein.


"Nanti saja menjelaskannya. Sekarang aku mau kita mencari Hazel dan membawanya ke apartemenku."


"Kita mau mencari Hazel di mana, Tuan?"


Rhein tampak berpikir sejenak. "Kita pergi ke flat di mana Hazel tinggal dengan temannya. Kamu jalan saja dan nanti akan aku beri alamatnya.


"Baik, Tuan."


Darren menjalankan mobilnya dan dia menuju ke alamat rumah teman Hazel sesuai arahan Rhein.


Sesampai di sana, Rhein segera naik ke lantai atas dan mencoba bertanya pada beberapa orang di sana tentang Hazel.


Mereka memberitahu ada gadis dengan ciri-ciri yang Rhein sebutkan. Dia menyebutkan di mana Hazel tinggal.


Pintu di ketik oleh Rhein, dan Hazel terkejut saat mengintip di lubang pintu.


"Rhein? Dia untuk apa ke sini?"


"Gadis Perawan, buka pintunya! Kalau tidak kamu buka, aku dobrak pintu ini," ancam Rhein.


"Dia kenapa seolah tau isi hatiku? Aku buka apa tidak ya?" Hazel tampak bingung.


Dia akhirnya memutuskan membuka pintunya karena di tidak mau kalau sampai Rhein membuat keributan di sana.


"Hai, Hazel," sapa Darren.


"Kak Darren," Hazel tersenyum dengan terpaksa. Kemudian dia berpindah melihat pada Rhein. "Ada apa, Rhein?"


"Kenapa tidak berpamitan saat pergi dari apartemenku? Kamu tau sopan santun, kan?"


"A-aku minta maaf."


"Enak saja minta maaf. Sekaran ikut denganku kembali ke apartemenku!"


"Aku tidak mau kembali ke sana, aku tinggal di sini saja. Lagi pula ayah dan kakak tiriku sudah ditangkap oleh petugas. Jadi, aku tidak takut lagi berada di sini."

__ADS_1


Rhein malah tersenyum miring. "Enak saja kamu bilang. Kamu mau lepas tanggung jawab?"


"Tanggung jawab apa?"


"Lihat apa yang terjadi dengan tanganku karena ulah keluargamu itu dan sekarang aku tidak bisa menggunakan salah satu tanganku."


Hazel melihat tangan Rhein yang memang dibalut oleh perban. "A-aku--?" Hazel tampak bingung.


"Jangan banyak bicara. Sekarang kamu ikut denganku dan kamu harus mengurus semua keperluanku sampai tanganku sembuh."


"Apa?" Hazel terkejut. Apa lagi tiba-tiba Rhein menarik tangan Hazel dan membawanya keluar.


"Eh ... Tuan Rhein!" seru Darren, tapi tidak dipedulikan oleh Rhein. Darren mengunci pintu flat itu dan membawanya untuk diberikan pada Hazel.


Hazel duduk terdiam di dalam mobil. Dia duduk di belakang dengan Rhein dan Darren yang mengemudi.


Rhein pun tampak menunjukan wajah tegasnya. Dia terlihat sangat dingin saat ini.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di basement apartemen Rhein.


"Kamu pulang saja dan beristirahat, dan terima kasih, Darren."


"Sama-sama, Tuan."


Hazel masih terdiam berdiri di sana. "Kenapa kamu berdiri saja di sana? Ikut denganku naik ke atas."


"I-iya."


Rhein berjalan lebih dulu menuju lift. Hazel malah saling lihat dengan Darren. "Kamu cepat ikuti saja Tuan Rhein. Kondisi feel-nya sedang tidak baik, dan jangan pernah membantah perintahnya," tutur Darren pelan.


Hazel hanya mengangguk. "Gadis Perawan, cepat! Aku bukan orang yang suka menunggu!" seru Rhein dengan keras.


"Kak Darren, aku pergi dulu."


Hazel segera berlari menuju lift dan dia berdiri tepat di samping Rhein.


Lift naik ke atas, dan Hazel hanya tetap terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Sampai di depan pintu utama apartemen. Rhein menekan kode untuk bisa membuka pintunya.


"Apa kamu ingat kode yang aku tekan tadi?" tanya Rhein seketika.


"Apa? Kode? Aku tidak melihatnya."


"Dasar bodoh! Mulai sekarang kamu harus tau kode pintu ini agar memudahkan kamu untuk keluar masuk."


"Memangnya apa yang setelah ini harus aku lakukan, Tuan?"


"Kamu harus menjadi pelayanku sampai tanganku benar-benar sembuh."


"Apa?" Hazel tampak terkejut.

__ADS_1


__ADS_2