
Rhein mengatakan akan mengantar Dinda pulang karena dia dan Dinda akan makan malam.
"Dinda, kalau Rhein melamar kamu, nanti langsung terima saja."
Dinda seketika tampak terkejut melihat ke arah Rhein. "Kamu serius ingin melamarku, Rhein?"
"Jangan dengarkan Orlaf. Kita ini baru kenal, dan aku belum mengenal kamu dengan baik."
"Kamu kelamaan, Rhein. Mommy tidak mungkin akan memilihkan calon istri yang salah. Lagi pula kalau kamu kelamaan tidak segera menikah, nanti jangan salahkan jika aku melangkahimu."
Rhein melihat ke arah Hazel yang sedang berdiri di samping Orlaf. "Kamu tenang saja, nanti aku akan membuat kejutan untuk kalian semua." Rhein menggandeng tangan Dinda. "Aku antar kamu pulang sekarang, ya?"
Dinda mengangguk perlahan dengan senyum yang sangat manis. "Tante, Dinda pulang dulu."
"Iya, Dinda, kamu hati-hati dan Tante minta tolong agar kamu sabar dalam menghadapi Rhein."
"Pasti, Tante. Aku sudah jatuh cinta pada putra Tante ini. Meskipun dia agak bad boy, tapi aku tau dia pria yang menyenangkan."
__ADS_1
Mommy Kei mengusap lembut lengan tangan Dinda. "Tante tau kalau kamu pasti cocok dengan Rhein. Salam buat kedua orang tua kamu."
Mereka kemudian pergi dari sana. Belinda juga izin pergi dari sana karena dia juga harus pulang. Hazel meminta izin mengantar Belinda dan si kembar sampai ke tempat parkir.
"Hazel, Kak Rhein itu benaran akan menikahi si menyebalkan itu?"
"Iya, dia akan menikah dengan Dinda."
"Oh Tuhan! Kak Rhein ini harus segera disandarkan supaya dia tidak salah dalam memilih calon istri. Jujur, ya Hazel. Aku sangat tidak setuju kalau Kak Rhein sampai menikah dengan Dinda. Hidup Kak Rhein pasti tidak akan bahagia."
"Kalian berdua ini jangan ikut campur dengan masalah jodoh Rhein karena Dinda itu pilihan dari mommymya Rhein sendiri."
"Mommy Orlaf kali ini salah dalam memilihkan jodoh."
Hazel sebenarnya juga masih belum siap jika harus melihat Rhein menikah dengan gadis lain. Dia teringat saat Rhein bersujud melamarnya waktu di apartemennya itu. Namun, Hazel mencoba untuk melupakan semua itu dan kembali fokus dengan tujuan awalnya dengan Orlaf.
"Belinda, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Hazel."
Hazel melihat sepertinya Belinda sedang memikirkan sesuatu. Hazel juga bisa menebak apa yang sedang Belinda pikirkan.
"Kamu memikirkan tentang pertunangan aku dengan Orlaf, kan?"
"Iya, Hazel. Jujur saja rasanya sangat sakit dan kecewa mendengar orang yang kita cintai akan hidup bersama dengan orang lain. Aku sangat mencintai Orlaf walaupun Orlaf sudah tidak memiliki perasaan apapun denganku."
Sasa mendekati Belinda. "Kamu jangan menyalahkan Hazel dalam hal ini. Dulu kamu terlalu egosi mengejar kariermu dan sampai pada akhirnya Orlaf sudah malas memiliki hubungan sama kamu. Hazel juga bukan penyebab hubungan kamu dan Orlaf berakhir. Dia datang di saat kamu dan Orlaf sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
"Aku tau, aku yang salah dalam hal ini, Sa, tapi sekarang aku ingin memperbaiki semuanya, aku bahkan mau merubah sifat burukku karena aku sadar jika aku sangat mencintai Orlaf." Belinda tiba-tiba menangis.
Hazel yang melihatnya terkejut dan langsung memeluk Belinda. Si kembar saling melihat Belinda yang terlihat benaran sedih.
"Belinda, kamu jangan menangis. Aku minta maaf jika aku sudah salah denganmu karena hal ini."
"Bukan salah kamu, Hazel. Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin memang Orlaf bukan jodohku, dan tolong jaga dia untukku. Aku akan mendoakan kamu semoga bahagia bersama dengan Orlaf.
__ADS_1