
Hazel sangat senang karena dia sudah lama tidak ada yang memberinya coklat.
"Apa semua ini untukku?"
"Tentu saja, kamu boleh membawanya semua."
"Terima kasih, Kak Darren." Hazel memeluk hangat pria yang usianya lebih pantas menjadi kakaknya itu.
"Aku senang bisa melihat kamu tersenyum. Hazel, apa tuan Rhein memperlakukan kamu dengan baik di sini?"
Hazel mengangguk dengan cepat. "Dia baik, walaupun kadang sikapnya menyebalkan, tapi aku tau dia sebenarnya orang yang baik."
"Iya, dia baik, tapi kamu tetap harus berhati-hati kepada setiap orang yang baru kamu kenal."
"Kak Darren tenang saja. Oh ya! Kak Darren sudah lama bekerja dengan Rhein?"
"Lumayan. Tuan Rhein baru beberapa bulan datang ke sini setelah lama dia tidak mengurusi perusahaannya dan diserahkan kepadaku."
"Dia bos pemalas," ucap Hazel lirih. Darren terkekeh pelan. "Mana ada bos masuk kerja hanya beberapa jam saja? Dan semua urusan diberikan pada sekretarisnya."
"Tuan Rhein memang seperti itu, tapi dia pria yang cerdas dan sangat lihai di dunia bisnis."
"Dia juga lihai menarik para wanita, tadi saja ada wanita datang ke sini, dan tadi di bajunya ada bekas lipstik. Dia berkata jika bekas lipstik itu milik rekan kerjanya." Hazel menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian menepuk jidatnya.
"Kamu lucu sekali."
"Oh ya lupa! Apa Kak Darren sudah menikah? Aku mau tanyakan hal ini sama Kakak karena aku tidak enak jika terlalu dekat dengan pria beristri, aku takutnya nanti salah paham."
"Aku belum menikah."
"Serius? Sama kakak kelas yang dulu waktu kakak masih sekolah itu, apa tidak jadi?"
Darren terdiam sejenak. "Dia sudah menikah dengan orang lain."
"Hah? Jadi, kamu telat mendapatkannya?" Darren mengangguk perlahan. "Sayang sekali, ya? Padahal kamu sangat menyukainya."
"Belum jodoh untukku. Aku sama sekali tidak merasa sedih. Suatu saat pasti akan mendapatkannya."
"Maksud Kak Darren? Apa dia berpisah dari suaminya?"
"Dia diperlakukan buruk oleh suaminya. Dia sering dipukul dan dimarahi oleh suaminya."
__ADS_1
Hazel sampai tercengang dan melongo mendengar apa yang Darren katakan. "Oh Tuhan, kasihan sekali. Dia pasti menderita seperti mamaku dulu." Hazel teringat mamanya yang pernah disiksa oleh ayah tirinya.
"Aku ingin melepaskan dia dari penderitaannya, tapi dia sepertinya tidak mau menjauh dari pria kasar itu."
Hazel memegang tangan Darren. "Kak Darren, aku tidak tau harus berkata apa, tapi jika suaminya seperti itu, dia harus segera menjauh agar tidak bernasib sama seperti mamaku."
"Aku tidak tau lagi harus meyakinkan dia seperti apa?" Darren melihat pada Hazel. "Hazel kamu belepotan." Darren membersihkan sisa coklat pada mulut Hazel.
"Hahahah! Terima kasih, Kak."
"Ehem!" Terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Kedua orang yang tadi sedang mengobrol menoleh ke asal suara dan mereka agak kaget ada Rhein sudah berdiri di belakang mereka."
"Tuan Rhein."
"Apa kalian tidak bisa mencari tempat lain untuk bermesraan selain di rumahku?" Rhein bersidekap dengan wajah dinginnya.
"Siapa yang bermesraan? Kita hanya mengobrol biasa. Ini Kak Darren membawakan aku coklat. Apa kamu mau?" Hazel menyodorkan coklat pada Rhein.
"Aku tidak suka coklat. Kepalaku pusing dan kalian malah mengganggu tidurku sekali lagi."
"Maaf, Tuan Rhein, saya tidak berniat menggangu tidur Tuan, tadi saya pulang dari kantor ingat jika Hazel suka sekali dengan coklat, makannya saya bawakan dia coklat."
"Kata orang, coklat bisa menghilangkan stres, kamu pasti banyak pikiran tentang pekerjaan. Cobalah!" Hazel menyodorkan coklat sekali lagi pada Rhein.
Hazel agak terkejut dengan sikap Rhein yang agak kasar baginya.
"Kalau tidak suka juga tidak perlu seperti itu."
"Kenapa? Ini apartemenku, dan aku bisa berbuat sesuka hatiku." Rhein menunjukkan wajah kesalnya.
Hazel tidak menjawab dia mengambil semua coklat yang di berikan oleh Darren. "Kak Darren terima kasih coklatnya. Aku harus pergi karena aku mau bersiap-siap untuk pergi bekerja." Hazel dengan membawa coklatnya berjalan menuju kamar untuk berganti dengan seragamnya.
Darren melihat ke arah Rhein. "Apa lihat-lihat, kalau sudah tidak ada urusan, lebih baik kamu pergi saja."
"I-iya, saya mau permisi dulu." Darren beranjak dari tempatnya, dia berjalan melewati Rhein. "Tuan, sebaiknya Anda meminta maaf pada Hazel, dia hanya bersikap baik pada Tuan."
"Pergi." Rhein mendelik pada Darren dan sang sistem itu langsung berjalan menuju pintu keluar.
Rhein mengelap mukanya kasar. Dia tampak merasa bersalah sekarang. "Kenapa aku ini? Seharusnya aku senang mendengar kabar jika Akira dan Nala sudah direstui oleh daddyku."
Rhein tadi agak kesal setelah mendapat pesan dari mommynya jika daddynya sudah merestui pernikahan Nala dan Akira--kakak kandungnya.
__ADS_1
Rhein berjalan menuju kamar tidurnya dan saat akan membuka pintu ternyata Hazel sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.
"Aku permisi dulu mau pergi bekerja." Hazel menatap pada Rhein. Begitupun Rhein juga melihat Hazel yang sudah rapi dengan baju seragam kerjanya.
Hazel berjalan pergi karena Rhein sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
Rhein hanya terdiam di tempatnya melihat Hazel pergi dari apartemennya.
Hazel memilih naik mobil umum untuk pergi menuju club malam tempat dia bekerja.
"Hazel, kamu rajin sekali sudah datang."
"Iya, kebetulan saya di rumah tidak ada pekerjaan. Jadi, saya lebih baik berangkat bekerja saja."
"Hazel, bagaimana keadaan pipi kamu?"
"Saya tidak apa-apa. Kalau begitu saya mau permisi untuk memulai pekerjaan."
"Iya, Silakan."
Hazel masuk ke dalam ruangan khusus karyawan untuk menyimpan tasnya dan dia kembali tempat utama untuk membersihkan semua meja yang ada di sana.
Rhein di rumahnya hanya duduk saja dengan banyak sekali hal yang berputar di atas kepalanya.
"Aku tidak peduli Hazel mau marah atau tidak. Memangnya dia siapa?"
Rhein berdialog dengan kesal. Dia kemudian memilih tidur lagi agar sakit kepalanya menghilang.
Malam pun semakin larut, dan di club malam itu semakin ramai oleh para pengunjung.
"Sean, apa teman kamu si tampan itu tidak datang ke sini?"
"Siapa maksud kamu? Apa Rhein?"
"Iya, dia maksudku."
"Sepertinya tidak. Dia mungkin banyak pekerjaan, oleh sebab itu dia tidak akan datang ke sini."
"Ck! Aku ingin sekali dia datang ke sini dan aku akan membuatnya sangat bahagia karena sudah membuatku jatuh cinta padanya," ucapnya dengan lirikan sensual.
"Kamu menginginkannya? Bukannya waktu itu kamu dan Rhein sudah bersenang-senang?"
__ADS_1
Wanita bernama Lady itu melirik malas pada Sean. "Belum, Sean. Aku dan Rhein belum melakukan apapun, dan itu karena Rhein tiba-tiba moodnya hilang karena gadis pelayan baru itu."
"Hazel maksud kamu?" Sean melihat penasaran pada Lady yang berdiri di sampingnya sambil menghisap rokoknya.