
Hazel tertegun mendengar apa yang baru saja Rhein katakan. "Ponsel?"
"Iya, kamu belilah ponsel yang kamu inginkan supaya aku mudah untuk menghubungimu."
"Aku tidak membutuhkan ponsel, Rhein. Lagi pula aku juga menjadi pelayan kamu hanya sampai kamu sembuh saja. Setelah itu aku akan kembali ke flat temanku."
Rhein menatap Hazel datar. "Apa kamu tidak bisa kalau tidak membantah perintahku? Beli ponsel dan kamu akan membawa ponsel itu seterusnya. Aku memberikannya untuk kamu, meskipun nanti kamu sudah tidak menjadi pelayanku, ponsel itu bisa tetap kamu bawa."
Hazel terdiam dan tidak berani menjawabnya.
Rhein sudah bersiap dan tidak lama Darren datang untuk menjemput Rhein.
"Selamat pagi, Hazel."
"Pagi Kak Darren."
"Darren, apa kamu tidak keberatan jika tiap hari aku suruh menjemput dan mengantar pulang aku?"
"Sama sekali tidak, Tuan Rhein. Saya sangat senang bisa membantu Tuan Rhein."
"Bagus kalau begitu."
"Tuan Rhein, apa saya boleh meminta izin untuk mengajak Hazel jalan-jalan saat dia liburan kerja?"
"Serius, Kak Darren? Aku besok libur kerja." Seketika wajah Hazel tampak senang.
"Aku tidak memberi izin," jawab Rhein singkat, padat dan jelas.
"Kenapa? Lagi pula aku bukan sepenuhnya pelayan kamu, Rhein? Jadi aku berhak memiliki kebebasan." Hazel tampak kesal melihat Rhein.
"Itu memang benar, tapi kalau kamu pergi dengan Darren, lalu bagaimana tanggung jawabmu padaku? Aku tidak bisa melakukan semuanya dengan mudah, Hazel."
"Tau begitu aku tidak akan mau kamu tolong malam itu. Biar saja ayahku itu membawaku, kalau pada akhirnya kamu selalu menggunakan hal itu untuk menjadikan kebebasanku terkekang."
Rhein berjalan dengan Aura dinginnya mendekat ke arah Hazel. "Apa itu yang kamu mau? Di bawa oleh ayah tirimu dan di jual kepada orang-orang brengsek di sana? Kalau itu maumu, aku dengan mudah membuat mereka berdua terbebas." Seketika kedua bola mata Hazel mendelik.
"Kenapa kalian malah yang bertengkar?" Kedua orang itu melihat ke arah Darren.
"Mau ikut campur?"
__ADS_1
Darren menggeleng pelan. Lalu, pria yang memiliki tampang lembut itu melihat pada Hazel. "Hazel, kamu seharusnya tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Tuan Rhein sudah menolong kamu, bahkan sudah membuatmu aman di sini."
"Aku tau, Kak Darren. Rhein, aku minta maaf," ucap Hazel lirih.
"Soal kamu keluar dengan Darren nanti kita pikirkan saja. Sekarang aku mau pergi ke kantor dulu, dan kamu jangan lupa membeli ponsel. Awas kalau tidak membelinya!"
"Iya." Hazel sekali lagi cemberut.
Rhein dan Darren pergi dari sana dan Hazel pergi untuk mengambil tasnya.
Hazel pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan dapur. Dia berkeliling dengan membawa troli di tangannya.
"Banyak sekali sayuran di sini. Aku suka sekali sayuran ini." Hazel memegang dan melihati satu persatu sayuran di sana.
"Aku beli ini, dan ini terus ini." Hazel mengambil beberapa sayuran. Kemudian dia tampak berpikir lagi. "Nanti Rhein marah tidak ya kalau aku beli banyak sayuran? Dia kemudian bilang kenapa beli banyak sayuran? Memangnya aku kuda makan banyak sayur?"
Hazel akhirnya memutuskan mengembalikan beberapa sayuran dan dia menggantinya dengan buah. Hazel mendorong troli untuk menuju tempat aneka daging dan ikan.
Hazel mengambil banyak daging dan sedikit ikan karena Hazel tau Rhein lebih menyukai daging terlihat dari makanan kaleng yang ada di lemari pendingin Rhein semua mengandung daging.
"Sekarang aku beli apa lagi?" Hazel tampak berpikir sejenak. "Aku beli susu coklat dan teh untuk aku buat di rumah. Hazel kembali berkeliling di sana.
Tidak lama datang seorang pria yang jika dilihat usianya sepantaran dengan Darren. Dia memeluk leher gadis yang menyapa Hazel.
Hazel sedikit terkejut melihat pria itu di sana karena pria itu kakak kelasnya yang dulu dia sukai, tapi pria itu malah tidak peduli pada Hazel.
"Kamu Hazel, kan? Apa kabar?"
"Aku baik," jawab Hazel singkat.
"Oh ya, Hazel, kenalkan ini kekasihku. Aku dan kakak kelas kita dulu adalah sepasang kekasih," kata gadis itu seolah sedang memamerkan kekasihnya.
"Aku sudah mengenalnya, Natali."
"Tentu saja kamu kenal. Dulu kamu menyukai Gilbert, tapi sayang Gilbert tidak menyukai gadis dekil seperti kamu." Mereka berdua malah tertawa menghina Hazel.
"Aku tidak menyukai, hanya lebih kepada kagum karena Gilbert adalah kakak kelas yang baik dan pintar, tapi setelah mengetahui dia sebenarnya, aku sama sekali tidak memiliki rasa kagum."
"Bilang saja kalau kamu sudah kalah dariku, Hazel, tidak perlu mencari alasan."
__ADS_1
"Aku permisi dulu mau membayar belanjaanku."
Hazel mendorong trolinya menuju kasir, dan kedua orang yang menyapa Hazel tadi ternyata juga mengikuti Hazel ke kasir. Barang-barang Hazel masih dihitung dan kedua orang yang kenal Hazel itu tampak sedang berbisik seperti masih menertawakan Hazel.
"Mau membayar dengan apa?"
"Oh, apa bisa menggunakan ini?" Hazel memberikan kartu pembayaran milik Rhein.
"Oh my God!" seru kedua teman Hazel kaget melihat kartu pembayaran milik Hazel.
"Tentu saja bisa, Nona. Tolong tekan untuk PINnya."
Hazel masih ingat pin yang diberikan oleh Rhein dan setelah selesai dia melihat heran pada wajah kedua temannya.
"Hazel, itu kartu milik kamu?"
"Memangnya kenapa?" Hazel ini tidak tau jika kartu pembayarannya hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kelas atas. Setahu dia itu kartu pembayaran biasa seperti miliknya dulu.
"Apa kamu menjadi simpanan seseorang yang kaya raya?"
"Apa maksud kamu, Nat. Ini diberikan Rhein untukku agar aku dapat berbelanja, dan Rhein bukan pria tua yang sudah beristri. Dia masih muda, single dan sangat tampan."
"Apa dia kekasihmu?"
"Tentu saja."
"Tidak mungkin seorang pria dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan mau denganmu. Berapa kamu jual dirimu?"
"Jaga mulut kamu. Aku tidak pernah menjual diriku." Hazel yang kesal berjalan pergi dari sana, dia tidak mau memperdulikan gadis yang memang suka mencari masalah dengannya saat di sekolah.
Hazel ingin segera pulang, tapi dia ingat pesan Rhein untuk membeli ponsel. "Apa aku harus membeli ponsel?" Hazel masih berpikir sejenak.
Hazel akhirnya memutuskan untuk membelinya saja, dari pada nanti saat pulang dia tidak membawa ponsel, bisa-bisa si Rhein marah besar dengannya.
Hazel mencari toko ponsel di sana dan akhirnya dia ketemu. Hazel memutuskan akan membeli ponsel yang biasa saja asal bisa digunakan untuk menghubungi dan mengirim pesan.
"Aku membayarnya memakai ini."
"Nona, apa tidak mau mencari ponsel yang lebih bagus dan canggih dari pada ponsel yang kamu pilih itu?"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan ponsel yang mahal," jawab Hazel polos.