Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Kedekatan Hazel Dan Orlaf part 1


__ADS_3

Kelas akan kembali di mulai. Hazel masuk ke dalam kelasnya dan diikuti oleh dua teman kembarnya.


"Hazel, mau tidak membantu kamu."


"Membantu apa?"


"Membantu kita supaya bisa lebih dengan saudara angkat kamu itu."


"Orlaf? Kalian menyukai dia?"


"Tentu saja. Siapa gadis di kampus ini yang tidak menyukai dia. Semua bahkan jatuh cinta padanya," terang Sasa.


"Iya. Kamu tau jika Orlaf dan kedua kakaknya itu para pengen tampan dari keluarga Danner," lanjut Sisi.


"Tapi aku belum pernah bertemu kakaknya Orlaf, waktu datang ke rumah, aku hanya bertemu dengan daddynya saja."


"Wah! Kalau kamu bertemu dengan mereka, kamu seolah seperti putri raja di antara ketiga pangeran tampan."


Hazel malah terkekeh mendengar ucapan Sasa. "Di tempatku dulu banyak pria tampan." Hazel seketika teringat Rhein, apa lagi manik mata Rhein yang sangat Hazel sukai itu.


"Hazel, kenapa melamun?"


"Aku tidak melamun. Di tempatku banyak pria tampan, tapi mereka sangat suka menyakiti perasaan orang lain." Yang dimaksud Hazel adalah Rhein.


"Wah! Sayang sekali kalau mereka memanfaatkan wajah mereka hanya untuk menyakiti hati seseorang.


Saat mereka sedang berbicara, datang seorang gadis dengan rambut sebahunya dan ada tindik kecil pada hidungnya. Gadis itu juga memiliki hidung yang mancung serta kulit yang eksotik.


"Apa benar kamu gadis yang sekarang dekat dengan Orlaf?"


"Belinda? Kapan kamu datang? Dan Kenapa tiba-tiba masuk kuliah?"


"Aku tidak ada urusan sama kamu, Gendut."


"Gendut? Tubuhku itu ideal, dari pada kamu kerempeng," balas Sasa yang jengkel karena dibilang gendut.


"Aku Hazel, dan aku memang saudara Orlaf. Apa ada masalah dengan hal ini?"


"Tentu saja, karena aku tidak suka Orlaf dekat dengan gadis lain. Aku kekasihnya Orlaf."


"Kamu itu cuma mantannya Orlaf. Kalian sudah putus beberapa bulan yang lalu, dan semua anak-anak di sini sudsh tau."


"Diam kamu, Sasa!"


Tidak lama dosen pengajar mereka datang dan keributan yang hampir terjadi pada Sasa dengan gadis bernama Belinda itu bisa diselesaikan. Belinda pergi dari kelas itu karena dia juga kalau masuk sudah tertinggal jam kuliah.


Belinda satu kelas nantinya dengan Hazel. Dia anak orang kaya dan Belinda sendiri seorang model. Jadi, dia sering ke luar negeri untuk pekerjaannya.

__ADS_1


"Pacar Orlaf cantik sekali ya?"


"Cantik dia juga seorang model, tapi sayang, dia judes dan sombong sekali, Hazel."


"Aku senang sekali waktu tau Orlaf putus sama dia. Kasihan," lanjut Sisi.


"Eh, tapi Hazel apa kamu tidak ada perasaan sedikitpun dengan Orlaf?"


"Perasaan? Cinta maksudnya?"


Kedua orang itu mengangguk dengan cepat. Hazel hanya terdiam berpikir.


***


Rhein sekarang berada di dalam pesawatnya. Dia akan pergi ke negara di mana katanya Hazel ada di sana.


Sebelumnya dia sudah menghubungi seseorang yang berada di sana untuk mencari gadis bernama Hazel.


Rhein melihat foto Hazel yang ada pada ponsel milik Hazel. Rhein membawa ponsel itu karena jika nanti dia bertemu dengan Hazel. Dia ingin memberikan benda itu.


"Semoga aku bisa menemukan kamu, Hazel. Jangan kamu sengaja bersembunyi dariku karena aku tetap akan mencari kamu," Rhein berdialog dengan melihat pada foto Hazel.


Rhein benar-benar merindukan sosok gadis yang baginya sangat polos dan sederhana itu.


"Walaupun nanti aku menemukanmu, apa kamu akan mau memaafkan aku, Hazel?" Rhein terdiam memikirkan hal itu.


"Sudah selesai? Kita pulang sekarang."


"Iya, aku sudah selesai." Hazel tersenyum dan kedua gadis kembar itu melihat ke arah Hazel.


"Enak sekali yang diantar jemput pangeran dengan motornya."


"Maaf, ya, aku tidak bisa mengajak kalian pulang bersama karena aku naik motor. Coba kalau naik mobil, pasti aku ajak juga kalian berdua."


"Aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa besok."


Hazel naik ke atas motor Orlaf. Di atas motor, Orlaf mengatakan dia akan mengajak Hazel pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikan Hazel ponsel.


"Orlaf, tidak perlu membelikan aku ponsel."


"Bukan aku, tapi mommy yang menyuruh membelikan ponsel untuk kamu agar mudah untuk kita berkomunikasi denganmu."


"Tapi aku masih tidak membutuhkan itu, Orlaf. Bisa kuliah saja aku sudah bersyukur."


"Jangan merasa sungkan dengan kita. Kita ini sudah menjadi bagian dari keluargamu."


"Kalian terlalu baik. Aku bingung tidak bisa membalas apa-apa pada keluargamu."

__ADS_1


Tangan Orlaf menarik tangan Hazel agar memeluknya lebih erat. Hazel yang tangannya di tarik seperti itu agak kaget.


"Pegangan yang erat karena aku mau melaju dengan agak cepat."


Motor berjalan agak cepat dan Hazel yang takut reflek menyandarkan kepalanya pada punggung Orlaf.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan.


"Hujan, Orlaf."


"Makannya itu tadi aku berjalan dengan agak cepat supaya kita tidak kehujanan di jalan. Kalau aku yang kehujanan sendiri tidak masalah, kalau kamu ikut kehujanan juga pasti mommy akan memarahiku."


"Kamu cemburu ya sama aku?" goda Hazel.


"Aku tidak cemburu, malahan aku sangat senang mommy sangat perhatian sama kamu. Sekarang kita masuk ke dalam dan mencari ponsel untuk kamu."


Orlaf menggandeng tangan Hazel. Hazel melihat pada tangannya yang di gandeng oleh Orlaf.


"Aku menggandeng kamu supaya tidak hilang. Kamu itu baru di sini."


"Memangnya aku ajak kucing bisa hilang?"


"Tentu saja, kamu lucu seperti anak kucing yang sangat manis."


Hazel terdiam mendengar pujian Orlaf, dia berjalan dengan mengikuti ke mana Orlaf membawanya.


Mereka masuk ke sebuah toko ponsel dan pemilik toko itu tampak menyapa Orlaf dengan sangat ramah seolah mereka sudah mengenal baik."


"Tolong pilihkan ponsel seperti milikku. Aku mau pilihkan kamu ponsel yang mirip denganku. Tidak apa-apa, Kan?"


"Jangan yang terlalu mahal, Orlaf, yang biasa saja. Palingan hanya aku gunakan untuk berkomunikasi denganmu dan keluargamu."


"Tidak mahal, Hazel." Orlaf senang mengetahui jika Hazel adalah gadis yang sederhana dan selalu tampil natural.


"Kekasihmu, Orlaf?" tanya pemilik toko ponsel itu.


"Bagaimana menurutmu? Cantikkan?"


"Cute. Pilihan kamu tidak salah."


Orlaf tertawa dan Hazel tampak malu mendengar pujian itu.


Setelah membeli ponsel itu mereka pergi dari sana. Mereka sebenarnya ingin langsung pulang, tapi karena di luar masih hujan. Jadi, mereka akan menunggu sambil makan siang di Food Court yang ada di sana.


Mereka mengantri untuk memesan makanan. Di sebelah Hazel yang sedang mengantri juga, ada dua orang laki-laki yang melihat Hazel dari tadi. Orlaf yang melihat pasangan pria itu tampak tidak suka karena cara pandang pria itu bukan pandangan yang baik, apa lagi dua orang itu tampak berbisik membicarakan yang Orlaf duga pasti Hazel.


"Hazel, sebaiknya kamu cari tempat duduk saja. Biar aku yang memesankan di sini. Kamu mau nasi goreng dengan sayuran, kan?" Hazel mengangguk dan dia pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2