Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Malam Untuk Mereka Part 1


__ADS_3

Hazel mengangkat kepalanya memandangi si pemilik rahang tegas dan wajah dingin. Padahal kalau sudah dekat dengan Rhein, pria ini menyenangkan, tapi juga menjengkelkan.


'Aku ini kenapa? Kenapa rasanya ada yang aneh dalam hatiku? Apa aku jatuh cinta pada Rhein? Tidak mungkin. Apa yang aku cintai dari pria yang suka sekali membagi perasaannya, bahkan tubuhnya untuk wanita lain,' Hazel berdialog dari dalam hatinya.


Rhein mengatakan akan membawa pulang Hazel dan menyuruh Darren yang mengikutinya tadi kembali ke acara dan menyelesaikan semuanya.


Rhein sampai di rumahnya dan dia masih tetap menggendong Hazel dan membawa gadis itu ke dalam kamarnya. Hazel diletakkan di atas ranjangnya dan Rhein menghapus make up yang tidak beraturan pada wajah Hazel.


"Aku sudah katakan kalau kamu akan mendapat malu jika membawaku ke acara besar itu." Hazel menghapus air matanya.


Rhein menatap kasihan melihat Hazel. "Mereka benar-benar keterlaluan. Aku minta maaf sudah membuat kamu mendapat perlakuan buruk seperti ini."


Hazel hanya menggeleng pelan. "Ini semua bukan salah kamu, Rhein."


"Kalau begitu mandi dan ganti bajumu, aku akan membuatkan susu coklat hangat untuk kita berdua." Rhein keluar dari kamar dsn menuju dapur.

__ADS_1


Hazel terdiam di tempatnya beberapa saat. Lalu, dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hazel keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya dan tepat Rhein juga datang membawa dua cangkir susu coklat hangat.


"Sebaiknya aku nyalakan pemanas ruangan karena sepertinya akan turun hujan lebat, dan pasti udaranya akan dingin."


Rhein memberikan susu coklat hangatnya pada Hazel dan dia menuju pemanas ruangan.


Rhein kembali menemui Hazel dan Hazel memberikan satu cangkir susu coklat hangat.


"Aku tidur di sofa saja, Rhein. Aku hanya seorang pelayan dan kamu atasanku. Tidak sepatutnya kita terus tidur bersama."


"Kamu masih memikirkan ucapan mereka soal siapa kamu di sini? Hazel aku tidak pernah menganggap kamu pelayan yang statusnya di bawahku."


Rhein menatap Hazel dengan serius, dan salah Rhein, dia malah kembali terpukau dengan wajah Hazel yang terlihat sangat cantik apa lagi dengan rambut basahnya yang memang sangat Rhein sukai.

__ADS_1


"Tapi ucapan mereka memang benar, Rhein."


"Ssht...!" Rhein menempelkan jari telunjuknya pada bibir Hazel. "Kamu jangan bicara apa-apa lagi. Bagiku, kamu gadis yang baik dan aku menyukai kepribadianmu."


Hazel tersenyum kecil, tapi senyuman Hazel itu seolah membuat Rhein terpancing untuk mengecup bibir Hazel.


Rhein sekali lagi menelungsupkan tangannya pada ceruk leher Hazel dan menarik leher Hazel secara perlahan mendekat padanya.


Anehnya, Hazel malah menurut dengan apa yang Rhein lakukan.


Sekali lagi terjadi ciuman mesra mereka berdua, dan tidak hanya ciuman biasa. Rhein mulai terbawa suasana yang saat itu juga mendukung. Rhein semakin memperdalam ciumannya.


Tangan Rhein juga tidak berhenti sampai sana. Dia malah membuka handuk kimono Hazel dan Hazel yang terbuai oleh ciuman Rhein seolah akalnya telah hilang.


Hazel lupa jika Rhein seorang pemain dalam percintaan yang tidak terhindarkan. Rhein berhasil melepaskan handuk model kimono yang dipakai Hazel. Rhein tau jika Hazel pasti kedinginan karena hal itu. Dia pun menarik kemeja miliknya dengan kasar hingga kancing kemejanya terpental ke mana-mana.

__ADS_1


Rhein mendekatkan tubuh Hazel pada tubuhnya agar lebih hangat karena mereka melakukan skin to skin.


__ADS_2