Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Tugas Rumah


__ADS_3

Hazel sudah sampai di apartemen Rhein setelah dia tadi berjalan dari pusat perbelanjaan menuju apartemen Rhein.


Dia mulai menata semua bahan masakan di dalam lemari es dan membereskan semua barang-barang Rhein.


Hazel juga membuat masakan yang dia sukai saat di rumahnya dulu. Dia makan pagi dengan masakan buatannya.


"Apa aku perlu membuat makanan untuk makan siang? Rhein pasti tidak pulang untuk makan siang. Lebih baik aku tidak perlu masak saja daripada nanti tidak ada yang makan."


Hazel lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Dia beristirahat sejenak di atas sofa empuk Rhein.


"Kenapa aku merasa sangat nyaman dan aman di sini? Andai aku adalah istri Rhein dan kita tinggal di sini. Dia bekerja dan aku di rumah mengurus semuanya." Hazel malah berimajinasi sendiri.


Dia lantas merutuki kebodohannya sendiri, kenapa Samapi bisa bermimpi menikah dengan pria yang kekasihnya entah ada berapa banyak di dunia ini?


Tidak lama terdengar suara bel pintu. Hazel yang tadinya mengantuk menjadi kaget dan akhirnya dia melihat ke dalam lubang pintu.


"Wanita cantik siapa lagi ini? Pasti dia salah satu kekasih Rhein. Aku buka apa tidak?" Hazel malah bingung sendiri.


Akhirnya dia memutuskan untuk mencari cara agar wanita itu bisa pergi, pasti wanita itu tidak akan percaya jika Rhein tidak ada di apartemennya.

__ADS_1


"Pakai ini saja." Hazel memasangkan bantal kecil pada perutnya sehingga dia terlihat seperti orang yang sedang hamil.


"Rhein, aku--." Wanita itu berhenti berkata dan melihat Hazel dari atas sampai bawah.


"Kamu siapa?" tanya Hazel sambil memegang perutnya.


"Kamu yang siapa? Kenapa kamu berada di apartemen kekasihku?" Wanita cantik dengan dress pendeknya melihat ke arah Hazel dengan tatapan menghina.


"Kamu yang siapa? Pakai berani mengaku sebagai kekasih Rhein. Aku istrinya Rhein dan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Jadi, sekarang kamu tidak perlu mengaku kekasih Rhein."


Wanita itu sekali lagi melihat pada Hazel dan terhenti pada perut Hazel yang tampak besar.


"Apa kamu yakin kalau itu anak Rhein?"


"Tidak mungkin, Rhein mau menikahi gadis seperti kamu."


"Buktinya. Aku sekarang mengandung anaknya. Jadi, kamu atau wanita lainnya tidak akan berharga lagi bagi Rhein. sekarang kamu bisa pergi dari sini."


"Wanita cantik itu langsung berjalan pergi dari sana, dan tentu saja dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


Hazel tampak terkekeh karena apa yang dia lakukan benar-benar tidak dia sangka.


Hazel kembali masuk dan melepas bantal dari perutnya. "Huft! Menyenangkan juga bisa berbuat hal yang tidak pernah aku lakukan."


Belum sampai pantat Hazel menyentuh sofa, tiba-tiba terdengar lagi suara bel pintu lagi.


"Siapa lagi ini?" Hazel kembali berjalan menuju pintu utama dan dia sekali lagi melihat pada lubang pintu.


"Wanita cantik lagi?"


Hazel segera memasangkan bantal yang tadi dia gunakan. Hazel keluar dengan penampilan yang seperti tadi.


Hazel pun berdebat sekali lagi dengan wanita itu dan lagi-lagi Hazel berhasil memainkan perannya.


"Rhein ternyata orang yang penuh pesona, tapi menyebalkan," gerutu Hazel.


Hazel akhirnya tidur di atas sofa karena dia sangat mengantuk. Hingga malam tiba dia baru bangun karena mendengar suara jam beker milik Rhein.


"Sudah gelap saja." Hazel beranjak dan menyalakan lampu di sana sehingga ruangan itu kembali terang.

__ADS_1


"


"


__ADS_2