Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Hukuman yang Disukai


__ADS_3

Rhein menunjukkan bukti nominal yang dia sudah masukkan pada ATM Hazel.


Hazel tercengang melihat nominal yang begitu besar.


"Rhein, apa kamu tidak salah memberikan uang sebanyak itu sama aku?"


"Tentu saja tidak, malahan itu masih belum bonus yang kamu dapat jika pada saat peluncuran besok banyak yang menyukainya dan penjualanku naik pesat. Aku yakin kamu akan menjadi bintang baru untuk perusahaan milikku."


"Kamu serius, Rhein? Jadi uang itu memang untukku?"


"Tentu saja, simpan uang itu baik-baik. Bukannya kamu di dunia ini hidup sendiri. Jadi, pergunakan dengan sebaiknya."


"Aku bisa pergi dari negara ini untuk menemui teman baik mamaku dan aku mungkin bisa tinggal dengannya di sana."


"Teman baik mama kamu?"


"Iya, sebelum meninggal mamaku bilang agar aku menemui teman baiknya yang tinggal di luar negeri, dan mamaku sudah memberiku alamatnya ada di dalam dompetku."


Rhein terdiam sejenak. "Memangnya kamu tidak mau tinggal di sini saja? Kamu bekerja denganku."


Hazel tampak berpikir dengan sendok yang menempel di mulutnya. Hazel melihat wajah Rhein yang menatapnya serius.


"Jujur saja, Rhein. Di sini aku sudah tidak nyaman, dan aku ingin tinggal di tempat asing yang tidak ada orang yang mengenaliku dan aku kenali jika memiliki uang yang banyak suatu hari nanti. Aku juga tidak mau menjadi pelayan kamu selamanya. Suatu saat kamu akan menikah dan istrimu yang akan menyiapkan segala kebutuhan kamu. Jangan memakai pelayan agar lebih romantis." Hazel malah tersenyum.


Ada hal yang menggelitik perasaan Rhein, tapi Rhein sendiri tidak tau apa itu?"


"Aku tidak mau menikah, Hazel."


"Hah? Kenapa?"


"Karena aku tidak percaya dengan cinta dan suatu hubungan pernikahan."


"Apa karena gadis bernama Nala itu?"


"Tidak perlu dibahas. Lagi pula ini hidupku dan kamu atau orang lain tidak perlu ikut campur."


"Sendirian itu tidak enak, Rhein."


Rhein malah menyeringai melihat Hazel. "Hidupku tidak akan pernah kesepian, Gadis Perawan. Aku sangat bahagia dengan hidupku."


"Kadang, apa yang diucapkan tidak sama dengan yang ada di dalam hati." Hazel melirik Rhein yang malah tersenyum kecil mendengar ucapan Hazel yang meniru ucapan Rhein tadi.


"Habiskan makanan kamu dan kita segera tidur, aku sudah capek dan mengantuk."


"Apa aku masih harus tidur di sini bersama kamu?"

__ADS_1


"Tentu saja, bukannya kamu sudah kalah dariku?"


"Oh, aku kira kamu sudah lupa."


"Enak saja. Oh ya, Hazel, kalau mau menggunakan kartu ATM itu pakai nomor pin hari ulang tahunku. Kamu tau, kan?"


"Hah? Kenapa harus hari ulang tahun kamu?"


"Suka-suka aku, aku yang sudah membuat dan jangan di ganti. Awas saja kamu!" Rhein mendelik pada Hazel.


"Memangnya kamu mau mengambil uangku, Rhein? Bukannya uang kamu lebih banyak?" Hazel beranjak dari tempatnya dengan membawa alat makan yang kotor dan dia mau mencucinya.


"Agar kamu selalu ingat denganku, ingat orang yang sudah menolong kamu selama ini. Pahlawan kamu."


Hazel langsung meringis lucu mendengar celoteh Rhein.


Rhein sudah berbaring di atas tempat tidurnya dan dia menunggu Hazel yang katanya sedang mencuci piring, tapi kenapa tidak kembali. Apa Hazel mencuci piring di rumahnya?


Rhein beranjak dari tempatnya dan menuju dapurnya. Di dapur ternyata Hazel tidak ada, Rhein pergi ke ruang tengah dan dia juga tidak menemukan di mana Hazel berada.


"Kemana gadis perawan itu?" Rhein sedang berpikir sejenak. Tiba-tiba dia mendengar suara orang bersin dari kamar mandi yang ada di ruang tengah.


"Apa itu Hazel?"


'Kenapa Rhein ada di sini? Aku menunggu di sini sampai dia tidur dulu, jadi aku tidak perlu menemaninya tidur.' Hazel berbicara dari dalam hati.


"Gadis Perawan, apa yang kamu lakukan di dalam kamar mandi? Jangan coba-coba bersembunyi dariku. Buka pintunya!"


Hazel yang tidak ada pilihan lain dan karena dia sudah ketahuan, dia akhirnya membuka pintunya.


"Kamu belum tidur, Rhein?


"Bagaimana aku bisa tidur, jika gadis yang menghangatkan ranjangku malah bersembunyi di sini?"


"Sem-sembunyi? Siapa yang bersembunyi di sini? Aku sedang sakit perut tadi kebanyakan makan." Hazel terpaksa berbohong.


"Pembohong. Jangan berbicara bohong padaku karena aku bisa membaca mimik wajah para gadis yang berbicara tidak jujur denganku."


"Aku tidak bohong. Rhein! Apa yang kamu lakukan?"


Hazel tiba-tiba berontak karena tubuhnya diangkat oleh Rhein dan digendong ala karung beras pada pundak Rhein.


"Kamu diam saja."


"Rhein, turunkan aku ... apa yang mau kamu lakukan?"

__ADS_1


"Kamu sudah berani membuatku menunggu, apa kamu tau? Aku ini dari tadi sudah mengantuk dan capek, tapi kamu malah membuat masalah denganku."


"Aku tidak membuat masalah dengan kamu, Rhein."


Hazel dilempar di atas tempat tidur. Dia takut jika Rhein akan mengubah hukuman dari hanya menemani tidur menjadi teman bercinta.


"Rhein, kamu mau apa?" Hazel agak takut saat melihat Rhein perlahan naik ke atas ranjang seperti harimau hendak menerkam mangsanya.


"Aku mau tidur." Rhein menarik tubuh Hazel sampai gadis itu berbaring di atas ranjang dan Rhein memeluknya dari belakang.


"Rhein."


"Diam! Aku mengantuk." Rhein memejamkan kedua matanya.


"Rhein, aku mau minta izin. Apa boleh besok aku keluar untuk membeli buku bacaan? Aku bosan di sini saat sudah tidak ada yang bisa aku lakukan."


"Berenang saja, dan besok tidak perlu memakai apa-apa. Jadi, ada ide baru."


"Hm ...! Apa maksudmu? Dasar mesum!"


"Besok kamu akan banyak kegiatan. Jadi, kamu tidak perlu bingung besok mau apa."


"Kegiatan apa?"


"Kejutan, dan pasti kamu akan senang."


Hazel seketika menoleh ke arah belakang. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Rhein.


"Perasaanku kenapa langsung tidak enak begini? Rhein, kamu merencanakan kejutan apa lagi untukku?"


Rhein tidak menjawab. Dia malah terlihat nyenyak dengan memeluk Hazel.


"Rhein, katakan dulu, kamu jangan tidur dulu." Hazel mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Rhein, tapi pria itu masih tetap nyenyak dalam tidurnya.


"Rhein! Kenapa dia menyebalkan sekali? Pantas saja wanita yang dia sukai memilih kakaknya. Dia saja orangnya mengesalkan begini."


Hazel kembali ke posisinya yang semula dengan wajah ditekuknya.


Rhein yang sebenarnya belum sepenuhnya tidur, malah tersenyum kecil mendengar celotehan Hazel.


Rhein ini memang sangat jahil. Apa lagi jika lawannya seperti Hazel. Dia seolah mendapatkan kesenangan. yang lain.


Malam itu Rhein bisa tidur sangat nyenyak karena baginya memeluk Hazel seperti itu terasa bagi candu yang baru untuk Rhein.


Jujur saja, sebenarnya Hazel juga senang dipeluk oleh Rhein seperti itu. Dia seolah ada yang sayang dan melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2