Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Berenang


__ADS_3

Hari itu Hazel sesuai apa yang dia janjikan pada Rhein jika dia tidak akan ke mana-mana. Hazel menghabiskan waktu di dalam apartemen Rhein


Rhein yang ada di kantornya juga beberapa kali menghubungi Hazel mengingatkan untuk tidak keluar dari apartemen.


"Aku ngapain lagi di sini? Semua pekerjaan rumah sudah aku selesaikan, lagi pula apartemen ini juga tidak terlalu kotor. Rhein itu pria yang rapi dan suka kebersihan."


Hazel berjalan ke lantai bawah yang ada di apartemen Rhein. Dia melihat ada kolam renang yang lumayan besar di sana.


"Pasti menyenangkan bisa berenang di sini. Apa lagi tidak ada Rhein, lagi pula selama aku di sini tidak pernah berenang di sini, tapi aku tidak punya baju renang. Bagaimana ini?" Hazel berpikir sebentar, dia lalu mempunyai ide jika di sini tidak ada Rhein dia bisa memakai pakaian dalam saja saat berenang.


Hazel membuka baju dan celananya lalu dia perlahan masuk ke dalam kolam renang. Hazel tampak merasa bahagia merasakan dinginnya air di kolam itu.


"Lama sekali aku tidak pernah berenang. Terakhir aku berenang saat mengikuti ujian sekolah untuk olah raga berenang. Saat itu benar-benar menyenangkan."


Hazel mulai berenang dengan berbagai gaya karena memang dulu di sekolah dia mengikuti ekstrakulikuler berenang dan sempat menjadi juara satu saat bertanding dengan temannya.


"Menyenangkan sekali." Hazel beberapa kali mencelupkan kepalanya ke dalam air kemudian keluar mengambil napas. Dia benar-benar menikmati kegiatannya itu, bahkan dia menyiapkan makanan dan minuman di tepi kolam.


Di sana juga ternyata Rhein memiliki pelampung berbentuk angsa besar yang Hazel menduga itu dia siapkan pasti untuk para wanita yang dia ajak berenang di sana.


Hazel menggunakan itu untuk bersantai sejenak tiduran di atas pelampung angsa besar itu.


Hazel benar-benar tertidur sampai dia tidak sadar jika ada seseorang masuk ke dalam apartemen itu.


"Gadis perawan itu di mana? Kenapa tidak terdengar tanda-tanda ada dirinya di sini? Apa dia sedang tidur?"


Rhein masuk ke dalam kamarnya dan dia tidak melihat ada Hazel di sana.


"Ke mana dia? Di sofa juga tidak ada? Apa dia diculik?" Rhein mencoba memeriksa CCTV di sana.


Tertarik senyum pada sudut bibirnya saat dia melihat gadis yang dia cari sedang nyenyak tertidur di atas pelampung yang mengapung di atas air kolam renangnya.


"Dia di sana rupanya, dan apa yang dia pakai itu?" Rhein malah memasang smirknya.


Hazel yang merasa tidurnya sudah cukup membuka kedua matanya. Dia menguap dengan sangat lebarnya.


"Enak sekali bisa tidur setelah berenang. Ini jam berapa?" Hazel melihat jam di dinding dan jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore.


"Masih jam tiga dan aku masih waktu sebelum Rhein kembali dari kantornya." Hazel turun dari pelampungnya dan masuk ke dalam kolam ingin keluar dari kolam renang itu, tapi gerakannya terhenti tepat di tepi kolam karena dia merasakan ada seseorang di atas kolam.


"Pemandangan yang indah," ucap Rhein yang sudah berdiri di sana.

__ADS_1


"Rhein? Ka-kamu sudah pulang? Tapi ini masih jam tiga sore?"


"Memangnya kenapa kalau aku pulang lebih awal? Perusahaan itu aku yang punya."


Hazel seketika menyilangkan kedua tangannya menutup bagian dadanya.


"Aku tau, tapi biasanya pulang tepat waktu. Lalu, kamu kenapa bisa masuk? Aku sudah mengunci pintunya?" Hazel tampak kebingungan dengan kehadiran Rhein tiba-tiba di sana.


"Kamu kedinginan, ya? Kenapa kamu lupa kalau ini juga apartemenku, tentu saja aku bisa dengan mudah masuk."


"Iya, juga."


"Hazel, apa yang sedang kamu lakukan?"


"A-aku sedang berenang karena tadi aku bosan dan bingung mau berbuat apa lagi di sini."


Rhein yang masih berdiri di atas tepi kolam bersidekap. "A-aku tau kalau di sini tempat untuk berenang, tapi kenapa kamu tidak memakai pakaian renang?"


"Ini karena aku tidak mempunyai baju renang, Rhein, tapi aku ingin berenang."


"Tapi tidak apa-apa, pakaian dalammu itu cocok sekali untuk berenang di tempatku."


"Ambil saja sendiri. Memangnya kamu siapa berani menyuruhku?"


"Aku tidak menyuruh, tapi meminta tolong sama kamu." Hazel mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kamu tidak naik dan ambil saja sendiri?"


"Naik? Rhein, aku sudah mengatakan jika aku tidak memakai pakaian renang. Tolong ambilkan, dan aku akan segera menyiapkan makan malammu."


"Tidak mau. Ambil saja sendiri!" Rhein menaikkan salah satu alis dan sudut bibirnya.


"Jangan kejam padaku, Rhein. Aku bisa kedinginan di sini."


"Kalau tidak mau kedinginan, kamu naik dan ambil sendiri."


Hazel tampak terdiam sejenak. "Kalau begitu kamu pergi dulu dari sini, jadi aku bisa mengambil handukku."


"Enak saja, aku malahan ingin berenang juga karena sudah lama aku tidak berenang di sini."


"Apa?" Seketika kedua bola mata Hazel mendelik.

__ADS_1


Rhein membuka jubah mandinya dan tampak jelas di depan Hazel tubuh polos yang hanya memakai celana renang terpampang indah di sana.


"Rhein, apa yang kamu lakukan?"


"Aku mau berenang, Hazel."


"Iya, aku tau, tapi kalau mau berenang kamu tunggu aku keluar dulu dari dalam kolam renang dan nanti kamu bisa berenang sepuas kamu."


"Kamu kelamaan Hazel."


Rhein seketika melompat dari tempatnya dan masuk ke dalam kolam renang.


Hazel semakin tidak karuan detak jantungnya, dia sangat bingung harus bagaimana sekarang?


Hazel berenang perlahan menuju pojokan kolam renang, dan Rhein yang melihat hal itu malah mendekati Hazel.


Detak jantung Hazel semakin berdetak kencang melihat Rhein semakin mendekat ke arahnya.


Rhein memunculkan kepalanya tepat di depan wajah Hazel. Kedua pasang mata itu saling menatap lekat.


Rhein mengakui dalam hatinya jika Hazel terlihat sangat cantik saat rambutnya sedang basah seperti sekarang ini.


"Rhein, aku mau naik ke atas. Apa kamu bisa memalingkan dulu pandanganmu?"


"Sayangnya, aku tidak mau melewatkan kesempatan sebagus ini untuk melihat pemandangan yang sungguh indah." Tangan Rhein menarik pinggang Hazel dan sontak saja membuat kedua mata Hazel kembali membulat lebar.


"Rhein, kamu mau apa?"


"Bersenang-senang denganmu," ucap Rhein tepat di samping telinga Hazel.


"Rhein, jangan berpikiran yang aneh-aneh padaku. Kalau kamu mau bersenang-senang, kamu bisa mengajak para wanitamu yang biasa kamu ajak itu, aku tidak mau bersenang-senang denganmu."


"Aku sudah bosan dengan mereka, tapi dengan gadis unik seperti kamu aku belum pernah."


"Tidak mau."


Hazel berusaha melepaskan ????pelukan tangan Rhein pada pinggangnya.


Rhein malah tertawa dengan girangnya karena bisa membuat gadis itu ketakutan.


"Kamu menyebalkan, Rhein!" Hazel yang kesal memukul-pukul tubuh Rhein.

__ADS_1


__ADS_2