Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rencana Perjodohan Rhein part 1


__ADS_3

Kei mengatakan pada Rhein jika besok malam Kei mendapat undangan makan malam dari temannya dan karena berhubung daddynya tidak dapat mengantarkan jadi terpaksa Kei meminta tolong Rhein untuk mengantarkannya.


"Kenapa tidak memakai supir saja untuk mengantarkan mommy?"


"Rhein, kamu kebetulan ada di sini dan kita juga jarang atau bahkan hampir tidak pernah keluar bersama sebagai ibu dan anak. Apa kamu tidak mau mengantarkan mommy?"


Rhein tampak berpikir sejenak. "Aku hanya mengantar lalu aku pulang dan nanti Mommy pulang sama teman Mommy? Dia teman Mommy apa kekasihmu, Mom?"


"Dasar anak nakal! Kamu tidak pulang, tapi ikut makan malam sekali karena selama ini mereka taunya mommy punya tiga orang putra, tapi yang kedua tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Nanti mommy dikira hanya mengkhayal punya tiga anak." Rhein malah terkekeh. "Bagaimana? Kamu mau, kan, mengantarkan mommy, Rhein!"


"Iya, aku akan mengantarkan Mommy. Mommy senang sekarang?"


Wanita cantik itu memeluk putranya. "Terima kasih, ya Rhein?"


"Entah kenapa aku merasa tidak enak saja dengan ajakan Mommy ini?" Rhein melihat pada mommynya, dan sekali lagi wanita cantik itu hanya tersenyum manis.


Dia melepaskan pelukannya dan melihat dengan kedua alis hampir menyatu pada Mommynya. "Kenapa melihati mommy kamu sendiri seperti itu? Kalau begitu besok mommy tunggu kamu. Kamu jangan sampai terlambat."


"Hem!"


Rhein melihat mommynya melihat dengan pandanga yang seperti bukan mommy yang dia kenal.


"Mommyku kenapa? Apa dia benar mommyku?"


Malam itu setelah luka di wajah Rhein diobati oleh mommynya, Rhein izin ke tempat kerja daddynya karena dia mau meminjam laptop daddynya untuk mengurusi urusan kantornya karena di tempat Darren sekarang masih pagi hari.


"Kamu pakai saja karena Daddy dan Mommy mau pergi sebentar ingin membeli kue untuk di rumah, lagi pula mommy dan Daddy juga sudah lama tidak jalan-jalan berdua."


"Semoga malammu menyenangkan, Mom."


"Terima kasih, Sayang."


Rhein masuk ke dalam ruang kerja daddynya dan dia tersenyum melihat pemandangan indah yang ada di sana.

__ADS_1


Iya! Ternyata di sana ada gadis yang dia cintai sedang serius membaca bukunya dengan posisi berdiri membelakangi Rhein, dan sepertinya Hazel tidak sadar jika ada Rhein di sana karena dia benar-benar fokus dengan bukunya.


"Apa yang kamu baca?"


Hazel yang kaget sampai menoleh dan langkahnya goyah ke belakang sampai dia menabrak rak kayu besar yang ada banyak buku.


"Aduh!" Hazel memegangi belakang kepalanya yang terbentur.


"Sorry, aku benar-benar minta maaf, kamu tidak apa-apa, kan, Hazel?"


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu suka sekali menyakitiku, Rhein? Apa salahku sama kamu?"


"Hazel, aku tidak ingin menyakitimu. Aku tadi tidak sengaja. Apa kepalamu terluka? Rhein yang memang tingginya melebihi Hazel mencoba memeriksa belakang kepala Hazel dari arah depan.


Gadis yang ada di depan Rhein dan seolah dipeluk oleh Rhein itu tampak terdiam mendongak melihat wajah pria yang jujur saja masih ada di hatinya. Hazel bahkan dapat mencium aroma tubuh Rhein yang dulu biasa dia hirup dan rasanya membuat nyaman.


"Aku tidak apa-apa, Rhein. Aku mau permisi keluar dulu."


"Kamu mau ke mana?"


Hazel yang berjalan melewati Rhein dengan cepat tangannya ditahan oleh Rhein.


"Hazel, apa kamu bisa memaafkan semua kesalahanku dulu? Aku ingin kamu jangan menghindariku seperti ini, Hazel. Kamu tau jika apa yang kamu lakukan ini sangat sangat menyakitiku, Hazel. Maafkan aku, Hazel."


"Aku memaafkan kamu, Rhein, tapi aku harus menghindarimu karena aku tidak mau mendapat sakit lagi karena dekat denganmu. Sakit sekali, Rhein."


Hazel melepaskan tangan Rhein. Rhein berdiri terdiam di tempatnya. Tidak lama Hazel yang tangannya yang sudah memegang kenop pintu terhenti karena sebuah pelukan erat dia rasakan dari arah belakang.


"Rhein, apa yang kamu lakukan?"


"Aku mencintaimu, Hazel. Aku sangat mencintaimu." Rhein yang sudah tidak tahan dengan sikap Hazel yang acuh padanya membuatnya akhirnya tidak bisa menahan lagi untuk mengatakan isi hatinya walaupun nanti dia harus menghadapi adiknya sendiri."


"Apa maksudmu, Rhein?"

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu, Hazel Waltz." Rhein semakin mengeratkan pelukannya pada Hazel.


Hazel sangat kaget dengan apa yang baru saja Rhein katakan. Apa benar ini Rhein sang Casanova yang tidak mengenal kata cinta, tapi sekarang mengatakan dia mencintai seorang mantan pelayannya, yaitu Hazel? Sepertinya ini Rhein kebanyakan minum whiskey atau kalau tidak dia baru saja terbentur kepalanya ke tembok dan amnesia.


"Rhein, kamu jangan bercanda karena bercanda kamu sangat tidak lucu. Sekarang lepaskan tangan kamu karena aku mau pergi ke kamarku dan aku tidak enak jika nanti Orlaf pulang latihan basket dan melihat kita seperti ini." Hazel mencoba melepaskan pelukan tangan Rhein, tapi pria itu malah membalikkan tubuh Hazel dan sekarang menatap kedua mata indah Hazel dengan lekat.


"Aku tidak peduli jika Orlaf melihat kita seperti ini. Sekarang lihat kedua mataku, dan katakan apa yang kamu lihat dari mataku, Hazel? Aku mencintaimu dan aku tidak berbohong akan apa yang aku katakan sama kamu."


Hazel terdiam, tapi masih menatap mata Rhein dengan lekat. Hazel melihat tatapan yang berbeda saat dulu dia masih bersama dengan Rhein.


"Rhein, apa ada gunanya walaupun sekarang kamu mengatakan jika kamu mencintaiku? Aku kekasih Orlaf dan sebentar lagi aku akan menjadi tunangan Orlaf."


"Apa kamu mencintai Orlaf?"


"Aku sudah katakan jika aku akan belajar untuk mencintai Orlaf."


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?"


Hazel terdiam, dan lagi-lagi dia kesal pada pertanyaan Rhein yang seolah menyudutkannya.


"Hazel, aku sedang bertanya sama kamu. Katakan kalau kamu tidak mencintaiku, Hazel."


"Aku--?" Hazel seolah susah sekali ingin mengatakan hal itu karena hatinya sebenarnya masih sangat mencintai Rhein, bahkan dia sangat merindukan Rhein.


"Kamu masih mencintaimu dan tidak pernah akan bisa melupakanku. Ikutlah denganku, kita pergi kembali ke tempat di mana kita pertama kali bertemu. Tinggal di apartemenku sebagai istriku. Kita habiskan waktu bersama, hanya ada kamu dan aku."


Hazel terpaku mendengar apa yang Rhein katakan. Dia bahkan tidak sadar jika bibir Rhein sudah mendekat pada bibirnya.


"Rhein," ucap Hazel pelan.


Rhein sudah menguasai bibir Hazel. Rhein sangat merindukan ciuman yang dulu sering dia ambil tanpa permisi pada pemiliknya.


Bodohnya Hazel membiarkan ciuman itu terus berlanjut, sampai pada akhirnya Hazel seolah tersadar dari kenikmatan yang diberikan oleh Rhein. Hazel mendorong tubuh Rhein dan air matanya menetes.

__ADS_1


"Aku tidak boleh melakukan ini pada Orlaf. Aku membencimu, Rhein. Aku sangat membencimu." Hazel berlari pergi dari sana.


Rhein hanya bisa terdiam terpaku sekali lagi di tempatnya.


__ADS_2