
Darren mengatakan jika bosnya itu orang yang pandai membaca situasi, dan kalau Rhein sudah memilih Hazel yang notabennya bukan seorang model, tapi Rhein yakin Hazel bisa, pasti hal itu sudah Rhein pikirkan.
"Tapi aku takut merusak semuanya Kak Darren."
Darren terdiam sejenak. "Kalau menurutku, kamu percaya saja sama Tuan Rhein. Jika kamu berhasil, maka akan membawa diri kamu ke arah yang lebih baik, Hazel, daripada kamu harus bekerja di club malam. Pikirkan juga kamu bisa mendapat lebih banyak penghasilan untuk membiayai hidup kamu dan masa depan yang lebih baik."
Ucapan Kak Darren ada benarnya. "Aku bisa saja membantu kamu memberi kamu uang, tapi aku yakin jika kamu tidak akan mau."
"Iya, aku tidak mau belas kasihan orang lain jika aku masih bisa berusaha dan berdiri di kakiku sendiri."
"Aku kenal siapa kamu, Hazel.".
"Tapi Kak Darren, aku takut jika nanti harus memakai pakaian terbuka. Jujur aku tidak pernah dan merasa aneh sendiri."
"Hem!" Darren hanya menghela napasnya kecil. "Jika kamu sudah terjun ke dunia model, kamu juga harus mengikuti semua aturannya, tapi nanti coba bicara dengan tuan Rhein saja."
Hampir seminggu lebih Rhein dirawat di rumah sakit, dan setiap hari juga Hazel, lah, orang yang selalu menemani Rhein. Rhein bahkan sudah menghubungi Sean dan menceritakan jika dia dan Hazel terlibat kerja sama karena Rhein tidak mau menutupi seolah dirinya dan Hazel ada hubungan spesial pakai ditutupi segala.
"Aku dari awal sudah curiga dengan kalian." Sean yang mengunjungi Rhein di rumah melirik pada sahabatnya itu.
"Curiga apanya? Aku dan Hazel tidak ada hubungan apa-apa, jadi jangan melihat seperti itu."
"Ini minumnya, Tuan Sean." Hazel menyediakan segelas lemon tea dingin untuk Sean."
"Lemon tea dingin? Apa tidak ada whiskey atau Vodka, Haze?"
"Apa?" Hazel tampak terkejut.
Rhein tersenyum miring. "Kalau mau minuman seperti itu, kamu pergi saja ke clubmu karena di sini sudah tidak ada minuman seperti itu. Hazel sudah membuang semua minuman mahalku. Kamu dengar!"
"What? Kenapa?"
"Itu karena dokter yang menyuruh agar Rhein tidak minum dulu selama penyembuhan di rumah," terang Hazel.
Terdengar suara tawa Sean di sana. "Kenapa dia malah seperti mommyku? Sepertinya aku salah meminta Hazel bekerja di sini."
"Dia tidak seperti mommy kamu, tapi seperti istri kamu yang sangat menjagamu."
Blup
Sean mendapat lemparan bantal sofa dari Rhein tepat di wajahnya.
__ADS_1
"Tuan Sean, saya meminta maaf juga tidak izin dengan baik keluar dari club milikmu."
"Santai saja Hazel. Aku senang sebenarnya kamu tidak bekerja di tempatku karena di sana bukan tempat untuk gadis polos dan lugu seperti kamu, tapi waktu itu kamu memaksa karena sedang membutuhkan uang."
"Iya, aku memang sangat membutuhkan uang agar bisa tetap bertahan hidup."
"Sekarang hidup kamu akan lebih baik bekerja dengan Rhein. Semoga." Sean melirik pada Rhein dengan tersenyum miring dan Sean menghabiskan minumannya.
"Apa maksud lirikanmu itu?"
"Tidak ada."
***
Beberapa hari berlalu dan keadaan Rhein sudah jauh lebih baik Luka di tangannya pun berangsur membaik.
"Rhein, apa aku boleh meminta izin nanti pergi ke flat milik temanku?"
Rhein menunduk melihat pada gadis yang sedang memasangkan dasi padanya.
"Apa temanmu sudah pulang?"
"Sudah, dia sudah pulang seminggu yang lalu. Aku waktu itu mencoba menghubungi ponselnya."
Hazel menggeleng. "Kalau begitu aku akan membuat masakan sedikit saja untukku sendiri."
"Terserah. Aku pergi dulu."
Hazel berdiri di tempatnya dan tampak terdiam beberapa saat. "Pria ini hidupnya benar-benar berjalan seperti apa yang dia inginkan. Dia kaya, tampan, dan memiliki kekuasaan, bahkan dia tinggal memilih dengan wanita mana dia ingin bercinta. Huft! Aku kasihan sekali dengan istrinya kelak, tapi apa dia akan menikah suatu saat nanti? Tanpa menikah pun dia bisa mendapat kepuasan di ranjang. Benar-benar bukan pria impianku."
Hazel melakukan pekerjaan rumahnya seperti biasa. Kemudian dia pergi ke rumah temannya.
"Hazel, aku sangat merindukan kamu." Sahabat Hazel itu pun memeluknya.
"Aku juga merindukan kamu. Bagaimana dengan liburanmu di sana?"
"Sangat menyenangkan dan bulan depan aku akan menikah dengan Cris."
"Kamu serius?"
"Sangat serius. Aku dan Cris akan menikah secara sederhana dan aku akan membuat pesta kebun untuk pernikahan kita."
__ADS_1
"Pesta pernikahan yang dari dulu sangat kamu impikan, Bella."
"Benar, Hazel, dan kamu harus datang."
"Tentu saja aku akan datang. Senang sekali mengetahui bahwa kamu dan Cris akan menikah."
"Oh ya! Apa pria bernama Rhein yang kamu ceritakan itu sangat tampan? Berapa usianya? Dia masih sendiri?"
"Huft! Banyak sekali pertanyaanku itu. Rhein usianya sekitar 27 tahun, dia tampan, dan dia pria dengan banyak wanita."
Bella mengkerutkan kedua alisnya. "Wow! Dia tipe pria yang kamu benci?"
"Begitulah." Hazel menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Hazel, apa dia pernah mencoba merayumu?"
"Tidak pernah. Malahan dia mengatakan jika aku sama sekali bukan gadis tipenya. Aku tidak menarik, tapi aku tidak peduli."
"Hahahah! Dia belum tau apa yang tidak dimiliki oleh seorang Hazel dibandingan wanita lainnya." Tangan Bella memeluk pundak sahabatnya itu.
"Apa maksud kamu? Aku malah senang bukan menjadi tipe wanita Rhein, dan aku juga tidak bermimpi ingin menjadi salah satu korban Rhein."
Bella tertawa dengan kerasnya, dia tau jika sahabatnya ini masih sangat polos dan lugu.
Hazel berada di sana sampai menjelang malam. Dia sangat senang bisa berbicara lama dengan satu-satunya sahabat baik yang Hazel punya.
Hazel kembali ke apartemen Rhein, dan di sana tampak sepi. "Kalau sendirian seperti ini juga tidak enak. Tau begitu aku tadi menginap saja di tempat Bella." Hazel duduk malas di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Tidak lama ponselnya berdering dan Hazel melihat nama Rhein di sana.
"Ada apa dia menghubungiku? Apa dia tidak takut wanitanya marah. Dasar pria ini adalah Tuhan untuk hidupnya sendiri."
"Halo, Gadis Perawan, kenapa lama sekali menjawab panggilanku?"
"Aku baru saja sampai, Rhein. Ada apa memangnya?"
"Aku kira kamu tidak pulang. Oh ya! Jangan melakukan hal aneh di apartemenku karena aku tidak menyukainya."
"Hal aneh? Maksud kamu apa?"
"Siapa tau kamu membawa pria ke sana karena tau aku tidak akan pulang, atau kamu menghubungi Darren agar bisa bermesraan sama kamu di apartemenku."
__ADS_1
"Apa? Ya Tuhan! Kenapa di dalam pikiran kamu selalu hal seperti itu. Aku seorang gadis yang masih punya etika."