Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Makan Malam part 1


__ADS_3

Rhein berusaha menjelaskan pada Hazel tentang malam di mana dia pergi dari apartemen Rhein, tapi Hazel seolah tidak peduli akan hal itu.


"Orlaf, aku kembali ke kamarku dulu, ya? Apa yang aku katakan tadi tentang rancangan kamu itu benar adanya, kamu memang seorang yang jenius." Hazel menunjukkan jempolnya.


Rhein melihat Hazel yang sudah masuk ke dalam kamarnya dan dia berjalan masuk ke dalam kamar Orlaf.


"Bisnis cafe kamu maju pesat, ya?"


"Ya, aku bersyukur bisa menjalankannya dengan baik dan bisa sukses."


"Kamu hebat bisa membuktikan pada daddy bahwa tidak harus bekerja di sebuah perusahaan besar untuk menjadi orang sukses. Kamu bisa menjadi pengusaha sukses lewat bisnis kuliner yang kamu jalankan."


"Iya, dan aku sangat bahagia saat mengetahui jika kekasihku, yaitu Hazel suka sekali memasak. Kami nanti bisa menjadi patner yang saling melengkapi satu sama lain."


"Dia memang suka memasak, dan masakannya enak sekali," gerutu Rhein.


"Kak Rhein bicara apa?" Orlaf bingung ini kakaknya komat kamit apa?


"Aku tidak bicara apa-apa?"


"Aku juga ingin membangun toko bunga di samping cafe milikku yang nanti itu akan menjadi milik Hazel. Aku akan memberikan toko bunga itu sebagai hadiah pernikahan saat aku menikahinya nanti."


"Jadi, kamu serius ingin menjadikan Hazel istri kamu?"


"Tentu saja, Kak."


"Orlaf, bagaimana jika Hazel tidak mencintaimu?"


Orlaf seketika menghentikan kegiatannya merapikan kertas kerjanya. "Apa maksud, kamu Rhein?"

__ADS_1


"Maksudku dulu Hazel pasti memiliki suatu kisah di tempat tinggalnya dan apa bisa orang jatuh cinta dengan waktu yang singkat. Bukannya kamu dan Hazel juga bertemu baru beberapa bulan."


"Aku tau, Hazel juga sudah menceritakan semuanya padaku, tentang pria yang dia cintai, tapi sudah melukainya. Dia sedang berusaha untuk melupakan pria itu dan dia berusaha untuk mencintaiku."


"Kalau Hazel tidak bisa melupakan pria itu, bagaimana?"


Orlaf terdiam sejenak. "Aku tidak akan marah jika dia masih memikirkan tentang pria itu karena melupakan orang yang kita cintai itu tidak mudah. Namun, Hazel mengatakan akan berusaha untuk melupakan pria itu karena pria itu tidak pantas dia cintai. Aku ikuti saja, apa yang sekarang sedang aku jalani dengan Hazel."


"Orlaf, kenapa kamu tidak memilih gadis lainnya saja yang juga mencintaimu? Kenapa malah menyakiti diri kamu sendiri?"


"Aku tidak menyakiti diriku sendiri, Rhein. Aku hanya meyakini apa yang terucap dari dalam hatiku. Aku menyukai Hazel dan ada sesuatu dari diri Hazel yang membuatku ingin sekali mengenalnya lebih dekat. Aku ingin membahagiakan dia, Rhein karena selama ini dia selalu merasakan penderitaan dalam hidupnya dengan ditambah pria yang sudah menyakitinya itu."


Rhein seketika merasa bersalah karena dialah lelaki yang sudah melukai Hazel itu.


Walaupun Rhein sudah mendengar keinginan mulia Orlaf itu, tetap saja tidak membuat niat Rhein surut untuk mendapatkan Hazel karena tidak hanya Orlaf yang ingin membahagiakan Hazel, tapi juga Rhein ingin sekali membuat Hazel hidupnya penuh kebahagiaan. Apa lagi Rhein tau jika pria yang dicintai Hazel adalah dirinya. Hidup Hazel pasti akan lebih bahagia.


***


"itu apa, Tante Kei?"


"Ini satu set kemeja yang akan Rhein pakai nanti malam saat makan malam bersama dengan teman-teman tante, Hazel, dan ini tante pesan khusus untuk acara nanti malam karena nanti malam Rhein akan aku pertemukan dengan gadis yang nanti akan aku jodohkan dengan Rhein. "


" Apa? Gadis yang akan dijodohkan dengan kak Rhein?"


"Iya Hazel. Malam ini aku akan memperkenalkan Rhein dengan gadis seorang gadis yang nanti akan aku jodohkan dengannya. Dia gadis yang cantik, baik dan di juga pandai memasak."


Seketika ada sesuatu yang membuat dada Hazel agak sesak. Kemarin Rhein baru saja mengatakan perasaannya pada Hazel, tapi hari ini dia akan dipertemukan dengan seorang gadis. Mungkin ini memang yang terbaik untuk mereka, tapi kenapa mereka harus diipertemukan kembali kalau hanya untuk membuat sakit satu sama lain?


"Hazel, Tante berharap Rhein mau menerima gadis itu. Akira kakaknya Rhein sudah menikah dan sebentar lagi kamu dan Orlaf. Tante selalu memikirkan tentang masa depan putraku itu. Tante tidak mau Rhein terus saja hanya bermain-main dengan para wanita itu. Tante juga berharap Rhein memiliki keluarga dan anak yang lucu-lucu. Aku dan Adrian bermimpi di hari tua kami, kami ingin hidup di tengah-tengah cucu dan anak-anak kami serta para pasangannya yang bahagia."

__ADS_1


Hazel memeluk tante Kei. Hazel berdoa semoga apa yang diimpikan oleh Tante Kei akan terwujud nantinya.


"Tante kalau begitu aku permisi ke lantai bawah dulu karena mungkin Orlaf sudah menungguku di sana. Aku juga akan membantu Tante Kei melayani Om Adrian dan Orlaf."


"Terima kasih, Hazel. Setelah memberikan ini pada Rhein, aku akan segera turun."


Hazel mengangguk dan dia pergi dari sana, sedangkan wanita cantik itu mengetuk pintu kamar putranya.


"Ada apa mommy menggangguku pagi sekali? Aku sedang tidak ingin makan pagi. Aku masih mengantuk, Mom."


"Rhein, kamu bangun segera dan cobalah baju yang mommy bawakan untuk kamu."


Rhein hanya melihat sekilas pada apa yang dibawa oleh mommynya. Lalu, dia berjalan masuk dan kembali berbaring di atas tempat tidurnya.


"Rhein, bangun dulu dan coba kemeja ini."


"Untuk apa, Mom? Lagi pula Mommy juga sering melihatku menggunakan kemeja, dan aku terlihat sangat tampan," oceh Rhein dengan posisi tengkurap di atas tempat tidurnya.


"Kemeja ini khusus mommy belikan untuk kamu pakai nanti malam saat kita makan malam dengan teman-teman Mommy, Rhein."


"CK! Kenapa harus memakai kemeja khusus? Itu, kan, acara makan malam Mommy dan teman-teman Mommy. Jadi, aku tidak terlalu penting."


"Siapa bilang kamu tidak terlalu penting? Mommy malah ingin dipuji oleh mereka karena malam ini mommy akan datang dengan putra mommy yang paling tampan," puji mommy Rhein berlebihan sih.


Rhein mendongak melihat pada mommynya. "Memangnya Mommy mau menjualmu pada teman-teman Mommy yang sudah tante-tante itu?"


Ini anak memang mulutnya suka tidak difilter. Kei sampai kesal dengan putra keduanya ini. "Iya, nanti mommy mau menjual kamu kalau kamu terus berbuat hal yang mengesalkan untuk Mommy."


Rhein seketika beranjak dari tempatnya dan berdiri memeluk mommynya dari belakang. Rhein melingkarkan kedua tangannya pada leher wanita paruh baya, tapi masih terlihat sangat cantik itu.

__ADS_1


"Aku senang sekali jika Mommy menjualku pada tante-tante yang pasti masih cantik-cantik itu," bisik Rhein pada telinga mommynya.


Kei langsung memukul lengan tangan putranya dengan kesal. Mereka berdua lantas tertawa dengan senangnya.


__ADS_2