
Dari kejauhan ada sepasang mata sedang memperhatikan Hazel, dan tentu saja tatapan orang itu bukan tatapan yang senang melihat kehadiran Hazel. Dia malah sangat tidak suka melihat Hazel ada di sana.
"Apa itu gadis yang waktu itu mengganggu kesenanganku dengan Rhein? Dia mau bersaing denganku? Sepertinya aku harus membangunkan dia dari mimpinya." Wanita itu menaruh gelas minumannya dan berjalan menuju ke arah Rhein.
Rhein yang baru saja memberi sambutan di depan podium tampak tersenyum dan turun dari sana.
"Hai, Rhein." Tangan wanita yang tak lain adalah Renata mengalung pada leher Rhein.
"Hai, Renata, aku kira kamu tidak datang."
"Apa kamu mencariku atau kamu merindukanku?"
Rhein tersenyum tipis mendengar apa kata Renata. "Bagaimana aku tidak mencari kamu, kamu adalah orang penting dalam acara ini."
"Apa aku juga sangat penting bagi kamu?"
"Renata, bagiku tidak ada yang penting untukku kecuali keluargaku dan bisnisku. Apa yang sebenarnya kamu ingin aku katakan? Kamu berharap setelah apa yang terjadi dengan kita waktu itu membuat kamu begitu berarti bagiku. Ayolah, Sayang! Kamu tau siapa aku dan aku tau siapa kamu."
"Baiklah, tapi bagaimana jika pemikiran dan perasaanku berubah setelah bersama denganmu?"
Rhein malah terkekeh dengan lepas. "Maksud kamu apa? Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta padaku?"
"Bagaimana kalau iya?"
"Kalau memang iya, aku harus minta maaf karena aku sudah mematahkan hati kamu. Aku senang menjalin hubungan denganmu hanya karena kamu bisa membawa keberhasilan perusahanku, hanya itu. Jadi, kita nikmati saja hubungan ini."
Rhein mengecup pipi Renata, dan Hazel yang baru bicara dengan salah satu istri rekan kerja Rhein melihat hal itu.
"Rhein. Apa itu kekasihnya? Wanita itu cantik dan nyaris sempurna," ucap Hazel lirih.
Rhein berjalan pergi dari sana dan mencari minuman, sementara Hazel memilih pergi dari sana. Dia juga sangat lapar dan dia ingin mencari makanan.
__ADS_1
Hazel berjalan di meja yang terdapat dessert, dia mengambil puding dan menikmatinya dengan lahap.
"Pelan-pelan kalau makan, Hazel," ucap seseorang yang membuat Hazel langsung menoleh ke arah suara itu.
"Kak Darren?" Hazel seketika memeluk Darren. "Apa Kak Darren sudah makan?"
"Belum, nanti saja, Hazel, aku belum lapar. Bagaimana menurut pendapat kamu tentang acara ini?"
"Acaranya sangat megah dan tempatnya sangat bagus sekali." Hazel mendekat ke arah Darren, dan dia berbisik pada telinga Darren. "Apa lagi makanan di sini sangat menak sekali." Darren tersenyum, begitu juga Hazel.
Dari tempatnya Rhein yang sedang berbicara dengan seseorang tampak melihat kesal pada kedekatan Hazel dan Darren.
"Mereka itu sok mengaku sebagai kakak adik. Tidak ada hubungan seperti itu, kalian pasti sebentar lagi juga akan memiliki hubungan khusus. Menyebalkan!" umpat Rhein kesal.
Rhein masih terus memperhatikan mereka berdua, hingga waktunya dia harus membawa Hazel ke depan acara karena dia akan memperkenalkan cincin dengan batu berlian yang menjadi masterpiece acara itu.
Berlian dengan sebutan Diamond Heart yang Rhein pasangan pada sebuah cincin dan hanya ada sekitar tiga puluh unit di dunia ini. Salah satunya akan dia pakaikan pada jari manis model barunya yang tak lain adalah Hazel.
"Baik, Tuan Rhein." Darren berjalan pergi dari sana.
"Rhein, apa aku harus berdiri di atas sana? Aku malu kalau dilihat banyak orang."
"Apa yang kamu malukan? Kamu bintangnya di sini."
Tangan Rhein terangkat dan menghapus dengan lembut sisa makanan yang menempel pada bibir Hazel. "Ada sisa makananku, ya?"
"Iya, dan seharusnya aku menghapusnya dengan menggunakan bibirku."
Seketika wajah Hazel tampak aneh mendengar apa yang baru saja Rhein katakan. Hazel sampai memundurkan langkahnya ke belakang. "Kamu jangan bicara sembarangan, Rhein."
"Aku hanya bercanda." Tangan Rhein menggandeng tangan Hazel dan membawa gadis itu ke tengah acara.
__ADS_1
Si pembawa acara memperkenalkan sang masterpiece dari dua perusahaan besar yang saling bekerja sama. Rhein juga memperkenalkan Hazel sang model baru yang tentu saja dia menjadi salah satu hal yang membuat pemasaran berlian miliknya sukses.
"Berlian yang indah dan bernilai mahal akan sangat cantik terpasang di jari manis gadis secantik kamu yang aku tau kamu memiliki hati seperti sang masterpiece "Diamond Heart" yang indah ini." Rhein mengecup punggung tangan Hazel dan mengedipkan salah satu matanya pada Hazel.
Hazel speechlees dengan semua yang terjadi padanya malam ini. Dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan sebaik ini. Rhein ternyata diam-diam sangat baik memperlakukan dia yang hanya seorang pelayan di rumahnya.
"Te-terima kasih, Rhein." Hazel menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja tanpa permisi.
Dari tempatnya sekali lagi, ada sepasang mata yang memilih tidak ikut dalam acara utama itu. Renata tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat senyum Hazel di depan acara utama.
"Gadis tidak tau diri. Pelayan rendahan yang bisanya menggunakan tubuhnya yang masih polos untuk menarik perhatian, Rhein. Aku juga bisa memberi Rhein kenikmatan seperti apa yang kamu berikan pada Rhein," ucapnya menahan marah, dan tangannya seolah ingin meremukkan gelas yang sedang dia pegang.
Acara kembali berjalan seperti biasa, dan sejak mereka mengetahui Hazel adalah model baru Rhein yang langsung membawa kesuksesan untuk perusahan Rhein, banyak dari mereka yang menawari Hazel pekerjaan, tapi Rhein menjelaskan Jim Hazel tidak bekerja dengan yang lainnya dan ini memang keinginan Hazel.
"Rhein, aku mau ke belakang dulu ya? Sudah tidak tahan ini."
"Mau aku antar?"
"Untuk apa? Kamu mau mengintip para wanita di sana? Dasar mesum," gerutu Hazel.
"Mau membantu kamu jika memerlukan bantuan menaikkan resleting gaunmu."
Hazel memutar bola matanya jengah. Dia tidak mau meneruskan bicara hal tidak penting dengan Rhein daripada dia nanti malah buang air kecil di sana. Hazel seketika berlari menuju arah kamar mandi setelah bertanya pada salah satu pelayan di sana.
Hazel masuk ke dalam salah satu toilet di sana, dan saat dia sudah selesai ingin keluar dari toilet. Hazel yang ingin mencuci tangannya mendengar beberapa wanita di sana sepertinya sedang membicarakan gadis yang Rhein perkenalkan sebagai model barunya.
"Dia memang cantik, tapi aku dengar dia hanya seorang pelayan di apartemen Rhein."
"Dia selain cantik juga pandai sekali. Dia pandai membuat dirinya dijadikan Rhein model untuk memasarkan sesuatu yang sangat ternilai. Memangnya apa kira-kira yang dia tawarkan pada Rhein agar menjadikan dia modelnya?"
Terdengar tawa riang dan mengejek mereka. "Tentu saja tubuhnya, apa lagi yang bisa seorang pelayan berikan jika bukan tubuhnya itu?"
__ADS_1
Hazel yang masih di dalam toilet sangat sedih mendengar hal itu. Padahal dia saja tidak tertarik dengan tawaran Rhein.