
Rhein mengatakan jika cincin itu untuk Hazel dan dia ingn Hazel menyimpannya walaupun dia tidak akan pernah memakainya.
"Rhein, aku tidak bisa menyimpan cincin ini." Hazel menggelengkan kepalanya tidak mau menerima cincin itu.
"Jadi, kamu tidak mau menerimanya? Baiklah, untuk apa aku menyimpannya?" Rhein tiba-tiba melempar cincin itu sampai keluar dari jendela kamar Hazel.
"Rhein! Apa yang kamu lakukan?" Hazel terkejut dia tampak bingung.
"Membuangnya, untuk apa aku menyimpannya. Cincin itu tidak berguna lagi dan aku juga tidak akan memberikan pada gadis lain karena ini hanya milikmu dan kalau kamu tidak mau, aku buang saja."
"Rhein, aku minta maaf jika sudah menyakitimu, tapi aku sudah memutuskan jika kita akan bahagia dengan orang lain dan aku yakin kamu juga akan bisa bahagia dengan Dinda."
Rhein malah berbaring di atas tempat tidur Hazel. "Tidurlah di sini. Apa kamu tidak merindukan saat aku tidur memelukmu?"
"Rhein, aku minta tolong agar kamu keluar dari kamarku."
__ADS_1
"Aku ingin bercerita denganmu tentang gadis yang akan dijodohkan denganku."
Hazel rasanya tidak ingin mendengar cerita tentang hal itu, tapi dia tidak boleh menunjukan jika dia tidak menyukai jika Rhein memiliki hubungan dengan gadis lain.
"Aku akan ceritakan jika ternyata Dinda gadis yang beda sekali dengan apa yang dikatakan oleh mommyku, tapi aku senang bisa mengenalnya. Aku juga ingin mencoba rasanya," ucap Rhein lirih sembari tersenyum devil.
"Rhein, jangan lakukan itu!" seru Hazel seketika, dan seketika dia naik ke atas ranjang mendekat ke arah Rhein.
"Kenapa memangnya? Aku harus tau juga dia masih perawan atau tidak. Aku tidak mau menikahi wanita yang sudah bekas orang lain. Enak saja." Rhein tidur dengan kepala disangga lengan kekar yang terbungkus kemeja yang dia pakai.
"Aku sering melakukan hal itu, Hazel, apa kamu lupa. Bahkan kamu juga salah satunya dan jujur saja, dari semuanya, kamu yang paling aku sukai. Namun, jika Dinda masih tersegel dan aku pertama yang membukanya, itu berarti dia memang ditakdirkan menjadi jodohku."
Rhein beranjak dari tempatnya dan dia berjalan keluar dari kamar Hazel dengan santai.
Ada rasa tidak rela jika Dinda adalah jodoh Rhein, tapi Hazel selalu berusaha melupakan cintanya pada Rhein dan dia akan mencintai Orlaf dan Orlaf."
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Hazel yang memang tidak bisa tidur keluar dari dalam kamarnya. Dia sengaja menunggu sampai larut malam dan semua orang di rumah tidur, termasuk Rhein.
Hazel turun ke lantai bawah dan menuju ke taman di mana cincin yang dilempar oleh Rhein kemungkinan terjatuh.
"Di mana cincin itu? Dasar, Rhein bodoh! Kenapa dia melempar cincin itu seolah mencampakkan seorang gadis seenaknya?"
Hazel masih terus mencari, bahkan tangannya tidak jijik mengais di tanah yang agak basah.
"Cincin, kamu di mana? Kalau aku menemukanmu, aku akan menyimpanmu, tapi tanpa ketahuan oleh Rhein."
Hampir satu jam Hazel mencari dengan wajah yang agak belepotan tanah.
Dia akhirnya terduduk karena capek. "Ini apa?"
Tangan Hazel merogoh pada bagian pantatnya yang rasanya tidak nyaman karena menduduki sesuatu.
__ADS_1
"Ini cincinku!" Hazel ingin berseru senang, tapi dia cepat-cepat menahannya. Dia kemudian memakai cincin itu di jari manisnya.