
Panggilan Rhein tidak dipedulikan oleh Hazel. Hazel tetap berjalan keluar dari apartemen Rhein, dia benar-benar sakit hati atas ucapan Rhein.
Rhein yang kesal menendang dengan keras lemari dapur yang ada di sana. "Aku ini kenapa? Kenapa aku begitu marah melihat gadis itu menjadi model gaun tidur yang sangat terbuka itu, apa lagi tangan pria itu memegang tubuh Hazel."
Rhein semakin bingung dengan dirinya sendiri. "Kalau jatuh cinta, aku tidak mungkin jatuh cinta pada Hazel karena gadis itu bukan tipeku. Siapa dia yang bisa membuatku jatuh cinta?" Rhein yang masih kesal memilih masuk ke dalam kamar dan mandi dengan masih menggunakan baju lengkapnya. Dia sepertinya ingin sekali mendinginkan otaknya yang saat ini terasa sangat panas seperti api membara, dia teringat akan Hazel yang mempertontonkan tubuhnya dan pria model itu menyentuh seluruh tubuh Hazel.
Hazel menangis duduk di taman sendiri, dia membuka kotak yang diberikan oleh Bill kakak tirinya. Hazel akan selalu membawa kotak itu ke manapun dia pergi.
"Mama, Hazel kangen sama mama. Mama kenapa tidak mengajak Haz saja." Dia menangis memeluk foto kedua orang tuanya.
Hazel lama berada di taman, dan Rhein pun tidak ada tanda-tanda untuk mencarinya karena Rhein sendiri masih kesal pada Hazel.
Hazel melihat ada secarik kertas di sana, di mana itu adalah sebuah surat dari sahabat mamanya Hazel.
Di sana sahabat mamanya Hazel menyuruh mamanya Hazel bersama keluarganya berkunjung ke rumahnya yang ada di Indonesia karena dia kangen sekali dengan mamanya Hazel.
Di sana juga tertulis alamat rumah dari sahabat mamanya Hazel.
"Tante Kei pasti belum tau kalau mamaku sudah meninggal dan kehidupan kami tidak seperti dulu lagi. Apa aku menemui dia saja dan siapa tau aku bisa tinggal dan mendapat pekerjaan di sana. Aku ingin pergi dari kota ini bahkan dari kehidupan Rhein." Hazel menangis dengan mencengkeram surat itu karena dalam hatinya Hazel tidak mau jauh dari Rhein. Dirinya terlalu mencintai sang casanova itu.
Beberapa jam di sana, hati dan perasaan Hazel mulai tenang. Dia memilih untuk kembali ke apartemen Rhein. Dia sekali lagi akan menekan perasaannya dan tetap bekerja di tempat Rhein. Bagaimanapun juga Hazel sangat mencintai Rhein.
"Rhein apa tidak ada di rumah? Kenapa lampunya mati?" Hazel menyalakan lampunya dan mulai membersihkan apartemen itu. Dia pun memasak untuk makan malam Rhein.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tanda-tanda Rhein pulang pun tidak tampak. Hazel sekali lagi merasa sedih. Dia memilih untuk tidur saja dengan perut kosong dan nasib masakannya besok akan dia buat sarapan pagi saja.
Hazel yang akan mengunci pintu utama, kaget saat ada yang mengetuk pintu.
"Itu pasti Rhein." Hazel membukanya, dan benar saja jika itu Rhein, tapi dia tidak datang sendirian. Rhein datang dengan wanita yang sangat membenci Hazel dan menganggap Hazel adalah saingannya.
"Hai, gadis pelayan, terima kasih sudah dibukakan pintunya."
__ADS_1
Hazel melihat ke arah Rhein, tapi pria itu hanya melihat sekilas karena Rhein sepertinya sedang dalam keadaan terpengaruh minuman. Haz mencium bau minuman dari tubuh Rhein.
"Rhein, aku akan bantu kamu ke kamar." Hazel yang akan membantu Rhein tangannya ditepis oleh Rhein.
"Tidak perlu. Kamu pergi saja, biar Renata yang mengantarku karena malam ini aku ingin bersenang-senang dengannya."
"Tentu saja, Sayang. Aku milikmu malam ini." Renata mengecup bibir Rhein tepat di depan Hazel.
Hazel mencoba menguatkan dirinya melihat itu semua. Renata membawa Rhein berjalan masuk ke dalam kamar, dan dia sengaja tidak menutup pintu kamar Rhein dengan rapat agar Hazel bisa mendengar bagaimana Rhein dan dirinya sedang melakukan percintaan yang sangat gila.
Hazel memilih duduk di lantai bersandar pada meja dapur yang terdapat tungku api di atasnya. Hazel menangis di sana, dia juga menutup telinganya mendengarkan suara yang benar-benar menyakitkan hatinya.
Kenapa Rhein sangat tega melakukan semua itu padanya? Padahal Hazel sudah mengatakan perasaanya, setidaknya walaupun Rhein tidak mencintai Hazel, setidaknya dia menjaga perasaan Hazel.
Di dalam kamar dua orang itu saling bergerak dengan liar. Renata mendominasi permainan, dia tepat berada di atas Rhein.
"Hazel, aku menyukai permainanmu, kamu tau kalau kamu hari ini benar-benar mengesalkan, tapi aku tidak bisa membencimu." Rhein memaju mundurkan pinggang Renata.
"Keterlaluan kamu, Rhein. Kamu malah membayangkan melakukan hal ini dengan gadis pelayan itu."
***
Pagi itu, Rhein yang terbangun dengan kepalanya yang berat mencoba duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Dia melihat ke sampingnya di mana dia melihat ada Renata yang tidur di sebelahnya.
"Renata? Oh God! Aku memang semalam bertemu dengannya di club malam." Rhein memilin kepalanya perlahan-lahan, berharap pusingnya menghilang.
"Rhein, kamu sudah bangun? Bagaimana semalam, apa kamu menyukainya?" Renata mengecupi dada Rhein.
Dalam hatinya, Rhein merasa seolah kemarin malam dia melakukannya denga Hazel, tapi ternyata tidak.
__ADS_1
"Renata, aku mau keluar mencari minuman, kepalaku pusing."
Rhein beranjak dari tempatnya, dia mengedarkan pandangannya mencari di mana Hazel berada. Hazel tidak berada di sana.
"Ke mana dia? Apa dia pergi berbelanja?"
Rhein mengambil ponselnya dan dia mencoba menghubungi Hazel, tapi dering ponsel Hazel ada di dapur Rhein.
"Dia selalu tidak membawa ponselnya, atau kalau tidak dia mematikan ponselnya."
Rhein melihat pada ponselnya ada satu pesan masuk yang belum dia baca.
"Dari Hazel? Tapi ponselnya ada di sini." Rhein agak bingung. Dia membuka pesan itu dan membacanya dengan wajah serius. "Oh ****! Hazel! Apa yang dia pikirkan?
Rhein berlari menuju kamarnya dan segera mengambil kemeja serta kunci mobilnya.
"Rhein, kamu mau ke mana?"
"Apa kamu tau jika Hazel mau pergi dari apartemenku?"
"Iya, dia semalam ingin membangunkan kamu, tapi aku larang karena kamu masih sangat lelah setelah permaina kita semalam."
"Seharusnya kamu membangunkan aku, Hazel tidak boleh pergi dari sini karena dia masih ada urusan denganku." Rhein tampak marah dan dia segera menuju mobilnya untuk mencari di mana Hazel berada.
Rhein melaju dengan kencang menuju flat tempat sahabat Hazel tinggal.
Rhein yang mengetahui di mana lantai kamar sahabatnya itu tinggal segera naik ke atas. Dia mengetuk pintu dengan memburu. Sebenarnya di dalam hati Rhein, dia tau jika Hazel tidak mungkin ada di sana, tapi dia tetap saja mencoba mencari Hazel di sana.
"Iya, ada apa?"
"Apa kamu Bella sahabat Hazel?"
__ADS_1
"Iya, kamu siapa? Apa kamu, Rhein?"