
Hazel langsung memegangi pipinya dan dia menutupi dengan tangannya. "Saya tidak apa-apa, Tuan. Saya permisi dulu, dan terima kasih uangnya." Hazel mengambil uang itu dan pergi dari sana.
Entah kenapa Rhein merasa kasihan melihat gadis itu. "Sayang, kita lanjutkan permainan yang tadi. Apa kamu ingin aku menari tanpa busana di depan kamu?" tanya Lady dengan menggigit bibir bawahnya nakal.
"Temani saja aku minum."
Rhein duduk di sofa dan Lady melihat dengan pandangan bingung. Kenapa Rhein tiba-tiba begitu? Padahal tadi dia terlihat sangat bergairah?
"Sayang, apa kamu tidak ingin melakukan hal lebih denganku? Aku bisa melakukan segalanya yang akan membuat kamu bahagia."
"Aku sedang banyak masalah, aku hanya ingin minum." Rhein duduk bersandar dan membuka botol vodkanya.
Lady hanya bisa terdiam dan menemani Rhein minum. Tidak lama ponsel Rhein berbunyi, dia melihat nama seseorang di sana.
"Lady, ini untuk kamu, aku harus pergi." Rhein meletakkan beberapa lembar uang yang sangat banyak di atas meja dan segera pergi dari sana.
Lady memandangi uang di atas meja dengan wajah yang tidak senang. "Bukan hanya uang yang aku inginkan darimu Rhein! Aku juga menginkan kamu, aku ingin merasakan bercinta denganmu."
Pyar ...
Lady terlihat marah hingga melempar gelasnya sampai pecah. "Kamu sudah membuatku menjadi wanita yang buruk karena tidak ada yang pernah menolak Lady."
Rhein mengangkat teleponnya di luar club malam milik temannya.
"Halo, Mom."
"Sayang, bagaimana kabar kamu? Kamu tidak menghubungi mommy sama sekali."
"Aku baik, hanya saja aku masih belum ingin kembali pulang. Apa Mommy bisa mengerti?"
"Rhein, pulanglah, mommy akan mengenalkan kamu dengan seseorang yang mommy yakin kamu akan menyukainya."
"Sudahlah, Mom! Biarkan aku mengatur hidupku sendiri, aku akan baik-baik saja. Mommy harusnya sekarang bisa meyakinkan daddy untuk bisa menerima Nala karena dia membawa penerus keluarga Danner, walaupun status Nala jauh di bawah keluarga kita."
"Itu yang masih mommy pikirkan. Mommy juga tidak ingin cucu pertama dari keluarga Danner tidak mendapatkan tempat."
__ADS_1
"Mommy pasti bisa, dan Mommy tidak perlu mengkhawatirkan aku di sini, aku baik-baik saja."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. "Hai, Rhein, kamu kenapa ada di luar? Aku kira kamu malam ini akan membawa Lady bersama kamu?"
"Aku sedang tidak ingin."
"Apa Lady tidak membuat kamu tertarik? Dia wanitaku terbaik di sini, dan tidak ada yang pernah merasa kecewa dengannya."
"Dia memang terbaik, tapi aku memang sedang tidak ingin. Aku pergi dulu." Rhein menepuk pundak sahabatnya lalu pergi dari sana.
Malam semakin larut. Hazel tampak sedang menunggu taxi di luar pintu club malam di mana dia bekerja.
Tampak dari kejauhan seorang pria menatap Hazel dengan pandangan yang tidak baik. Pria itu mematikan puntung rokoknya dan berjalan mendekati Hazel.
"Hai, putri cantikku."
Kedua mata Hazel tampak kaget melihat siapa yang ada di depannya. "Mau apa lagi kamu ke sini? Aku sudah memberikan uang pada anakmu kemarin, aku tidak punya uang lagi."
"Aku malam ini tidak butuh uang. Aku membutuhkan kamu Hazel." Pria itu malah mendusel pada rambut Hazel.
"Menyingkirlah! Jangan dekati aku."
"Tolong, aku akan memberi kamu uang, tapi jangan meminta lebih dari itu. Kenapa kamu begitu kejam terhadapku?" Hazel melipatkan kedua tangannya memohon pada pria yang usianya lebih pantas menjadi ayah bagi Hazel.
"Tapi bagaimana lagi, aku sangat menginginkan kamu malam ini. Aku tidak mau bersenang-senang dengan wanita di club malam. Aku sudah bosan, aku ingin kamu yang pastinya akan berbeda dari wanita di dalam club malam itu."
Tangan pria itu mulai menelungsup pada rok pendek yang dipakai oleh Hazel.
Hazel berusaha menahan tangan pria berengsek yang ingin merogoh ke dalam roknya. “Jangan lakukan hal yang tidak baik ini, atau aku akan berteriak,” ancam Hazel.
“Ahahah! Kamu mengancamku? Kamu berani mengancamku?” Tangan pria itu sekarang mencengkeram tangan Hazel dan membawanya ke belakang club malam yang tampak sepi dan gelap, hanya di sinari lampu jalanan yang tidak terlalu terang.
“Lepaskan!” Hazel berusaha berontak, tapi cengkraman pria itu lebih kuat, semakin Hazel mencoba melepaskan semakin dia merasakan kesakitan pada tangannya.
“Dengar ya, Hazel! Kamu tidak punya kekuatan untuk melawanku, kalau kamu berani melakukan hal itu, kamu akan menyesal seumur hidupmu karena aku akan semakin menyiksamu.” Pria itu mulai mendekatkan bibirnya ingin mengecup Hazel.
__ADS_1
“Pergi!” Hazel sekuat tenaga mendorong pria yang terpaengaruh minuman, tercium dari aroma pada mulutnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat pada pipi Hazel, wajah gadis itu seketika memerah karena memang dia memiliki wajah yang putih bersih, walaupun Hazel tidak pernah merawatnya sama sekali.
“Sudah aku bilang! Jangan melawanku, Gadis tidak tau diri. Kamu itu sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini, hanya aku keluarga yang kamu milikki!”
Brak ...
Tiba-tiba tubuh pria itu tersungkur menabrak pada tong sampah besar di dekat pintu belakang club malam itu. Kedua mata Hazel membulat melihat siapa pria yang sudah memukul pria berengsek yang ingin melecehkan Hazel.
“Ayo ikut aku!” Rhein menarik tangan Hazel dan membawa Hazel pergi dari sana, dia menyuruh masuk ke dalam mobilnya.
“Tuan, terima kasih,” ucap Hazel pelan.
“Kita ke tempat tinggalmu. by byAku akan mengantar kamu pulang.”
“Aku tidak punya rumah, aku tinggal di flat bersama dengan sahabatku yang waktu itu, di Golden Street.”
Rhein segera memacu mobilnya menuju ke alamat yang dikatakan oleh Hazel. Di sepanjang perjalanan Hazel hanya duduk terdiam menunduk tidak berani melihat ke arah Rhein. Pun dengan Rhein, dia fokus menyetir mobilnya.
Tidak lama mereka sampai di flat yang kapan hari Rhein pernah mengantar Hazel.
"Kamu tinggal dengan siapa di sini? Kekasih kamu?"
“Aku tinggal dengan sahabatku, tapi dia sedang pergi beberapa hari bersama dengan kekasihnya. Terima kasih, Tuan.” Hazel turun dan diikuti oleh Rhein. Hazel melihat ke arah Rhein yang berdiri bersandar di
mobilnya. “Maaf, Tuan, saya tidak bisa mengajak Tuan masuk karena ini sudah sangat malam.”
“Hazel, wajah kamu kenapa?”
“I-ini tidak apa-apa,” ucap gadis itu dengan rasa takut, entah kenapa setiap berbicara dengan Rhein dia tampak ketakutan, seperti ada trauma dengan orang baru.
“Apa pria tadi yang melakukannya? Siapa dia?”
__ADS_1
Hazel terdiam menunduk tidak berani melihat ke arah Rhein. “Dia--.”
“Aku bertanya padamu, Hazel. Kenapa kamu ketakutan begitu? Dan lihat aku, aku tidak suka berbicara dengan seseorang dengan menundukkan wajahnya. Aku bukan orang yang harus kamu takuti," terang Rhein dengan nada kesal.