Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rhein Sakit


__ADS_3

Hazel yang curiga melihat Rhein. Meletakkan tangannya pada dahi Rhein dan kecurigaannya benar.


"Dia demam. Kenapa orang seperti dia bisa sakit?"


Hazel segera mematikan penghangat ruangan agar suhu tubuh panas Rhein bisa turun. Dia kemudian mengambil baskom berisi air untuk mengompres Rhein.


Hazel membuka juga selimut yang menutup tubuh Rhein.


"Apa aku bawa ke dokter saja? Tapi bagaimana cara mengangkat tubuhnya? Dia pasti berat sekali."


Hazel tampak bingung. Dia akhirnya kembali ke dapur untuk mencari obat penurun panas. "Tidak ada. Seharusnya aku kemarin juga ke apotek untuk membeli obat untuk di simpan."


"Rhein juga belum makan. Apa aku suapi saja dulu dia dengan makanan yang aku buat, siapa tau dia nanti akan turun panasnya?"


Hazel membawa juga sepiring nasi dengan sayur dan lauk. Kemudian dia melihat Rhein masih tidur.


"Rhein, bangun." Hazel mencoba membangunkan Rhein yang masih memejamkan dengan kedua matanya.


"Em ...!" Rhein hanya bereaksi dengan sedikit gerakan.


"Rhein, kamu bangun dulu. Badanmu demam dan kamu harus makan."


"Nanti saja, aku mau tidur dulu."


"Jangan tidur terus, nanti kamu malah tidak sembuh." Hazel mencoba mendudukan tubuh Rhein.


Terlihat wajah Rhein yang agak pucat dan lemas. "Kenapa badanku jadi tidak enak begini?"


"Mungkin karena tangan kamu. Rhein, sekarang kamu makan saja dulu. Aku akan menyuapinya."


Rhein tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan kedua mata terpejam kembali.


Hazel dengan telaten menyuapi Rhein. Pria itu mau makan walaupun dengan memaksakan dirinya.


"Sudah Hazel."


"Masih sedikit, Rhein. Apa masakan aku tidak enak?"


"Masakan kamu enak, tapi perutku rasanya yang tidak nyaman."


"Ya sudah, kalau begitu minum airnya dulu dan kembalilah istirahat." Rhein kembali tidur dan Hazel masih mengompresnya.


Hazel melupakan rasa lapar di perutnya akibat dia khawatir dengan Rhein. Hazel terus mengompres Rhein yang demamnya masih belum turun.


Hazel sampai tertidur di samping ranjang Rhein. Sampai akhirnya dia terbangun karena mendengar suara ponsel Rhein.


"Kak Darren." Hazel melihat Rhein masih tertidur, dia akhirnya yang menjawab panggilan itu. "Halo, Kak."


"Hazel? Kenapa kamu bisa menjawab panggilan Tuan Rhein?"

__ADS_1


"Tuan Rhein sedang sakit, dia tadi tiba-tiba demam."


"Pantas saja Tuan Rhein tidak menghubungiku untuk menjemputnya. Kemarin tuan Rhein bilang agar aku disuruh menunggu dia menghubungiku. Hazel, Tuan Rhein apa sedang tidur?"


"Iya. Kak Darren, aku khawatir dengan keadaan Rhein, apa sebaiknya kita bawa saja dia ke rumah sakit?"


"Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu saja di sana, dan aku akan segera datang."


"Iya, Kak, cepat ke sini."


Mereka mengakhiri panggilan dan Hazel kembali mengompres dahi Rhein.


Rhein perlahan membuka kedua matanya dan melihat wajah Hazel di depannya. "Rhein, tunggu Kak Darren datang, kita akan membawa kamu ke rumah sakit.


"Ke rumah sakit? Tapi aku tidak apa-apa Hazel." Rhein mengambil kompres di dahinya dan dia berusaha untuk berdiri.


Hazel tampak khawatir karena melihat Rhein yang sepertinya tidak kuat untuk berdiri, tapi di paksakan.


"Rhein, jangan memaksakan diri untuk bangun. Kamu mau apa? Biar aku yang mengambilkan."


"Aku mau ke kamar mandi. Kamu mau membantu?" Hazel yang memapah tubuh Rhein seketika melihat pada Rhein.


Rhein mencoba melepaskan pegangan tangan Hazel, tapi tidak lama tubuh Rhein malah hampir jatuh.


"Rhein!" Hazel kembali menahan tubuh Rhein.


"Aku mau ke kamar mandi Hazel."


Hazel membawa Rhein dan mendudukan pada closet. "Sudah, kamu keluar saja. Aku bisa sendiri."


"Nanti panggil saja aku, aku menunggu kamu di luar." Rhein mengangguk.


Dalam hatinya, Hazel tidak tega melihat keadaan Rhein yang seperti itu. Hazel tadi merasakan tubuh Rhein yang semakin panas.


Hazel mondar mandir di luar pintu kamar mandi. Tidak lama Hazel mendengar suara pintu dibuka.


"Aku tidak apa-apa, Hazel, kamu jangan terlalu khawatir denganku."


"Suhu tubuh kamu semakin tinggi Rhein. Aku akan membantumu mengganti baju, jadi kalau Kak Darren datang kita bisa langsung ke rumah sakit."


"Kita tidak perlu ke rumah sakit. Aku sudah bilang sama Hazel."


"Jangan membantah Rhein."


"Kenapa aku harus menuruti kamu? Jangan sok perhatian denganku, Hazel.


Hazel seketika kesal mendengar perkataan Rhein. "Ya sudah kalau tidak mau diperhatikan. Aku lebih baik pergi saja, dan jangan menyalakan aku jika aku pergi dari sini."


"Tunggu!" Rhein menahan tangan Hazel.

__ADS_1


"Kamu mau ke rumah sakit apa tidak?"


"Iya, aku akan menuruti kamu, Gadis Perawan."


Hazel tersenyum kecil. Hazel membantu Rhein menggantikan baju dengan tidak canggung lagi.


"Kamu belum makan?"


"Sudah," jawab Hazel berbohong.


"Kalau sudah, kenapa cacing di dalam perut kamu berbunyi?"


"Em ... itu ...!" Hazel bingung ketahuan berbohong.


"Kamu makan dulu dan jangan sampai ikut sakit. Siapa nanti yang akan merawat kamu?"


"Iya, nanti aku akan makan. Sekarang kamu tidur dulu. Kenapa Kak Darren belum datang juga?" Hazel kembali mengompres dahi Rhein. Pria itu terdiam memperhatikan wajah Hazel.


Tidak lama bel pintu berbunyi. Hazel tau itu pasti Kak Darren. Hazel berjalan menuju pintu utama dan saat membuka pintunya, Hazel terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu.


"Kamu ada apa ke sini?"


"Minggir! Mana Rhein? Aku mau bertemu dengannya." Tangan wanita itu mendorong tubuh Hazel.


"Hei! Jangan kasar! Rhein sedang sakit, sebaiknya kamu pergi saja dari sini."


Wanita yang kemarin datang ke rumah Rhein itu melihat Hazel dari atas sampai bawah.


"Kamu sudah melahirkan? Kenapa perut kamu sudah tidak terlihat buncit?"


"Aku memang tidak hamil, aku kesal karena kamu terus saja mengganggu suamiku."


Wajah wanita itu menunduk mendekat pada wajah Hazel. Tatapan kedua mata wanita itu sangat tajam pada Hazel.


"Kamu bilang Rhein suamimu? Kamu kira aku percaya? Rhein tidak mungkin mau menikahi gadis dekil sepertimu." Wanita itu berdiri tegak dan malah bersedekap."


Hazel menghela napasnya pelan. "Sebaiknya kamu pergi karena Rhein sedang tidak bisa diganggu. Dia sedang sakit."


-


"Sakit? aja Rhein pasti sakit karena dekat dengan wanita dekil seperti kamu. Rhein ... Rhein!" Seketika wanita itu malah berteriak memanggil nama Rhein.


"Oh my God! Kenapa wanita ini tidak bisa diberitahu? Aku mohon jangan berteriak seperti ini. Rhein sedang sakit." Hazel mencoba menghentikan wanita itu tidak berteriak di sana.


"Apa kamu tidak bisa bersikap baik di apartemenku?"


Rhein yang tau jika salah satu wanitanya datang ke apartemennya tanpa permisi mencoba bangun dan menemuinya.


"Rhein, aku merindukan kamu." Wanita itu langsung berlari kecil memeluk Rhein. Hazel yang di tempatnya tampak terdiam.

__ADS_1


Rhein melihat pada Hazel yang berdiri terdiam di sana. "Ada apa kamu mencariku?"


"Kata pelayan kamu, kamu sakit, Rhein. Apa itu benar?" Wanita itu melihat menghina pada Hazel.


__ADS_2