
Orlaf berdiri di sana menunggu gilirannya. Saat tiba gilirannya dia memesan apa yang ingin dia dan Hazel pesan. Orlaf yang sudah membayar meminta agar makanan diantar ke mejanya saja.
"Hazel."
Orlaf melihat salah satu pria yang dari tadi melihat Hazel ada di meja mereka dan mengajak Hazel berbicara.
"Maaf, kalian ada urusan dengan kekasihku?" tanya Orlaf.
"Dia kekasihmu? Aku kira kalian hanya berteman. Aku ingin mengajaknya berkenalan karena dia sangat cantik dan sexy."
Hazel berdiri mendekati Orlaf. "Aku minta maaf tidak bisa berkenalan dengan kalian. Sebaiknya kalian pergi saja," usir Hazel.
"Jangan sombong begitu. Kami hanya ingin berkenalan dengan orang luar yang cantik seperti kamu."
"Kalian tau bahasa yang dia ucapkan, kan? Bisa pergi dari sini."
"Ada apa? Apa dia mencari masalah denganmu?" Salah satu teman pria itu datang.
"Teman kamu yang mencari masalah dengan denganku. Gadis ini kekasihku, dan sebaiknya kalian pergi dari sini dan jangan mengganggu kami." Orlaf tampak tidak takut sama sekali dengan dua orang itu.
"Memangnya kenapa kalau dia kekasihmu, temanku hanya ingin berkenalan dengannya."
"Tapi aku tidak mau berkenalan dengan temanmu," sahut Hazel.
"Gadis Sombong! Jangan sok cantik, kamu, gadis seperti kamu banyak di tempat hiburan di sini."
Pria yang menghina Hazel itupun jatuh tersungkur ke tanah dengan keras.
Teman satunya yang ingin memukul malah terkena pukul duluan oleh Orlaf.
"Pergi kalian dari sini, atau aku hajar sampai wajah kalian tidak akan bisa dikenali!"
"Orlaf, sudah! Jangan pedulikan mereka."
Petugas keamanan di mall itu segera mengamankan kedua pria pembuat onar tadi. Orlaf tampak masih kesal dan sebenarnya dia belum puas menghajar dia orang itu.
Dari kejauhan, tampak seorang gadis marah karena dua orang suruhannya itu tidak berhasil menggoda Hazel dan marah dipukuli oleh Orlaf.
"Minum dulu Orlaf." Hazel memberikan minumannya pada Orlaf.
"Kamu tidak apa-apa, Kan? Jangan memikirkan ucapan dia orang tidak berguna itu."
__ADS_1
Hazel menggeleng, dia tidak memikirkan hinaan dua orang itu karena dia pernah mendapat hinaan lebih kejam dari itu.
"Sekarang kita makan saja, kamu pasti lapar, aku saja lapar." Hazel tersenyum kecil.
Orlaf dan Hazel akhirnya menghabiskan makanannya. Hazel juga bercerita jika Orlaf menjadi idola di kembar. Dua teman kembar Hazel ingin sekali bisa berkenalan dengan Orlaf lebih dekat.
"Aku sudah menduganya. Aku itu sebenarnya heran, kenapa mereka malah mengidolakan aku, bahkan sampai ada yang mengirim banyak hadiah di rumah, dan juga pernah ada yang bertengkar karena aku, padahal aku biasa saja dengan mereka."
"Ya Ampun! Sampai seluruh itu?"
Orlaf malah terkekeh. "Kamu lucu sekali saat mengatakan ya ampun. Itu benar, aku sebenaranya ingin mereka bersikap biasa saja seperti aku hanya manusia biasa. Kalau soal tampang dan kedudukanku yang ada di kampus, aku kira di setiap kampus ada pria tampan dan menjadi ketua senat."
"Mungkin karena aura kebaikan kamu yang menjadikan kamu banyak diidolakan di kampus."
"Bisa saja. Sepertinya hujan sudah reda." Orlaf melihat ke arah jendela besar di sana yang memperlihatkan suasana luar.
"Iya, sekarang kita pulang saja, aku juga mau mengerjakan catatan yang sangat banyak sekali."
"Nanti aku bantu kamu."
"Terima kasih ya, Orlaf, nanti kalau kamu membantuku, akan aku buatkan minuman coklat resep dari mamaku. Pasti kamu suka."
"Janji, ya?" Hazel mengangguk dengan cepat.
Malam itu di rumah tengah, Hazel duduk di atas karpet bulu berwarna cream dan ditemani oleh Orlaf. Mereka berdua sedang memasang kartu pada ponsel Hazel dan Orlaf mengisi kontak yang ada di sana.
"Sekarang kamu bisa menggunakan ponsel kamu, Hazel."
"Terima kasih, Orlaf."
"Kalau begitu sekarang kita belajar. Mana catatan yang akan kamu kerjakan? Biar aku membacanya dan kamu bisa menuliskan dalam bahasa Inggris
"Aku bisa menuliskan dalam bahasa Indonesia, tapi sedikit-sedikit kamu ajari aku."
"Ya sudah kalau begitu."
Mereka berdua belajar bersama. Orlaf sangat telaten mengajari Hazel mengeja dengan baik. Orlaf juga membaca setiap tulisan Hazel apa ada yang salah atau tidak hurufnya.
Mereka tidak tau jika Kei dari tadi memperhatikan kegiatan dua orang itu.
"Mereka cocok sekali jika dilihat seperti itu." Kei segera berjalan masuk ke ruang kerja mencari suaminya yang seperti biasa masih saja sibuk dengan pekerjaannya, padahal dia di sana seharusnya bersantai.
__ADS_1
"Ada apa, Kei? Kamu jangan menggangguku, aku sedang sibuk."
"Tidak berubah, kenapa pekerjaan terus yang kamu pikirkan?"
Adrian meletakkan penanya dan dia melihat ke arah istrinya yang berdiri manyun di sana.
"Ke sinilah."
Kei berjalan dengan malas menghampiri suaminya. Pria tinggi besar serta rambut di dominasi warna putih itu memegang tangan istrinya.
"Aku sengaja sibuk bekerja sampai akhir pekan ini karena aku berencana untuk liburan panjang di sini karena aku akan membuat pesta untuk pertunangan putra bungsuku, Orlaf."
Kedua mata kecil Keiko itu mendelik mendengar apa yang baru saja suaminya katakan.
"Maksud kamu?"
"Bukannya kamu ingin Hazel bisa menjadi bagian dari keluarga kita selamanya. Oleh karena itu aku akan setuju jika Hazel dan Orlaf bertunangan."
Keiko seketika memeluk suaminya dengan erat, bahkan tak sungkan mereka berciuman.
"Terima kasih, Sayang, kamu benar-benar suami terbaik. Sebenarnya tadi aku ke sini karena aku ingin mengatakan jika aku senang melihat Hazel dan Orlaf sedang berdua seperti saat ini. Orlaf mengajari Hazel belajar dan mereka berdua benar-benar manis. Aku tidak rela jika Hazel akan bersama atau dimiliki orang lain dan nantinya akan dibawa pergi dari rumah ini."
"Aku tau apa yang ada di dalam pikiranmu."
"Kalau begitu, nanti aku akan coba bicara dengan mereka secara pribadi. Pertama, aku akan bicara dengan Orlaf. Apa dia menyukai Hazel dan bagaimana jika dia dijodohkan dengan Hazel?"
"Aku akan menyerahkan hal itu sama kamu. Aku sudah merestui jika memang Hazel dan Orlaf mau bersama."
"Terima kasih sekali lagi, Sayang."
"Sama-sama, Sayang. Sekarang apa aku bisa kembali bekerja dan kamu jangan menggangguku dulu karena ini dokumen yang sangat penting yang harus segera aku kerjakan."
"Iya, aku tidak akan menggangu. Aku mau menghubungi menantuku saja dan bercerita tentang hal ini."
"Kalian wanita sangat menyukai hal itu."
Keiko berjalan pergi dari sana dan menuju kamarnya. Di dalam kamar dia menghubungi menantu satu-satunya saat ini. Nanti kalau ada Hazel dia akan menjadi menantu kesayangannya juga.
Di rumah tengah Hazel masih duduk mengerjakan tugas. Dia juga sudah membuatkan Orlaf minuman coklat resep dari mamanya.
"Enak, kan?"
__ADS_1
"Ini enak sekali," puji Orlaf sesudah menyeruput minumannya.
Seketika Hazel malah tertawa dengan senangnya dan Orlaf sampai bingung karena ketawa Hazel seolah sedang menertawakannya.