
Rhein pulang dari rumah Akira tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia memilih pergi ke club milik Sean yang ada di sana. Rhein ingin menenangkan dirinya sejenak di sana.
Walaupun tempat itu sebenarnya belum dibuka, tapi karena Rhein mengenal dengan sangat baik pemilik tempat itu, maka dia mau tidak mau menerima Rhein.
"Kak Rhein, apa ingin aku carikan seorang wanita yang mau menemanimu?" tanya seorang pria yang usianya di bawah Rhein. Dia kenal baik Rhein sebagai sahabat dari bos pemilik club malam dia bekerja.
"Tidak perlu, aku hanya minum saja."
"Apa Kak Rhein sedang ada masalah?"
"Aku baik-baik saja, dan ingin menenangkan diri." Rhein ini sebenarnya sedang berperang dengan hatinya. Dia apa harus merebut Hazel dari tangan adik kesayangannya sendiri atau malah merelakan Hazel bersama dengan adiknya itu?
Rhein itu sangat dekat dengan Orlaf waktu kecil, bahkan dia sangat sayang dengan Orlaf dibandingkan dengan kakak pertamanya--Akira. Lalu, sekarang dia harus menyakiti hati adik kesayangannya dengan merebut calon tunangannya. Apa bisa Rhein lakukan?
"****! Kenapa Hazel harus menjadi anak sahabat mommy? Dan kenapa Orlaf harus jatuh cinta padanya? Tapi aku juga tidak menyalahkan Orlaf, bahkan aku sendiri juga jatuh cinta padanya." Rhein menghabiskan dengan cepat segelas minumannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Di rumah, Kei sedang gelisah menunggu di mana anak keduanya ini berada. Apa dia tiba-tiba pergi lagi ke luar negeri atau malah kenapa-napa?
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adrian yang melihat istrinya berdiri gelisah di depan meja kerjanya.
"Aku sedang menunggu telepon dari putraku itu, Sayang."
"Siapa? Rhein?"
"Iya, aku sedang menunggu dia menghubungiku karena dari tadi aku hubungi, tapi tidak aktif."
__ADS_1
Pria paruh baya itu menutup laptop kerjanya. "Kenapa kamu khawatir dengan Rhein? Dia itu pasti baik-baik saja. Apa kamu lupa siapa putramu itu. Dia pasti sekarang sedang bersama dengan para wanitanya, atau kalau tidak dia akan berada di club malam sampai besok pagi."
Kei hanya melihat pada suaminya, dan dia tidak menyalahkan apa yang dikatakan oleh suaminya karena memang Rhein jika berada di sini selalu begitu. Kalau tidak pergi dengan para wanitanya atau ke club malam sampai pagi.
"Oh ya, Kei, apa kamu tau kenapa putramu itu tiba-tiba pulang? Apa ini berhubungan dengan pekerjaannya di sini?"
"Katanya dia ada urusan penting di sini. Mungkin saja itu urusan pekerjaan."
"Semoga saja karena dia harus memikirkan pekerjaanya dari pada menyibukkan dirinya dengan para wanita tidak jelas itu."
"Sayang, Rhein itu juga salah satu pengusaha yang sukses di sini, hanya saja dia memang seperti terlihat tidak terlalu peduli dengan pekerjaannya, tapi kamu lihat sendiri dia tetap bisa membuat perusahaannya yang dia pimpin maju dengan pesat."
"Tapi aku tetap saja khawatir jika dia terus seperti ini, kebiasaan buruknya itu harus dia hentikan karena tidak baik juga untuk dirinya. Aku berharap Rhein segera memiliki pasangan hidup yang nantinya bisa mengurusnya dan mengatur agar hidupnya lebih disiplin. Apa dia tidak malu melihat adiknya yang akan segera menikah? Kamu jangan terlalu memanjakan Rhein, Sayang."
"Aku kalah bicara dengannya yang ada malah kita berdebat dan aku tidak mau bertengkar dengan putraku sendiri." Kei memang paham jika ayah anak ini tidak begitu dekat karena Adrian lebih dekat dengan Akira.
***
Rhein melihat pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah, setidaknya dia tidak akan melihat kemesraan adiknya dan Hazel seperti tadi siang. Rhein berjalan menuju area parkir untuk mengambil mobilnya, tapi tiba-tiba dia dihadang oleh beberapa orang pria dengan pakaian serba hitamnya.
"Kalian bisa minggir tidak? Aku mau masuk ke dalam mobilku."
"Rhein, perkenalkan namamu Sam Wilson dan aku adalah kekasih dari Renata, wanita yang kamu ajak kencan."
"Lalu, apa maumu ke sini? Asal kamu tau, kalau aku sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita yang bernama Renata. Kamu ambil saja kalau mau."
__ADS_1
Pria itu malah terlihat marah dengan ucapan Rhein. "Dengar ya, Tuan Rhein Danner!" Pria itu dengan cepat mencengkeram baju Rhein tepat di bagian leher.
"Lepaskan!" Rhein mencoba melepaskan tangan pria itu.
"Gara-gara kamu sudah berani mendekati Renata, hubungan pertunanganku dengan Renata menjadi tidak baik. Dia bahkan ingin membatalkan pertunangan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tua kita. Kamu benar-benar pria brengsek yang suka sekali bermain-main dengan para wanita. Apa kamu tidak bisa mencari wanita lain selain calon tunanganku. Jauhi Renata dan jangan mendekatinya lagi, atau aku akan membuat kamu menyesal."
"Dengar, ya pria bodoh! Aku tidak pernah mendekati calon istrimu yang bernama Renata itu. Dia yang mengejar-kejarku selama ini dan aku tidak pernah mencintainya, kita hanya rekan bisnis karena dia menawarkan kerja sama dengan perusahaanku."
"Tapi selain kalian rekan kerja di perusahaan, kalian Juga rekan di atas ranjang, kan?" bentaknya marah.
Rhein berjalan mendekat pada pria bernama Sam itu. "Dia yang menginginkanku dan kita melakukan hal itu karena suka sama suka dan tidak ada paksaan. Mungkin dia tidak puas denganmu, makannya dia menginginkanku." Rhein tersenyum miring seolah dia menghina Sam.
Rhein ini malah memancing masalah saja sukanya. Sam yang marah mendengar ucapan Rhein langsung melayangkan pukulannya, tapi Rhein dengan cepat menghindar dan perkelahian pun tidak dapat dihindarkan.
Rhein yang hanya satu orang harus menghadapi empat orang bodyguard sewaan Sam. Rhein yang memang ahli dalam bela diri bisa melawan mereka semua, hingga tubub mereka tersungkur di atas tanah.
"Rasakan itu! Sebaiknya kalian pergi saja dari hadapanku karena aku tidak mau melihat wajah kalian lagi."
"Ini belum berakhir, Rhein, kamu akan mendapat balasan dariku."
"Aku tidak takut orang gila. Lagi pula aku juga sudah tidak peduli dengan Wanitamu itu. Makannya, jaga dia baik-baik agar tidak mencari pria lain di luar, dan katakan padanya kalau aku sudah tidak peduli dengannya lagi. Brengsek!"
Rhein naik ke dalam mobilnya dan mengemudi dengan cepat memecah keheningan malam saat itu. Rhein kesal karena Renata tidak jujur dan mengatakan waktu itu jika dia tidak memiliki kekasih, tapi ini malah tunangannya.
Rhein ini setiap berkencan atau sedang dekat dengan wanita, meskipun tanpa status pacaran, dia tidak mau wanita itu memiliki kekasih atau suami karena dia tidak mau mendapat sebutan perusak hubungan orang atau rumah tangga orang. Seperti tidak ada wanita single lainnya saja.
__ADS_1