Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Menjadi Model Part 2


__ADS_3

Hazel terdengar membuat keributan di dalam ruang make up karena dia tidak mau memakai gaun yang menurutnya sangat terbuka.


"Kamu itu harus profesional Hazel, baju ini memang modelnya begini dan sangat cocok dengan tema berlian yang akan kamu kenakan."


"Apa tidak ada baju lainnya. Itu sudah pendek dan bagian atasnya juga terbuka. Di sini sangat dingin."


"Nanti aku peluk kalau dingin," sahut Rhein yang tiba-tiba menyelonong masuk ruang ganti.


"Model kamu ini sangat profesional sekali. Dia berani menolak apa yang aku siapkan, padahal baju yang dia kenakan sudah sesuai dengan temanya.


"Rhein, bajunya sangat terbuka dan aku malu kalau harus memakai pakaian seperti itu. Aku tidak terbiasa."


"Baiklah, kalau begitu kamu mau memakainya jika di sini tidak banyak orang?"


Magdalena mendelik mendengar apa yang Rhein katakan. "Sejak kapan pria ini tunduk pada ucapan seorang wanita, apa lagi dia hanya gadis kecil?" Magdalena sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan begitu maksudku. Aku benar malu jika harus memakai baju itu."


"Kamu pasti malu jika memakai baju itu dan dilihat secara langsung oleh banyak orang. Kalau begitu para pria di sini akan aku suruh keluar saja."


"Rhein! Lalu, siapa yang akan memotret Hazel?"


"Aku. Magda, kamu siapkan Hazel dan aku akan mengatakan pada para pria di sini agar keluar ruangan." Rhein berjalan dengan tegapnya keluar dari ruang make up itu.


"Hei!" Telunjuk Magda menyenggol bahu Hazel sampai gadis itu terkejut kaget.


"Ada apa?"


Magda melihat Hazel dari atas sampai bawah. "Kamu anak penyihir ya?"


Kedua alis Hazel mengkerut. "Orang tuaku bukan penyihir. Mereka sudah meninggal, Nona Magda jangan asal bicara tentang mereka."


"Aku minta maaf, hanya saja aku heran sama kamu, kenapa kamu begitu bisa membuat Rhein seolah menurut sama kamu."


Hazel menggedikkan bahunya acuh. "Aku tidak melakukan apa-apa."


"Apa kamu pernah tidur dengan Rhein?" Magda mengatakan dengan mendekatkan wajahnya.


"Tidak pernah! Aku hanya bekerja sebagai pelayan di rumah, Rhein. Itu saja."


"Apa? Pelayan? Ka-kamu serius?" Hazel mengangguk. Magda tampak berpikir. "Jangan-jangan dia sedang mengincarmu."


"Apa maksud kamu?"


"Dia ingin mendekati kamu, dan kamu pasti menolak saat diajak Rhein tidur. Apa itu benar?"

__ADS_1


"Dia tidak pernah mengajakku tidur karena aku bukan wanita tipenya."


"Memang? Tapi kenapa dia seperti menurut sama kamu?"


Sekali lagi Hazel mengangkat bahunya acuh. Hazel akhirnya memakai baju yang tadi Magda sudah siapkan untuknya.


"Sekarang aku harus keluar ya?"


"Tidak perlu, kamu masuk saja ke dalam kamar mandi dan bersembunyi di sana." Magda memutar bola matanya jengah.


"Aku hanya bertanya." Hazel mengerucutkan bibirnya.


"Kamu itu harusnya senang bisa menjadi salah satu model untuk perusahaan besar milik Rhein. Apa kamu tau jika banyak para model menginginkannya?"


"Mereka juga menginginkan Rhein."


"Iya itu salah satunya, tapi mereka ingin juga karena uang yang bisa mereka dapatkan sangat banyak. Apa kamu tidak mau itu?"


"Mau, tapi hatiku tidak benar-benar menginginkan pekerjaan ini."


Magda dengan timnya yang sedang memoles sedikit wajah Hazel tampak sedikit kesal dengan pemikiran gadis seperti Hazel.


"Memangnya kamu mau bekerja seperti apa?"


"Aku ingin bekerja di toko bunga seperti mamaku dulu yang memiliki toko bunga yang cantik."


"Iya, dan memiliki taman penuh dengan bunga yang aku tanam sendiri. Aku tanam sendiri, aku petik, dan aku jual." Hazel tampak tersenyum bahagia.


"Dasar gadis aneh. Kamu bisa mendapat banyak uang dengan menjadi model di sini, tapi malah ingin menjadi penjual bunga."


Setelah siap, Hazel keluar ruangan dengan Magda. Rhein yang sedang berbicara dengan salah satu asistennya tanpa berhenti bicara saat dia melihat penampilan Hazel sekarang.


Pandangannya tidak lepas dari gadis yang berjalan dengan memakai mini dress berwarna serba hitam dan bermodel kemben. Terlihat sangat indah kalung berlian yang Rhein beri nama The Queen Of Gothic melekat sempurna pada leher Hazel.


Hazel mengedarkan pandangannya melihat di sana memang sudah tidak ada banyak orang seperti tadi.


"Sudah siap?" tanya Rhein.


Hazel mengangguk. Rhein berjalan mendekati Hazel dan menyuruh Hazel duduk di sebuah kursi.


"Kamu tidak perlu banyak bergaya, hanya perlu duduk dan wajahmu saja yang menunjukan ekspresi dingin.


"Dingin? Apa aku bisa? Aku tidak pernah acuh pada orang lain."


"Coba saja, atau kamu ingat betapa jahatnya ayah tirimu dan kakak tirimu itu sehingga kamu benci dan tidak peduli jika melihat salah satu dari mereka terkapar di jalan."

__ADS_1


"Itu namanya kejam, Rhein."


"Memang aku mau kamu menunjukkan ekspresi dinginmu."


Rhein mengarahkan sedikit gaya. Dia memegang tangan Hazel dan mengaturnya.


Dagu Hazel pun tak lepas dari Rhein. Rhein menyentuh bibir Hazel dan entah kenapa saat melihat bibir itu dia merasakan ingin sekali mengecupnya lebih dalam.


"Rhein, apa begini?"


Rhein tampak kaget saat Hazel memanggilnya. "Ada apa, Hazel?"


"Kita mulai sekarang saja."


Ini pemotretan yang kedua dan tentu saja Hazel bisa melakukannya dengan baik, apa lagi di sana tidak banyak yang melihat, dia nyaman dengan suasana di sana.


"A-apa masih ada lagi, Rhein?" tanya Hazel dengan bibir bergetar.


"Kamu kedinginan, Hazel?"


"Hacing!" Hazel tiba-tiba bersin. "Di sini dingin sekali, Rhein."


"Ambilkan aku selimut!" Perintah Rhein. Salah satu asisten Rhein mengambilkan selimut dan Rhein langsung memakaikan pada tubuh Hazel.


Hazel agak terkejut dengan perlakuan Rhein. Hazel memegang erat selimut itu.


"Pemotretan sudah selesai. Hazel kamu bisa berganti baju."


Hazel mengangguk dan dia pergi dari sana. Rhein menatap punggung gadis yang membuat Rhein bisa terpukau, tapi tidak tau terpukau dari apanya?


Hazel berganti baju dengan baju miliknya sendiri. Semua di sana bersiap-siap membereskan semuanya.


"Kak Magda, aku berterima kasih sudah membuat aku menjadi cantik untuk satu hari ini."


"Jujur aku suka dengan kamu meskipun kamu agak menyebalkan dan merepotkan, bahkan aku tidak ingin bekerja sama dengan kamu lagi." Kedua mata Magda melirik pada Rhein.


"Maaf sudah membuat Kam Magda kesal."


Tangan wanita itu memegang pundak Hazel. "Tapi kamu adalah satu-satunya orang yang membuat hidupku punya cerita lebih dalam merias wajah seorang model dadakan dengan begitu sulitnya. Ahahaha!" Magda malah tertawa dengan berisiknya.


"Aku, kan, memang tidak pernah memakai make up sebelumnya, jadi aku sulit jika wajahku harus di sapu bolak-balik."


Magda tertawa geli mendengar ucapan Hazel. "Kalau begitu, aku mau memberikan ini untuk kamu."


Magda menyerahkan sebuah lipstik berwarna peach pada Hazel. Hazel bingung, untuk apa dia diberikan ini?

__ADS_1


"Aku tidak pernah memakai lipstik, Kak."


"Mulai sekarang pakailah. Kamu itu sangat cantik, tapi tidak ada yang sadar akan hal itu."


__ADS_2