
Rhein kemudian mencari di sekitar bajunya, siapa tau dia bisa menggunakan sebagai cincin, tapi ternyata dia hanya memiliki gelang tali berwarna hitam yang selalu dia pakai pada pergelangan tangannya.
"Ini saja kita anggap sebagai cincin." Rhein melepaskannya dan menautkan beberapa kali pada jari manis Hazel.
Seketika terdengar tawa Hazel sampai dia memegangi perutnya. "Apanya yang lucu, Hazel?"
"Tentu saja lucu. Aku diajak menikah dengan seorang Casanova penakluk para wanita dan cuma diberi cincin tali. Seharusnya aku memakai berlian."
"Dasar mata duitan," celetuk Rhein.
"Bukannya mata duitan, Rhein. Coba saja hal ini benar kita saling mencintai, bahkan kamu berikan pesawat kertas pun aku akan terima."
"Kamu serius mengatakan itu?"
"Soal pesawat kertas? Tentu saja. Jika aku mencintai seseorang, aku akan benar-benar tulus mencintainya, tanpa memandang dia siapa. Harta bisa dicari berdua, Rhein." Hazel melengos mencoba melihat apa yang terjadi di bawah.
"Dia benar-benar polos," ucap Rhein lirih.
"Sepertinya mereka masih memperbaiki mesinnya."
"Hazel, acara pernikahannya belum selesai."
"Mau apa lagi?"
"Orang menikah, kan, harus berciuman."
"Tidak mau! Sudah Rhein main-mainnya, dan aku berterima kasih karena kamu membuatku seketika melupakan tentang apa yang sedang terjadi dengan kita saat ini."
Rhein tersenyum. "Sudah tidak ketakutan lagi? Tapi walaupun nanti ini jatuh juga aku tidak akan takut karena aku sudah menikah denganmu." Rhein tersenyum duduk di sebelah Hazel. Hazel pun menanggapi dengan senyuman.
Hampir dua jam mereka menunggu di atas bianglala. Sampai pada akhirnya bianglala itu pun berjalan dengan normal. Mereka turun ke bawah.
"Maaf, ya, Pak, bianglalanya sempat rusak." Pemilik bianglala itu meminta maaf kepada pengunjung satu persatu.
Rhein menepuk pundak pemilik bianglala itu. "Tidak apa-apa, tapi aku pastikan hari ini kamu terakhir menjalankan bianglala ini karena aku akan membuat kamu dan bianglalamu ini tidak akan pernah beroperasi lagi."
"Rhein?"
"Brengsek, bianglala rusak kamu tetap operasikan. Demi apa? Demi uang? Kamu tidak memikirkan banyak nyawa yang hilang karenanya."
"Pak, saya minta maaf."
"Tidak butuh minta maaf kamu!" teriak Rhein sambil berjalan pergi dari sana, dan tidak lupa dia menggandeng Hazel.
"Rhein, jangan seperti itu, kasihan dia."
"Biar saja. Dia sudah membahayakan nyawa banyak orang. Seharusnya, sebelum dia beroperasi harus memeriksa semuanya." Rhein terlihat kesal, dia merapikan bajunya yang sempat berantakan.
Hazel sebenarnya tidak menyalahkan jika Rhein marah, dan benar apa yang Rhein katakan.
"Rhein, aku lapar. Kamu mau aku traktir makan tidak?"
__ADS_1
"Traktir makan? Memangnya berapa uang kamu, sampai berani mentraktirku?"
"Uangku, kan, banyak. Kamu mau makan di restoran pun aku bisa membelikan," ucap Hazel sombong.
Rhein tersenyum. "Baiklah, kalau begitu traktir aku, sekalian anggap saja kita merayakan hari pernikahan kita."
"Hah? Masih saja membahas masalah itu?" Hazel berjalan lebih dulu di depan Rhein
Mereka mencari tempat makan, dan Rhein memilih restoran yang ada di dekat taman bermain itu.
Rhein memesan banyak sekali makanan karena dia memang sudah lapar.
"Rhein, apa tidak terlalu banyak?"
"Katanya mau mentraktir. Jadi, aku boleh memesan yang aku mau, kan?"
"Kalau seperti ini makan kamu, bisa-bisa uangku terkuras."
"Katanya uang kamu banyak. Sudah, makan saja, kamu juga pasti lapar."
Hazel memang lapar, dan akhirnya dia juga makan bersama Rhein. Rhein beberapa kali menyuapi Hazel.
Setelah selesai makan dan Rhein tidak mau bermain lagi di taman bermain itu dia mengajak Hazel pergi ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana, Rhein?"
"Kamu diam saja."
Kemudian pandangan Hazel tertuju pada cincin tali yang melingkar di jarinya. Entah kenapa Hazel tampak senang melihat cincin di tangannya.
"Rhein, kenapa kita berhenti di sini?"
Mobil Rhein ternyata berhenti di toko bunga. Rhein turun dan Hazel pun mengikutinya.
"Hazel, tolong pilihkan bunga yang disukai oleh mama kamu."
"Apa?" Hazel tampak terkejut.
"Mama kamu suka bunga apa?"
"Ta-tapi mamaku, kan, sudah meninggal."
"Iya, aku tau. Hari ini aku mau mengajak kamu berkunjung ke makam kedua orang tuamu. Kamu pasti lama tidak ke sana."
Deg
Ada sesuatu yang rasanya menghantam dada Hazel. Hazel sangat tidak menyangka jika Rhein mau mengajaknya pergi mengunjungi makam kedua orang tuanya.
"Hazel! Kenapa diam saja? Cepat kamu pilihkan."
"Oh, iya."
__ADS_1
Hazel kemudian masuk ke dalam dan memilih bunga untuk mamanya.
Hazel meminta merangkai sendiri bunga untuk mamanya. Setelah selesai Rhein membayarnya dan Rhein bertanya pada Hazel di mana makam mamanya berada. Mereka menuju ke sana.
Hazel kembali menginjakkan kakinya di tempat yang beberapa bulan tidak pernah dia datangi lagi.
"Ini makam mama dan ayahku, Rhein." Hazel meletakkan bunga yang tadi dibeli oleh Rhein di atas pusaran kedua orang tuanya.
"Aku rindu kalian berdua." Hazel seketika menangis di sana. Rhein membiarkan saja Hazel meluapkan tangisannya.
Setelah puas, Rhein memberikan saputangannya untuk Hazel mengusap air matanya.
"Halo, perkenalkan saya Rhein. Putri kalian gadis yang sangat baik dan cantik. Kalian berdua pasti sangat bangga pada putri kalian ini." Rhein bicara pada nisan kedua orang tua Hazel.
Mereka berdua berdoa untuk kedua orang tua Hazel. Setelah itu mereka berjalan kembali ke mobil.
Di dalam mobil Rhein melihat Hazel tampak terdiam.
"Gadis Perawan, kamu kenapa?"
Hazel melihat pada Rhein dan kemudian dia langsung memeluk Rhein.
"Hei, kamu kenapa?"
"Terima kasih, Rhein. Terima kasih kamu sudah membawaku ke sini. Jujur aku rindu dengan mereka, tapi mau ke sini aku tidak memiliki uang untuk ke sini." Hazel masih menangis dalam pelukan Rhein.
"Tidak apa-apa. Sekarang hapus air mata kamu dan kita akan pergi ke butik, di sana kamu akan memilih gaun untuk kamu kenakan di acara peluncuran berlian yang waktu itu kamu menjadi modelnya."
Hazel menarik tubuhnya melihat Rhein. "Rhein, kamu serius membawaku ke sana?"
"Tentu saja, Hazel. Memangnya aku terlihat main-main?" Tatap Rhein serius.
"Kamu tidak malu kalau nanti membawaku ke sana?"
"Malu kenapa?"
"Aku itu, kan, hanya seorang pelayan di rumah kamu."
"Memangnya kenapa kalau kamu pelayan? Lagi pula tidak akan ada yang tau tentang diri kamu."
"Tapi Rhein--"
"Sudah diam!"
Hazel seketika terdiam karena bentakan Rhein. Mobil berjalan menuju butik di mana dulu Hazel pernah dibawa ke sana.
Ternyata saat sampai sana, pemilik butik itu sudah menyiapkan tiga gaun yang nanti bisa Hazel pilih ingin memakai yang mana.
"Apa tidak ada pilihan ke empat ya?"
"Kenapa memangnya? Jangan bilang gaun yang aku pilih jelek semua ya, Hazel." Wajah wanita itu tampak terlihat kesal.
__ADS_1