Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Menjadi Seorang Putri Seseorang part 2


__ADS_3

Kehidupan Hazel berjalan dengan baik. Hazel bahkan berkenalan dengan Daddy Orlaf yang baru datang dari luar negeri. Daddy Orlaf ini adalah seorang direktur utama di sebuah perusahaan besar di Kanada. Dia tinggal di sana, tapi setiap bulan dia menyempatkan satu Minggu pulang ke rumahnya yang ada di Indonesia.


Keiko menceritakan tentang siapa Hazel dan apa yang selama ini Hazel alami. Daddy Orlaf yang bernama Addrian sangat prihatin dengan apa yang menimpa Hazel dan dia dengan senang hati menganggap Hazel sebagai putrinya.


"Hazel, kamu perlahan-lahan akan bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, aku akan terus membantu kamu untuk belajar."


"Iya, Orlaf, aku senang kamu mau dengan sabar mengajariku."


Mereka berdua sedang duduk di taman karena Orlaf sedang mengajari Hazel agar bisa menggunakan bahasa Indonesia, sekaligus menulisnya.


"Mau ikut aku tidak?"


"Ikut ke mana?"


"Ikut saja." Orlaf beranjak dari tempatnya dan mengajak Hazel keluar dari rumah besarnya dengan naik sepeda motor sportnya.


"Jangan pulang malam-malam, Orlaf, nanti mommy kamu bisa marah denganmu."


"Kamu tenang saja, mommyku itu wanita yang sangat sabar dan tidak akan memarahiku karena dia sangat menyayangi semua putra-putranya."


Hazel akhirnya menurut saja dengan apa yang Orlaf katakan. Tidak lama mereka sampai di sebuah cafe yang dekorasinya cukup unik karena semua furniturnya terbuat dari kayu dan banyak hiasan bunga kecil yang sangat cantik.


"Bagus sekali tempat ini."


"Apa kamu menyukainya?"


"Suka sekali." Kedua mata Hazel berbinar melihat cafe itu.


"Kamu belum melihat ke dalam ruangannya." Orlaf mengajak Hazel masuk ke dalam cafe itu.


Hazel sekali lagi terkesima melihat tatanan di dalam cafe itu. "Wow! ini indah sekali. Apa ini cafe favoritmu?"


Orlaf tersenyum kecil. "Ini cafe milikku, aku sudah mendirikannya baru beberapa bulan."


"Kamu serius?" Hazel seolah tidak percaya.


"Tentu saja serius."


"Kamu benar-benar hebat bisa membuat cafe seindah ini."


Orlaf mengajak Hazel duduk dan dia memesankan makanan dan minuman yang menjadi pilihan terbaik di cafe itu.


Hazel masih mengedarkan pandangannya melihat sekeliling tempat itu.


"Aku yang mendesain semua ini. Aku juga yang memilih furniture yang ada di sini."


"Kamu benar-benar luar biasa, biasanya kebanyakan seorang pria malas untuk memikirkan hal seperti ini, tapi kamu malah pandai sekali."

__ADS_1


"Aku memang suka akan sesuatu yang dapat menciptakan keajaiban Hazel."


Makanan mereka pun datang. Orlaf menyuruh Hazel menikmati makanan di sana dan nanti Hazel harus memberi penilaiannya pada makanan di sana.


"1 sampai 10. Berapa Hazel?"


"100. Ini enak sekali, bahkan dia tempatku tidak ada makanan seenak ini."


"Aku mempunyai seorang chef orang Indonesia asli dan dia yang membuat semua masakan tradisional ini."


"Apa ini namanya?"


"Sate daging, dan ini soto ayam. Enak, kan? Aku juga sangat menyukainya. Di sini tidak hanya menyediakan makanan ringan atau yang berbau di luar negeri. Makanan tradisional juga ada. Pokoknya semua yang enak-enak karena aku sendiri suka makan."


"Kalau begitu hobi kita sama. Suka makan."


"Apa suka makan itu hobi, ya? Bukannya itu suatu keharusan untuk manusia yang masih hidup."


Hazel menggedikkan bahunya ke atas acuh, dan beberapa detik kemudian terdengar suara tawa mereka berdua.


Hazel tampak sangat senang sampai dia menghabiskan semua makanan yang tersedia di atas meja.


"Aku suka sekali melihat kamu makan seperti itu."


"Bilang saja kalau cara makanku menjijikan. Aku minta maaf karena aku paling tidak bisa menahan diri kalau melihat makanan yang sangat enak."


"Memangnya apa makanan kesukaanmu?"


"Sayur asam dan dadar jagung manis."


Hazel terdiam sejenak. "Apa itu enak, ya? Aku baru mendengar namanya."


"Enak dan terasa segar kalau kita memakannya."


"Kalau terasa segar bukannya minuman?"


"Kapan-kapan, mommy aku minta membuatkan masakan itu dan kamu harus mencobanya."


"Tentu saja, aku penasaran dengan makanan itu."


Tangan Orlaf tiba-tiba mengusap bibir Hazel dengan serbet makan secara perlahan


Hazel yang mendapat perlakuan itu seketika reflek menarik tubuhnya ke belakang.


"Ada sisa makanan di mulutmu, Hazel.


"Oh ... Terima kasih. Aku benar-benar ceroboh, makan saja sampai belepotan." Hazel mengambil segelas air Mineralnya.

__ADS_1


"Hazel, apa kamu punya kekasih di sana?"


Hazel seketika menyemburkan minumannya karena kaget.


"Hati-hati, Hazel." Orlaf mengambilkan lap untuk Hazel.


"Terima kasih, Orlaf." Hazel segera mengeringkan mejanya dan bajunya yang sedikit terkena air.


"Kamu kenapa? Memangnya pertanyaanku mengejutkan kamu?"


Hazel menggeleng. "Tidak mengejutkan sama sekali. Aku hanya reflek saja tadi."


"Kamu punya kekasih ya di sana?"


"Kekasih?" Hazel seketika teringat akan sosok Rhein yang masih ada di hatinya.


"Iya, kekasih. Gadis secantik kamu pasti banyak yang menyukainya."


"Tidak ada, Orlaf, aku sama sekali tidak pernah berpacaran."


"Kamu serius?" Hazel mengangguk. "Langka sekali gadis seperti kamu, apa lagi kamu tinggal di luar negeri yang kita tau sendiri bagaimana pergaulan di sana."


"Aku hanya memikirkan bagaimana agar hidupku bisa terpenuhi. Jadi, aku hanya memikirkan bekerja dan bekerja."


"Sekarang kamu tidak perlu bersusah payah memikirkan bagaimana dengan masa depanmu karena di sini kamu hanya akan mendapatkan kebahagiaan."


"Iya, semua ini karena keluarga kamu."


Orlaf melihat jarum jam yang ada di cafenya, dan dia terkejut ternyata sekarang sudah pukul sebelas malam.


"Hazel kita pulang sekarang, aku sampai lupa waktu, mengajak kamu pulang."


Hazel naik ke atas motor Orlaf dan mereka segera menuju ke rumah.


Sampai di rumah Orlaf melihat semua lampu sudah padam. "Hazel, jangan berisik ya, kita naik ke lantai atas dengan gerakan pelan-pelan agar tidak membangunkan Mommy dan Daddy."


"Kenapa harus mengendap-endap, Orlaf." Lampu seketika menyala dan wanita paruh baya yang cantik bernama Mommy Keiko itu sudah berdiri bersidekap melihat dengan mata tajam pada dua orang yang ada di depannya.


"Mommy? Kenapa Mommy belum tidur? Tidur malam itu tidak baik untuk kecantikan kulit, nanti kalau terlihat keriputan pada wajah Mommy bagaimana?"


"Jangan mencoba mengalihkan perhatian Mommy Orlaf. Mommy masih akan tetap cantik walaupun tidue tengah malam. Iya, kan, Hazel?"


Hazel tampak bingung, tapi dia mengiyakan saja dengan menganggukkan kepalanya.


"Jangan marah, Mommy. Bukannya aku sudah biasa pulang larut malam dan Mommy tidak pernah protes, kenapa sekarang protes begini?"


"Kalau kamu yang pulang malam sendirian, mommy tidak akan protes, tapi kamu mengajak putri mommy keluar dan pulang larut malam. Itu yang mommy tidak suka." Wanita itu menghela napasnya pelan.

__ADS_1


"Oh ... jadi karena aku membawa anak perempuan Mommy ini?" Orlaf melihat ke arah Hazel.


__ADS_2