Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Ingin Menjadi Milikmu


__ADS_3

Rhein tampak datar saja duduk di restoran bersama dua wanita yang malah asik melihat-lihat beberapa model kartu undangan lewat gambar yang dikirim pada ponsel mamanya Dinda.


"Dinda, setelah ini aku mau ke rumah sakit."


"Jangan ke rumah sakit. Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama hari ini karena aku ingin bisa mengenal kamu lebih dekat lagi, Rhein." Tangan gadis itu berada di atas tangan Rhein.


Rhein melihat datar pada gadis di depannya, kemudian dia melirik pada wanita paruh baya di sebelah Dinda.


"Kamu mau kita ke mana? Apa mau ke apartemenku?"


"Apartemen kamu?" Dinda melihat pada mamanya dan wanita itu seolah memberi kode dia mengizinkan.


"Ikut saja, nanti setelah menikah kalian juga akan tinggal di sana. Jadi, apa salahnya jika Dinda melihat lebih dulu tempat tinggalnya yang nanti akan dia tempati."


"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang saja. Dinda malah yang terlihat tidak sabar ingin pergi.


Rhein meminta izin dan mereka berdua pergi dari sana. Rhein tidak mengeluarkan sepatah katapun di dalam mobil. Dua sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Rhein, nanti kalau kita menikah, aku ingin berbulan madu ke Spanyol. Di sana kita bisa ke tempat romantis yang ingin aku kunjungi."


"Hm ...!" Rhein hanya menjawab dengan deheman.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak kenapa-napa," ucapnya malas.


Dinda mendekatkan wajahnya pada Rhein. "Aku tau kamu tidak semangat seperti ini karena kamu tegang memikirkan tentang pernikahan kita ini? Kamu tenang saja karena nanti akan aku buat kamu merasa lebih nyaman."


Rhein seketika menarik senyum miringnya dan dia kembali fokus pada kemudinya.


"Indah sekali ini Rhein." Kedua mata gadis itu mengedar ke seluruh ruangan. "Apa nanti kita akan tinggal di sini setelah menikah?"


"Terserah kamu. Kalau mau tinggal di sini atau di rumahku juga boleh, atau bahkan kamu mau aku bawa ke luar negeri dan kita menetap di sana."


Dinda tampak semakin berbinar mendengar hal itu. "Kita tinggal di sini saja." Kedua tangannya menggelayut pada leher Rhein dan gadis itu berjinjit kemudian mengecup bibir Rhein dengan lembut.

__ADS_1


Rhein dapat merasakan jika gadis yang menciumnya ini sudah sering melakukan hal seperti itu.


Rhein pun mengikuti apa yang gadis itu lakukan. Dia mendekatkan tubuh Dinda rapat pada tubuhnya dan dia mulai memainkan tangannya membuka baju Dinda hingga sekarang Rhein dapat melihat Dinda dengan bra cantiknya.


"Apa kamu tidak menyesal nantinya?" tanya Rhein.


"Tentu saja tidak. Bukankah aku sebentar lagi akan menjadi istrimu," ucapnya dengan manja.


Rhein senang karena dia sekali lagi tidak memaksa seorang gadis untuk menyerahkan diri padanya.


Rhein kemudian mengecupi leher Dinda dan sontak membuat Dinda bergetar senang dengan sentuhan yang Rhein berikan. Rhein itu sang pemain. Jadi, dia dengan mudah membuat seorang Dinda tidak akan bisa menolah pesonanya.


Rhein membawa Dinda di atas sofa panjang di sana, dan dia masih saja mengecupi Dinda.


Dinda sekarang seolah sudah terkena sihir Rhein. Dia melepaskan atasan Rhein dan sekali lagi dia terpesona melihat tubuh atletis Rhein.


Jemari Dinda menelusuri perlahan-lahan tubuh yang terdiri beberapa persegi. Selain itu juga Rhein memiliki kulit putih mulus.

__ADS_1


"Aku ingin menjadi milikmu, Rhein."


__ADS_2